Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi start-up.  Foto: Free-Photos (Pixabay)

Ilustrasi start-up. Foto: Free-Photos (Pixabay)

Grup Telkom bakal Miliki 'Unicorn'

Rabu, 20 Januari 2021 | 23:07 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – MDI Ventures, modal ventura milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom, menargetkan minimal dua portofolio investasi perusahaan rintisannya (start-up) menyandang gelar unicorn pada 2021-2022. Kenaikan valuasi start-up tersebut, salah satunya akan dipicu oleh masuknya investor baru.

Managing Partner MDI Ventures Singapore Kenneth Li mengatakan, perseroan berharap beberapa portofolio start-up memiliki valuasi lebih dari US$ 1 miliar dalam satu hingga dua tahun mendatang. Kehadiran investor baru pada start-up tersebut nantinya bisa disebut sebagai validasi dan apresiasi terhadap performa yang sangat baik selama 2020.

“Saat ini mereka masih dalam proses, jadi kita di bawah non-disclosure agreement (NDA), sehingga saya belum bisa sebut nama dan detail start-up tersebut,” kata dia kepada Investor Daily, Rabu (20/1).

MDI Ventures, kata Kenneth, telah memiliki lebih dari 50 portofolio start-up. Sepanjang 2021, perseroan akan fokus mengucurkan investasi kepada start-up potensial ketimbang mencari penggalangan dana investasi baru. Pasalnya, dana investasi kelolaan perseroan telah mencapai lebih Rp 10 triliun.

Sebagai informasi, MDI Ventures menyalurkan pendanaan bagi start-up di Indonesia menggunakan dana dari Telkom melalui Telkom Fund I senilai US$ 100 juta dan Telkom Fund II senilai US$ 500 juta. Lalu, ada pengelolaan dana investasi bernama Centauri Fund hasil kerja sama dengan KB Financial Group senilai US$ 150 juta.

Tak ketinggalan, kolaborasi dengan Telkomsel melalui TMI Fund senilai US$ 40 juta. Terakhir, aliansi dengan modal ventura asal Belanda, Finch Capital, melalui Arise Fund senilai US$ 40 juta.

Selain fokus investasi, MDI juga berencana membawa minimal empat portofolio investasi start-up untuk melangsungkan IPO saham dalam periode dua tahun ke depan. Aksi ini merupakan strategis exit perusahaan. Adapun satu start-up ditargetkan IPO pada kuartal I-2021.

Sebelumnya, Kenneth mengatakan, pihaknya telah berdiskusi dengan sejumlah penjamin emisi terkait rencana IPO salah satu portofolio start-up pada 2021. Pihaknya belum dapat menyebutkan nama start-up tersebut, namun dipastikan perusahaan itu bergerak dalam bisnis software as a service (SaaS).

“Kemungkinan start-up ini akan IPO sekitar akhir Februari atau Maret 2021. Kami targetkan saham mereka masuk ke papan utama, karena valuasinya bisa di atas Rp 750 miliar,” kata dia kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Kenneth menegaskan, saham start-up tersebut yang akan dilepas ke publik sekitar 20-25%. Sementara, dana IPO yang ditargetkan minimal Rp 100-150 miliar. Start-up ini tergolong menjanjikan karena sudah profitable selama lebih dari tiga tahun.

IPO Mitratel

Di sisi lain, Telkom menargetkan IPO saham anak usahanya, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel), pada akhir 2021 atau semester I-2022. Aksi korporasi ini akan membuat Mitratel menjadi perusahaan menara terbesar dari sisi aset yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Vice President Investor Relations Telkom Andi Setiawan mengatakan, saat ini perseroan masih dalam proses penunjukan konsultan untuk memuluskan IPO Mitratel. “Aksi ini tentunya akan memperhatikan kondisi pasar ke depan,” jelas dia kepada Investor Daily.

Saat ini, Mitratel tengah menggabungkan aset-aset menara telekomunikasi dengan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dalam rangka memperkuat aset Mitratel dan supaya Telkomsel menjadi lebih fokus ke bisnis intinya. Mitratel telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat untuk mengakuisisi 6.050 menara Telkomsel senilai Rp 10,3 triliun pada Oktober lalu.

Aksi tersebut akan melambungkan jumlah menara Mitratel menjadi 22.140 menara, melebihi aset PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) sebagai penguasa pasar. Saat ini, Sarana Menara melalui PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) mengelola 21.271 menara di seluruh Indonesia yang tersebar di 38.122 titik.

Selain menara telekomunikasi, Telkom juga terus menggejot ekspansinya. Apalagi, Telkomsel telah meraih tambahan spektrum 10 Mhz melalui lelang frekuensi 2,3 Ghz pada akhir tahun lalu. Tambahan spektrum tersebut akan dimanfaatkan untuk memperkuat layanan broadband terkini 4G LTE serta melanjutkan pengembangan implementasi jaringan terbaru 5G.

Menurut Andi, Telkom menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar 25% dari target pendapatan 2021. “Kami fokus memperkuat jaringan untuk menumbuhkan digital business baik di segmen fixed line maupun mobile,” ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN