Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
IST

IST

Harga Komoditas Energi di Tahun 2022 Diprediksi Masih Sexy

Selasa, 25 Januari 2022 | 13:41 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id - Harga komoditas diproyeksikan tahun ini masih akan terus mengalami kenaikan. Kendati demikian, tahun ini akan terdapat koreksi harga mengingat sejumlah kondisi seperti perkembangan krisis energi karena musim dingin di Eropa, perkembangan kasus Covid-19 yang memberikan efek pada sektor transportasi dan travel, serta pergantian musim yang juga memberikan pengaruh pada sektor pertanian.

“Komoditas energi pada tahun 2022 cenderung masih akan menguat. Komoditas energi sendiri pada 2021 lalu menunjukkan tren kenaikan harga, dengan harga rata-rata tertinggi minyak mentah di atas US$ 80 per barel, tertinggi dalam 7 tahun, gas alam di atas US$ 5 per mmbtu, tertinggi dalam 7 tahun, dan batubara hampir US$ 225 per ton, tertinggi lebih dari 10 tahun,” jelas Research and Development ICDX Girta Yoga dalam commodity outlook ICDX Group Research, Selasa (25/1).

Baca juga: Peningkatan Tensi Geopolitik di Ukraina Angkat Harga Emas ke US$ 1.843,26 

Namun, secara umum, terdapat beberapa faktor terkait tren dan koreksi komoditas di tahun 2022. Pergerakan harga komoditas akan saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Misalnya minyak bumi, faktornya sangat banyak. Untuk melihat tren minyak bumi, dapat melihat perkembangan kondisi energi di Eropa. Saat ini wilayah Eropa sedang mengalami musim dingin, sehingga angka permintaan minyak bumi masih tinggi. Namun, seiring dengan perubahan musim yang diperkirakan akan terjadi di bulan Maret, maka kemungkinan akan terjadi penurunan permintaan, yang dapat menyebabkan koreksi harga.

Selain itu, secara umum, perdagangan komoditi 2022 secara global juga masih akan dipengaruhi oleh perkembangan Covid-19. “Dampak Covid-19 terhadap perdagangan komoditi, yaitu terkait dengan para pekerja dari komoditas tersebut. Contohnya, ketika terjadi outbreak, lalu diberlakukan pembatasan-pembatasan yang kemudian akan berdampak pada pengurangan pekerja, sehingga kegiatan produksi menurun ataupun gangguan distribusi. Hal tersebut yang kemudian akan mempengaruhi harga komoditas,” kata Vice President of Research and Development ICDX Isa Djohari.

Baca juga: Sahamnya Masih Layak Dikoleksi, Meski Harga Jual Batubara Cenderung Turun di 2022

Sebagai bursa komoditi, ICDX menurutnya terus berupaya untuk meningkatkan transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi salah satunya dengan meluncurkan kontrak baru. Pada 2021 lalu, ICDX telah mendapatkan persetujuan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) untuk mengeluarkan kontrak produk karet yang direncanakan akan launching pada 2022. Kontrak karet yang nantinya akan ditransaksikan adalah produk turunan dari karet alam, yaitu SIR 20. Dari sisi harga, komoditi karet ini akan banyak dipengaruhi oleh minyak bumi.

“Jika harga minyak bumi tinggi, maka harga karet sintetis akan naik. Namun di sisi lain, karena 70% produksi karet dunia digunakan untuk manufaktur ban kendaraan, maka dari itu apabila terjadi penurunan produksi di sektor otomotif juga akan mempengaruhi harga karet,” tambah Isa.

 

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN