Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Hanya 6 Emiten Belum Penuhi Batas Ketentuan Free Float

Jumat, 30 Oktober 2020 | 13:29 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyiapkan peraturan baru mengenai insentif bagi emiten yang menambah porsi saham beredar di publik (free float). Insentif yang disiapkan otoritas bursa di antaranya potongan biaya pencatatan saham tahunan (unnual listing fee) dan usulan pemotongan pajak. Beleid baru ini ditujukan untuk meningkatkan likuiditas pasar saham domestik.  

Ketentuan saham free float
Ketentuan saham free float

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, jumlah emiten yang belum memenuhi batas ketentuan free float diperkirakan tidak lebih dari enam perusahaaan. BEI sudah mendorong para emiten tersebut untuk meningkatkan saham free float-nya. Para emiten juga sudah menyampaikan rencana aksi korporasi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

“Pasar bergerak dinamis, sehingga mereka butuh waktu untuk bisa memenuhi batas free float. Dalam rancangan peraturan baru nanti, yang kami tuju adalah kualitas free float. Kami merujuk kepada pengembangan di bursa efek negara lain,” ujar dia.

I Gede Nyoman Yetna
I Gede Nyoman Yetna

Secara terpisah, pengamat pasar modal yang juga Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat mengemukakan, BEI sebaiknya meningkatkan batas minimun free float dari saat ini 7,5% menjadi 10-15%.

Alasannya, saat ini, banyak saham emiten berfundamental bagus yang free float-nya sudah sesuai ketentuan minimal, namun berpotensi diminati investor jika free floatnya bertambah.

“Contohnya PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), yang 92% sahamnya dikuasai PT Bank Danamon Tbk (BDMN), dan sisanya 7,9% publik. Adira punya fundamental cukup baik, tapi sahamnya masih kurang likuid,” papar Teguh kepada Investor Daily.

Perkembangan IHSG, perkembangan market cap IHSG, jumlah perusahaan tercatat
Perkembangan IHSG, perkembangan market cap IHSG, jumlah perusahaan tercatat

Menurut Teguh, para pengendali emiten yang saham beredarnya tidak lebih dari 7,5% atau kurang dari batas tersebut cenderung tak terlalu peduli terhadap pergerakan ataupun volatilitas saham yang dikendalikannya. Mereka biasanya sudah puas dengan dividen yang diperoleh setiap tahun.

Teguh mengatakan, salah satu aksi penambahan free float yang bisa menjadi contoh baik karena diminati investor dan mampu menggerakkan pasar saham adalah PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). HM Sampoerna menggelar aksi penerbitan saham baru melalui skema rights issue dengan nilai Rp 20,7 triliun pada 2015 demi menambah saham beredar dari hanya 1,8% menjadi 7,6%. Ketika itu, saham baru HMSP diserbu investor domestik dan luar negeri.(az)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN