Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
GMF. Foto: DAVID

GMF. Foto: DAVID

Hadapi Pandemi, GMF Diversifikasi Usaha

Selasa, 29 September 2020 | 07:21 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) atau GMF Aero Asia berencana mengembangkan bisnis di industri pertahanan dan non-aviasi Industrial Gas Turbine and Engine (IGTE) sebagai bentuk antisipasi terhadap dampak pandemi Covid-19. Perseroan menargetkan dua bisnis tersebut bisa berkontribusi hingga 20% terhadap pendapatan pada 2021.

Direktur Utama GMF Aero Asia I Wayan Susena mengatakan, selain perawatan pesawat komersial, perseroan mulai masuk ke bisnis lainnya. "Kami mulai masuk bisnis perawatan pesawat besar, seperti pesawat militer atau private jet," jelas dia dalam acara konferensi pers virtual di Jakarta, Senin (28/9).

Dia menyebutkan, perseroan saat ini sedang memproses beberapa kontrak terkait perawatan pesawat militer. Salah satunya adalah dengan TNI-Angkatan Udara untuk merawat beberapa pesawat militer mulai tahun 2021. "Banyak institusi yang sedang menjajaki kerjasama dengan kami seperti TNI AD, TNI AL dan TNI AU, namun kami fokus ke TNI AU," kata dia.

Director of Business and Base Operation GMF Aero Asia Andi Fahrurrozi menambahkan, perseroan mendapatkan kontrak untuk merawat delapan pesawat Hercules hingga tahun 2024. Sedangkan untuk pesawat jet, perseroan mendapatkan kontrak overhaul, yakni pemeliharaan dan perlindungan jet pribadi dan bisnis.

Lebih lanjut, di sektor IGTE, perseroan mendapatkan kontrak overhaul untuk turbin PLTA di Cirata dengan nilai di atas US$ 2 juta. Perseroan juga mendapat kontrak overhaul untuk pembangkit listrik lain di kawasan Belawan dengan nilai kontrak sekitar US$ 2 juta. "Kami juga mendapat kontrak untuk pemeliharaan generator milik PT Kereta Commuter Indonesia (KCI)," terang dia.

Wayan mengungkapkan, sampai saat ini, kontribusi dari bisnis industri non aviasi IGTE baru mencapai 1% terhadap pendapatan perseroan. Namun, kontribusi bisnis non aviasi IGTE dan industri pertahanan ditargetkan mencapai 20% pada 2021.

Selain mengembangkan bisnis non aviasi, perseroan juga akan menerapkan strategi lain untuk menyikapi penurunan bisnis akibat penyebaran virus corona. Strategi ini dibagi dalam tiga tahap.

Wayan mengatakan, perseroan akan melakukan strategi jangka pendek dengan mengelola likuiditas dan arus kas GMF Aero Asia. “Kami melakukan renegosiasi dengan pelanggan terkait pricing dan terms of payment, serta melakukan percepatan proses penagihan untuk pekerjaan yang sudah selesai”, ujar dua. 

Perseroan juga menunda pengeluaran belanja modal atau capital expenditure (capex) pada proyek-proyek pengembangan dan melakukan restrukturisasi utang dengan kreditur. Sementara di jangka waktu menengah, perseroan akan melakukan diversifikasi bisnis. Hal ini dilakukan untuk mengoptimalisasi pendapatan. 

Dalam jangka panjang, perseroan akan melakukan konsolidasi global guna mempercepat proses pemulihan bisnis. Perseroan berencana melakukan horizontal alignment dengan partner -partner, baik itu pelaku industri maintenancerepair and overhaul (MRO) dalam negeri, institusi pertahanan, dan pelaku industri sejenis untuk memperkuat ketahanan ekosistem dunia aviasi. “Untuk pemulihan bisnis, kami perlu berkolaborasi, untuk saling dukung dan membangun kekuatan bersama," jelas dia.

Wayan mengungkapkan, waktu pemulihan bisnis ini sangat bergantung oleh banyak faktor. Adapun faktor tersebut, yakni laju penyebaran virus, durasi waktu pengembangan vaksin, kecepatan pemulihan negara-negara di dunia, dan kebijakan pembatasan pergerakan antar negara. "Di tengah kondisi penularan yang masih tinggi serta resesi ekonomi global, industri MRO diperkirakan baru dapat pulih pada tahun 2023," jelas dia.

Paling Terdampak

Pandemi Covid-19 ini, lanjut Wayan, juga telah berdampak signifikan terhadap industri MRO. Secara global, bisnis industri MRO akan menurun hingga 40% sepanjang tahun 2020.  

Turbulensi di industri aviasi global ini juga memengaruhi kinerja keuangan perusahaan selama semester I-2020. Pendapatan GMFI mengalami penurunan sebesar 35% dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Perseroan pun harus menanggung rugi US$ 99,34 juta di periode yang sama.

Menurut Wayan, penurunan ini dipengaruhi oleh turunnya pendapatan berbasis flight hours dan penundaan jadwal perawatan akibat operasi pesawat udara yang tidak optimal. Selain itu, penurunan kinerja perseroan juga disebabkan oleh penyerapan customer internasional akibat pembatasan akses masuk dari dan ke luar negeri sebagai dampak pandemi Covid-19.

Memasuki semester II-2020, maskapai penerbangan mulai kembali meningkatkan operasionalnya seiring dengan pelonggaran pembatasan pergerakan di berbagai wilayah dunia. Tren ini juga berdampak positif terhadap peningkatan operasional MRO.  “Semoga perbaikan ini akan terus menunjukkan grafik yang baik, perlahan namun pasti," ungkap Wayan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN