Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Panenan sawit. Foto: BeritaSatu Photo/DEFRIZAL

Panenan sawit. Foto: BeritaSatu Photo/DEFRIZAL

Harga CPO Anjlok Hingga di Bawah 4.500 Ringgit Malaysia Per Ton

Kamis, 23 Juni 2022 | 06:15 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives anjlok dalam enam hari berturut-turut, hingga berada di bawah 4.500 Ringgit Malaysia per ton pada Rabu (22/6/2022). Hal ini menyusul kontrak pengiriman September 2022 menurun 481 Ringgit Malaysia menjadi 4.499 Ringgit Malaysia per ton. Pelemahan tersebut merupakan level terendah tahun ini. 

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Rabu (22/6/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Juli 2022 turun 522 Ringgit Malaysia menjadi 4.688 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Agustus 2022 naik 499 Ringgit Malaysia menjadi 4.566 Ringgit Malaysia per ton.

Advertisement

Sementara itu, kontrak pengiriman September 2022 menurun 481 Ringgit Malaysia menjadi 4.499 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Oktober 2022 terjatuh 471 Ringgit Malaysia menjadi 4.469 Ringgit Malaysia per ton. Serta, kontrak pengiriman November 2022 terpeleset 467 Ringgit Malaysia menjadi 4.477 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Desember 2022 jatuh 458 Ringgit Malaysia menjadi 4.518 Ringgit Malaysia per ton.

Baca juga: Keran Ekspor CPO Dibuka, Sawit Sumbermas Optimistis Penjualan Terdongkrak

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, harga CPO masih berada dalam tren bearish. Hal ini karena harga CPO bakal dipengaruhi oleh penurunan permintaan negara importir utama dan peningkatan pasokan CPO Indonesia ke pasar global. Penurunan permintaan importir dunia telah terjadi sejak pekan lalu.

"Hal ini terlihat dari sinyal potensi pengurangan permintaan dari India selaku importir CPO terbesar pertama dunia, dilihat dari adanya peralihan pembelian dari CPO ke minyak nabati," ungkap Yoga kepada Investor Daily, belum lama ini.

Selain itu, ancaman dari penyebaran kembali wabah Covid-19 di Tiongkok juga turut membebani dari sisi permintaan CPO. Hal ini mengingat Tiongkok merupakan negara importir CPO terbesar kedua dunia.

Baca juga: Keran Ekspor CPO Dibuka, Potensi IPO Perusahaan Sawit Dinilai Makin Besar

“Jika terus berlanjut ke fase lockdown kembali, maka sangat besar kemungkinan akan membuat permintaan dari Tiongkok menurun. Dengan mempertimbangkan posisi Tiongkok selaku negara importir CPO terbesar kedua dunia, maka akan berimbas juga pada pelemahan harga CPO,” papar Yoga. 

Selain itu, lanjut Yoga, peningkatan pasokan CPO Indonesia ke pasar global juga akan menjadi penyebab harga CPO masih akan bertahan pada tren bearish. Hal ini dapat terlihat dari perilisan izin eksportir CPO Indonesia. Alhasil, memicu kekhawatiran akan pasokan berlebih di pasar. Belum lagi, perkembangan situasi di Malaysia terutama terkait tenaga kerja serta data ekspor.

"Tidak hanya itu, pergerakan harga CPO juga akan dipengaruhi oleh harga minyak nabati global. Salah satunya minyak kedelai," tutupnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN