Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
CPO-sawit

CPO-sawit

Harga CPO Reli Tiga Hari Berturut-turut

Rabu, 25 Mei 2022 | 05:42 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives reli tiga hari berturut-turut. Setelah pada penutupan Selasa (24/5/2022) harga CPO kembali ditutup naik.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Selasa (24/5/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Juni 2022 naik 220 Ringgit Malaysia menjadi 7.054 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Juli 2022 terkerek 263 Ringgit Malaysia menjadi 6.762 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman Agustus 2022 terkerek 221 Ringgit Malaysia menjadi 6.482 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman September 2022 menanjak 169 Ringgit Malaysia menjadi 6.311 Ringgit Malaysia per ton. Serta, kontrak pengiriman Oktober 2022 terdongkrak 134 Ringgit Malaysia menjadi 6.204 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman November 2022 naik 117 Ringgit Malaysia menjadi 6.151 Ringgit Malaysia per ton.

Baca juga: Intip Praktik Ajinomoto Indonesia Dalam Sirkular Ekonomi

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, harga CPO akan melanjutkan penguataan pada pekan ini. Hal ini diperkirakan akibat pelaku pasar di global masih pada posisi ‘wait and See’ atas relaksasi kebijakan ekspor Indonesia. “Ini karena kebijakan di Indonesia yang acapkali sukar diprediksi. Indikator lainnya adalah rilis data ekspor CPO Malaysia sebagai gambaran untuk melihat permintaan CPO di pasar global,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, belum lama ini.

Yoga mengatakan, aturan DMO dan DPO pada dasarnya bertujuan untuk memastikan ketersediaan pasokan dalam negeri serta harga yang terjangkau bagi masyarakat. Meski demikian, poin lain yang tidak kalah penting adalah pemerintah perlu memperhatikan bahwa saat penerapan DMO dan DPO ini tidak akan sampai berdampak negatif pada harga TBS di sisi petani.

Baca juga: Jet Commerce Gandeng UPFOS Dorong Efisiensi Operasional Bisnis E-Commerce

Namun, lanjut dia, untuk saat ini potensinya tidak dalam waktu dekat, karena dari sisi pembeli tentunya masih ada kekhawatiran country risk akan adanya perubahan kebijakan kembali sewaktu-waktu, sehingga dalam waktu dekat ini lebih ke arah ‘wait and see’ dan laju ekspor tidak akan terlalu melonjak signifikan.

Menurut Yoga, tidak hanya di Indonesia, perubahan kebijakan yang sangat cepat berubah tentu akan berdampak pada peningkatan ‘country risk’ di negara terkait. Imbasnya sendiri lebih ke arah negatif karena akan mengurangi rasa kepercayaan dari negara importir. Namun, dalam kasus tertentu perubahan ini terpaksa harus dilakukan, termasuk untuk kasus CPO ini.

“Sebab, jika tidak dilakukan pelarangan ekspor, maka dikhawatiran kondisi kelangkaan minyak goreng masih akan terus terlanjut, dimana hal ini tentu akan menciptakan masalah yang lebih pelik,” tutup Yoga.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN