Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pompa angguk di sumur minyak mentah. ( Foto ilustrasi: AFP/File / Karen Bleier )

Pompa angguk di sumur minyak mentah. ( Foto ilustrasi: AFP/File / Karen Bleier )

Harga Minyak Turun Tipis Pasca Setelah Kesepakatan Dagang AS-Tiongkok

Gora Kunjana, Kamis, 16 Januari 2020 | 08:04 WIB

NEW York, investor.id - Harga minyak turun sedikit pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), tertekan oleh data yang menunjukkan peningkatan besar dalam produk-produk olahan AS tetapi memulihkan beberapa kerugiannya kemudian menyusul penandatanganan perjanjian perdagangan Fase 1 antara Washington dan Beijing.

Minyak mentah berjangka Brent kehilangan 49 sen atau 0,8% menjadi menetap di US$ 64 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) berakhir 42 sen atau 0,7% lebih rendah pada US$ 57,81 per barel.

"Dorongan bullish yang kami perkirakan dari laporan EIA mingguan hari ini gagal berkembang dan sebagai akibat, harga minyak tampak menuju level yang lebih rendah daripada yang kami perkirakan meskipun terjadi pemulihan di akhir sesi," Jim Ritterbusch, presiden perusahaan penasihat perdagangan Ritterbusch and Associates, mengatakan dalam sebuah catatan.

Di bawah perjanjian perdagangan Fase 1, Tiongkok akan membeli US$ 18,5 miliar lebih banyak dalam produk-produk energi AS di tahun pertama dan US$ 33,9 miliar di tahun kedua.

Namun, para pedagang komoditas dan analis tetap berhati-hati -- berusaha keras untuk memetakan bagaimana Tiongkok akan mencapai jumlah yang menakjubkan yang menjadi komitmennya untuk dibeli dari Amerika Serikat.

Trump mengatakan ia akan menghapus semua tarif AS pada impor Tiongkok segera setelah kedua negara menyelesaikan Fase 2 dari perjanjian perdagangan mereka, menambahkan ia tidak berharap akan ada pakta Fase 3.

Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago, mengatakan harga memangkas kerugian awal karena "optimisme seputar kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok dan harapan bahwa permintaan minyak akan terus menjadi kuat."

Sebelumnya, harga minyak turun ke level terendah dalam lebih dari sebulan setelah pemerintah AS melaporkan kenaikan besar dalam persediaan bensin dan produk sulingan serta rekor produksi minyak mentah.

Stok bensin AS pekan lalu naik ke level tertinggi sejak Februari, sementara persediaan produk sulingan melonjak ke level tertinggi sejak September 2017, menurut Badan Informasi Energi AS (EIA).

"Saya pikir mereka mampu melihat melampaui penumpukan (stok) bensin dan produk penyulingan, menyadari bahwa itu mungkin akan bekerja dengan sendirinya dalam beberapa minggu ke depan," kata Flynn.

Laporan EIA juga menunjukkan produksi minyak mentah untuk pekan yang berakhir 10 Januari naik menjadi 13 juta barel per hari (bph) dan penarikan persediaan minyak mentah jauh lebih besar dari perkiraan.

Kedua acuan harga minyak itu juga terpukul oleh laporan dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang mengatakan bahwa kelompok produsen tersebut memperkirakan permintaan minyak yang lebih rendah pada 2020 bahkan ketika permintaan global meningkat, saat produsen saingan meraih pangsa pasar. Produksi di Amerika Serikat diperkirakan akan menyentuh rekor lain pada 2020.

"Berlanjutnya kebijakan moneter akomodatif, ditambah dengan peningkatan di pasar keuangan, dapat memberikan dukungan lebih lanjut untuk peningkatan berkelanjutan dalam pasokan non-OPEC," kata OPEC.

OPEC dan beberapa sekutu non-OPEC seperti Rusia telah menghentikan produksi untuk mencegah kelebihan pasokan minyak dan mendukung harga minyak di atas US$ 60 per barel. Kesepakatan mereka saat ini berakhir pada Maret. 

Sumber : ANTARA

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA