Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kilang LPG PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA)_HiresPabrik PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA). Foto: IST

Kilang LPG PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA)_HiresPabrik PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA). Foto: IST

Harga Amonia Pulih, ESSA Raih Pendapatan US$ 68,5 Juta di Kuartal I

Jumat, 23 April 2021 | 08:15 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) membukukan pendapatan sebesar US$ 68,5 juta pada kuartal pertama 2021. Jumlah tersebut meningkat 8,86% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2020 lalu yakni US$ 62,9 juta.

Presiden Direktur Surya Esa Perkasa Vinod Laroya mengatakan, pertumbuhan pendapatan ini sejalan dengan pulihnya harga Amonia sejak Januari 2021. Pada periode ini, segmen penjualan Amonia menyumbang hingga 86% dari total pendapatan perseroan. Diikuti oleh segmen LPG sebesar 14%.

“Kenaikan harga Amonia tersebut didorong oleh hambatan pasokan serta karena sektornya memasuki masa awal pemulihan permintaan. Kedepanya perseroan akan terus meningkatkan kinerjanya seiring dengan pemulihan harga dan permintaan di pasar global,” jelasnya dalam keterangan resmi, Jumat (23/2).

Pabrik Amonia PAU di Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah, Indonesia. Foto: IST
Pabrik Amonia PAU di Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah, Indonesia. Foto: IST

Pertumbuhan ini, sesuai dengan proyeksi dari perseroan yang mengatakan akan adanya pemulihan permintaan di tahun 2021 yang sebelumnya sempat menurun pada tahun 2020 akibat tekanan pandemi. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi per 31 Desember 2020, Surya Esa Perkasa membukukan pendapatan US$ 175,5 juta, turun 21% dan rugi bersih US$ 33,6 juta tahun lalu.

Hal tersebut disebabkan oleh produksi LPG yang turun 17,9% menjadi sebesar 61.448 metrik ton (MT) dari tahun 2019 sebanyak 74.871 MT. Produksi kondensat 139.961 barel, juga turun 15,1% dari 164.948 barel tahun 2019.

Vinod melanjutkan, pulihnya permintaan ini belum mempertimbangkan peran Amonia sebagai alternatif bahan bakar masa depan karena kandungan hidrogennya yang tinggi, nol emisi CO2 pada saat pembakaran, serta pengiriman logistik yang dapat diandalkan. Sebab itu, perseroan melihat momentum ini sebagai peluang untuk menambah permintaan Amonia dengan mengembangkan produk yang bernama Amonia Biru.

“Amonia Biru saat ini memperlihatkan prospek yang cukup signifikan, hal itu menjadi alasn kami  melakukan kerjasama dengan Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (JOGMEC), Mitsubishi Corporation (MC), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang Pengumpulan, Pemanfaatan dan Penyimpanan Karbon (Carbon Capture, Utilization & Storage /CCUS) untuk produksi Amonia Biru di Indonesia di Pabrik Amonia di Banggai, Sulawesi Tengah,” ujarnya.

Dalam MoU yang dilakukan pada Maret lalu tersebut, mereka akan mengembangkan produksi amonia rendah karbon sekaligus menegaskan komitmen perseroan dalam menciptakan masa depan berkelanjutan sambil memperluas jangkauan pasar amonia saat ini.

Adapun sebelumnya, belum lama ini Surya Esa Perkasa umumkan keberhasilan dalam refinancing fasilitas pinjaman berjangka panjang di anak usahanya yakni PT Panca Amara Utama (PAU) sebanyak US$ 495 juta.

Pemberian fasilitas tersebut diatur oleh sebuah sindikasi yang terdiri atas bank lokal dan internasional. Fasilitas baru ini memungkinkan PAU untuk memiliki struktur keuangan yang lebih ramping dan solid serta membebaskan utang di level induk perusahaan.

“Kami bangga dapat mengumumkan keberhasilan refinancing atas kewajiban jangka panjang di PAU melalui fasilitas baru ini. Fasilitas pinjaman baru ini akan memperkuat posisi keuangan Perusahaan terutama di masa-masa yang penuh ketidakpastian,” pungkasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN