Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Artos

Bank Artos

Harga Saham Bank Artos Melonjak, Investor Perlu Waspada

Parluhutan Situmorang, Senin, 18 November 2019 | 08:18 WIB

JAKARTA, investor.id – Saham sektor perbankan menunjukkan pergerakan positif pada akhir pekan lalu. Namun yang menarik adalah berlanjutnya lonjakan harga saham PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO) kesekian kalinya.

Berdsasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham ARTO sempat melonjak hingga 25%, meski akhir ditutup naik 9,26% menjadi Rp2.950 per saham. Terhitung sejak awal tahun hingga penutupan akhir pekan lalu, saham ARTO telah mencetak rekor kenaikan hingga 1.469%.

Lonjakan harga tersebut ditopang sentimen merger dan akuisisi. Bankir senior Jerry Ng dan pengusaha Patrick Walujo berkongsi mencaplok 51% saham Bank Artos. Disebutkan pasca akuisisi, Bank Artos nantinya dibawa menjadi bank digital yang melayani segmen menengah dan mass market menggunakan teknologi.

Menanggapi lonjakan harga tersebut, Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, investor sebaiknya mencermati saham ini dan bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan dengan tidak mengikuti rumor. Pasalnya, saat ini harga saham ARTO sudah tidak mencerminkan fundamental.”Hati-hati dengan saham yang bergerak kencang karena rumors. Itu mengandung risiko,” katanya kepada wartawan akhir pekan kemarin.

Sejumlah hal yang perlu diperhatikan investor terkait kenaikan harga saham tersebut, menurut dia, harus bisa melihat fundamental emiten tersebut. Artinya, secara kuantitatif investor harus mempertimbangkan kinerja perusahaan, antara lain price book value (PBV) ratio dan price earning (PER) ratio sebuah perusahaan.

“Secara kualitatif, investor juga perlu melihat siapa pengurus perusahaan atau bagaimana management dan siapa di balik itu semua,” jelasnya.

Berdasarkan data RTI per 15 November 2019, PBV ratio saham ARTO sendiri tercatat sebesar 35,12x dan PER di -128,26x. Sedangkan bank lain, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memiliki PBV 2,53x dan PER 15,26x. Sementara PBV, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencapai 4,61x dan PER 27,74x. Begitu juga dengan PBV PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) masingmasing 1,62x, 1,15x dengan PER 12,00x, 8,70x.

Secara bisnis, Hans menjelaskan, Bank Artos memang memiliki potensi besar, terlebih setelah diakuisisi oleh perusahaan milik Jerry Ng melalui PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI) dan entitas milik Patrick Walujo, yakni Wealth Track Technology Limited (WTT) yang berbasis di Hong Kong.

Jika visi pengendali baru ini terwujud dan Bank Artos menjadi fully digital bank, dia mengungkapkan, valuasi bank akan meningkat sangat besar. “Namun kembali lagi, investor tetap harus berhatihati, karena sejauh ini hal tersebut masih spekulasi,” terangnya.

Dia menyarankan sebaiknya investor wait and see hingga manajemen baru memaparkan rencana bisnisnya dalam mengembangkan bank ini dan menyelesaikan proses rights issue.

Sementara itu, Pengamat pasar modal Satrio Utomo mengungkapkan, pemodal yang berniat berinvestasi pada saham sektor finance disanrakan terlebih dahulu mencermati rasio PBV perusahaan. Indikator tersebut dapat membantu investor untuk membandingkan nilai pasar atau harga saham yang mereka bayar per saham dengan ukuran tradisional nilai suatu perusahaan.  

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA