Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Citra Maja Raya 1 merupakan proyek kerjasama antara Hanson (melalui PT Armidian Karyatama dan PT Harvest Time) dengan Ciputra Group dengan luas lahan 430 ha. FOTO: Hanson International

Citra Maja Raya 1 merupakan proyek kerjasama antara Hanson (melalui PT Armidian Karyatama dan PT Harvest Time) dengan Ciputra Group dengan luas lahan 430 ha. FOTO: Hanson International

Hanson Tawarkan Saham kepada Pemegang Surat Utang

Farid Firdaus, Jumat, 21 Februari 2020 | 10:00 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Hanson International Tbk (MYRX) menawarkan opsi pelunasan utang kepada para pemegang surat utang jangka menengah atau short term borrowing (STB) perseroan dengan skema konversi saham atau debt to equity swap.

Berdasarkan surat manajemen Hanson International tanggal 19 Februari 2020, manajemen menetapkan perubahan penyelesaian utang kepada seluruh kreditur individu atau pemegang STB perseroan. Semula, perseroan berencana membayar kewajibannya melalui opsi asset settlement. Namun, skema tersebut tidak dimungkinkan saat ini karena sejumlah alasan.

Sekretaris Perusahaan Hanson International Rony Agung Suseno mengatakan, opsi asset settlement tidak dimungkinkan lantaran tanah-tanah yang belum terinventarisasi dengan baik, sementara sebagian ada yang disita oleh Kejaksaan Agung.

Selanjutnya, terdapat proses serah terima yang diperkirakan memakan waktu selama tiga hingga lima tahun. Selain itu, harga tanah dan kavling dirasa kurang menguntungkan pihak kreditur. “Dengan ini, kami informasikan kepada pemilik STB bawah opsi terbaik yang dapat ditawarkan oleh perseroan saat ini adalah penyelesaian utang melalui konversi utang menjadi saham,” tulis dia, Kamis (20/2).

Menurut Rony, skema ini dimungkinkan dengan merujuk kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) tentang Penambahan Modal Perusahaan Terbuka dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Selain itu, skema konversi juga mengikuti peraturan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait harga teoritis.

Saat ini, lanjut dia, harga saham perseroan berada pada titik terendah, yaitu Rp 50 per saham. Sehingga, menurut manajemen, hal tersebut adil karena harga saham tidak akan turun lagi. Jika semua STB terkonversi menjadi saham, maka posisi keuangan perseroan diharapkan membaik dan rasio utang terhadap modal bisa lebih rendah.

“Dengan demikian, perseroan menjadi lebih sehat dan kemungkinan harga saham bisa naik dan capital gain diharapkan didapat oleh pemegang saham baru tersebut,” kata Roy.

Sebagai informasi, harga saham MYRX berangsur-angsur menyentuh level Rp 50 per saham sejak November 2019. Tercatat, saham MYRX sempat berada pada level Rp 80 per saham pada 5 November 2019, dan parker di level Rp 50 pada 7 November 2019.

Penurunan ini terjadi setelah Satgas Waspada Investasi bentukan OJK menghentikan kegiatan pinjaman jangka pendek yang dilakukan  perseroan dengan pihak individual. Perseroan juga diwajibkan membayarkan kewajibannya kepada seluruh pemegang dana sesuai dengan jatuh tempo.

Setelah mendapatkan peringkatan tersebut, manajemen Hanson memberikan klarifikasi, jika kegiatan pinjam meminjam dengan para individu tersebut bersifat jangka pendek karena didasarkan pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), yang mana utang piutang tersebut telah dicatatkan pada laporan keuangan.

Berdasarkan keterbukaan informasi 5 November 2019, total pinjaman jangka pendek perseroan kepada peminjam individual sebesar Rp 2,66 triliun yang berasal dari 1.845 pihak. Nilai tersebut berasal dari nilai pokok pinjaman senilai Rp 2,53 triliun dan bunga pinjaman Rp 131,12 miliar. Bunga pinjaman perseroan berkisar antara 9%-12,5%. Sementara periode jatuh tempo berkisar antara Oktober 2019-Oktober 2020.

Lebih lanjut, pada keterbukaan informasi 23 Januari 2020, manajemen menjelaskan, opsi asset settlement ditawarkan kepada pemegang STB adalah aset berupa rumah yang berlokasi di Komplek Citra Maja Raya yang diberi nama New Maja Raya. Ketika itu, manajemen membenarkan ada sejumlah pemegang STB yang menolak opsi penyelesaian utang melalui asset settlement.

Manajemen Hanson menegaskan, perumahan New Maja Raya merupakan perumahan kelas menengah dan nantinya akan dibangun dengan kualitas material bangunan yang lebih bagus daripada Citra Maja Raya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN