Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang trader beristirahat saat sesi rehat di bursa saham di Frankfurt, Jerman.  Foto ilustrasi: AFP

Seorang trader beristirahat saat sesi rehat di bursa saham di Frankfurt, Jerman. Foto ilustrasi: AFP

Hans Kwee: Pasar Masih Mewaspadai Wabah Virus Corona

Fajar Widhiyanto, Sabtu, 15 Februari 2020 | 14:55 WIB

Kondisi pasar di awal pekan sempat mengalami penguatan setelah Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan tambahan khasus baru virus Corona dengan tren melambat. Tambahan kasus ini merupakan tambahan terendah sejak akhir Januari.

Situasi ini menimbulkan optimisme bahwa penyebaran virus Corona sudah mulai mampu diatasi. Selain itu otoritas Tongkok juga mengambil berbagai langkah kebijakan untuk menahan penurunan ekonomi negara akibat virus Corona. Pabrik-pabrik mulai dibuka kembali kendati banyak yang masih menunda operasi akibat wabah.

Seperti diberitakan, Tiongkok telah mengkonfirmasi terjadi 15.152 kasus baru dan 254 kematian tambahan. Hal ini membuat total korban meninggal menjadi 1.367, dan jumlah orang yang terinfeksi naik hampir 60.000 kasus. Jumlah kasus baru bisa meningkat banyak karena Otoritas kesehatan di Provinsi Hubei telah mengubah metode pelaporan kasus. Hal ini membuat kekawatiran kembali memuncak di bursa global dan regional.

Di kesempatan berbeda, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan, jenis virus Corona yang baru ini "jelas lebih berdampak" pada ekonomi dunia ketimbang epidemi SARS 2002-2003.

Dampak ekonomi virus Corona sangat besar terhadap ekonomi global karena Tiongkok punya berkontribusi 17% terhadap ekonomi global. Pada kasus wabah SARS tahun 2002-2003, ekonomi Tiongkok hanya berkontribusi sekitar 4% terhadap ekonomi global, atau telah terjadi kenaikan empat kali lipat lebih.

Peneliti yang bekerja untuk pemerintah Negeri Tirai Bambu ini menyatakan, wabah virus Corona diperkirakaan dapat mengurangi 1 persentase tingkat pertumbuhan ekonomi negara China di tahun 2020.

Sementara S&P Global Ratings telah menurunkan perkiraan pertumbuhan China di tahun 2020 dari sebelumnya 5,7% menjadi 5% akibat wabah virus korona. “Dampak ekonomi dari virus korona akan sangat diperhatikan pelaku pasar dan menjadi tekanan bagi pasar keuangan dunia bila wabah korona belum dapat ditanggulangi. Meningat cukup banyak produk yang Indonesia beli dari China maka dampak Virus Corona akan punya pengaruh pada perekonomian kita,” ujar Hans Kwee, Direktur PT Anugerah Mega Investama di Jakarta (15/2)

Berdasarkan pernyataan penasihat kesehatan China bahwa wabah virus Corona diperkirakan akan segera mencapai puncaknya dan diperkirakan akan berakhir April, Hans Kwee menyebut di periode itulah pasar keuangan dunia kembali akan menguat.

Sempat menunjukan tren tersebut di awal pekan, tetapi perubahan metode perhitungan telah merubah tren tersebut. Pernyataan WHO yang mengkawatirkan jumlah kasus virus Corona di luar China mungkin merupakan fenomena "puncak gunung es" juga menjadi perhatian pasar. Sehingga penanggulangan perlu dilakukan di seluruh dunia sehingga tidak mengurangi aktifitas ekonomi.

Data menunjukan sekitar 77% emiten dalam Indeks S&P 500 telah melaporkan kinerja keuangan. Dari data itu sebanyak 72% memberikan kinerja lebih baik dari perkiraan para analis. Hal ini menjadi sentiment positif bagi pasar, ujar Hans Kwee.

Dari dalam negeri pekan ini pasar juga terpengaruh oleh berita simpang siur terkait permintaan roll over oleh beberapa perusahaan asuransi. Beberapa tulisan menunjukan permintaan perusahaan kepada pihak pemasar agar nasabah melakukan roll over selama 6 bulan ke depan dan tidak dapat melakukan pencairan dana kendati sudah jatuh tempo.

Beberapa alasan dikemukakan, salah satunya kekhawatiran soal rush oleh nasabah. Tetapi berita ini sudah dibantah oleh pihak perusahaan terkait. “Kami menilai para pelaku pasar khususnya nasabah perusahaan asuransi terkait sebaiknya tetap tenang karena aksi rush serentak dan besar akan menimbulkan masalah,” kata Hans.

Rush tentunya bisa membawa masalah termasuk pada perusahaan finansial yang sehat. Bila terjadi rush perusahan terpaksa menjual aset atau surat berharga dalam portofolio dengan cepat. Dan bila ini terjadi pada kondisi pasar yang tidak baik atau kondusif seperti sekarang ini, akan menyebabkan penurunan harga aset atau surat berharga yang dijual. Dan ini menimbulkan kerugian bagi perusahaan, serta nasabah dan industri keuangan. 

Data penyebaran virus korona belum mengkonfirmasi puncak dari kasus yang terjadi, tetapi Hans menilai pasar pada pekan depan akan rebound mengingat penurunan yang hampir terjadi setiap hari di bursa kita selama sepekan ini dan pasar global mulai memberikan tanda-tanda kenaikan.

Hans Kwee pun rekomendasikan agar investor melakukan pembelian ketika pasar melemah seperti sekarang ini. “Area support IHSG adalah di level 5843 sampai 5767, dan resistnace di level 5929 sampai 6013,” ujarnya.

 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA