Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Listing perdana saham Indointernet atau Indonet, Senin (8/2). Saham perdana EDGE dibuka langsung auto reject batas atas.

Listing perdana saham Indointernet atau Indonet, Senin (8/2). Saham perdana EDGE dibuka langsung auto reject batas atas.

HARGA SAHAM “AUTO REJECT” ATAS

Harga Saham Melesat, Indonet Siap Operasikan 'Data Center' Baru

Senin, 8 Februari 2021 | 12:57 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Saham PT Indointernet Tbk (EDGE) atau Indonet mengalami auto rejection batas atas dengan kenaikan 20% ke level Rp 8.850, sesaat setelah pencatatan perdana (listing) saham perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (8/2). Setelah menjadi perusahaan tercatat, emiten milik Toto Sugiri ini siap mengoperasikan secara penuh data center baru yang investasinya mencapai Rp 468,9 miliar.

Indonet merupakan emiten baru ke-7 yang mencatatkan sahamnya di BEI pada 2021, sekaligus menjadi emiten ke-720 hingga saat ini. Perseroan mengantongi dana segar Rp 595,97 miliar melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Jumlah saham yang dilepas ke publik sebanyak 80,81 juta saham (20%) pada harga Rp 7.375 per saham. PT BCA Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Direktur Utama Indonet Djarot Subiantoro mengatakan, bisnis pusat data dan interkoneksi memiliki potensi yang besar ke depan. Hal ini dipicu oleh perkembangan ekonomi digital, yang membawa perubahan di berbagai aspek usaha. “IPO ini sesuai dengan strategi perusahaan. Kami berkomitmen berinovasi, melakukan transformasi digital, dan memberikan return of investment yang baik kepada pemegang saham,” kata dia.

Sementara itu, berdasarkan prospektus, sekitar 90% dana IPO akan digunakan Indonet sebagai tambahan setoran modal kepada anak usahanya, PT Ekagrata Data Gemilang (EDG), yang akan digunakan untuk pembangunan Edge Data Center (EDC) dan pengembangan selanjutnya.

Total dana yang dibutuhkan untuk pembangunan EDC adalah sebesar Rp 468,9 miliar dan periode pelaksanaan pembangunannya telah dimulai pada 2020. Proses pembangunan gedung EDC telah selesai sekitar 90%. Rencana capex untuk EDC dilakukan bertahap dengan realisasi Rp 101,12 miliar hingga November 2020.

Data center terbaru yang berlokasi di Jakarta Selatan ini dirancang berada dekat dengan pusat pertukaran koneksi dan sentra lokasi pelanggan. Proyek ini menambah aset data center Indonet, dimana perseroan sebelumnya telah memiliki dua lokasi data center utama masing-masing di Jakarta dan Tangerang Selatan. Kedua fasilitas tersebut telah berjalan sejak 2001 dan 2011 dengan kapasitas 99%.

“Tujuan dari EDC adalah menghubungkan konsumen akhir kepada pusat pengolahan data secara mudah dan dinamis, dengan kemampuan memberikan waktu respons yang lebih singkat,” kata Djarot.

Indonet juga siap menyerap sekitar 6% dana IPO untuk belanja modal berupa pembelian perangkat untuk pengembangan digitalisasi network, yang merupakan salah satu layanan utama perseroan. Indonet berencana meningkatkan layanan koneksi lama dengan layanan konektivitas HSX.

Secara bertahap, Indonet akan mengembangkan lebih lanjut layanan HSX untuk koneksi ke berbagai layanan data center di Indonesia dan berbagai layanan cloud global yang telah memiliki data center di Tanah Air.

Indonet memulai kegiatan usahanya pada 1994 sebagai penyedia jasa internet (Internet Service Provider/ISP) swasta komersial pertama di Indonesia. Indonet punya misi memberikan manfaat dari solusi teknologi strategis kepada pelanggan. Sejak itu, perseroan telah menyediakan layanan berbasis internet dan jasa komunikasi kepada perorangan dan korporasi selama lebih dari 25 tahun.

Perseroan gesit menangkap peluang pasar komputasi awan (cloud), ketika para pemain global seperti Alibaba Cloud masuk ke Indonesia pada 2018 dan Google Cloud hadir pada awal 2020. Indonet tercatat menjalin kemitraan strategis dengan Alibaba Cloud pada 2017. Perseroan berperan sebagai distributor utama layanan komputasi awan untuk Alibaba Cloud di Indonesia.

Setelah IPO, struktur pemegang saham Indonet antara lain Otto Toto Sugiri sebanyak 38,9% Han Arming Hanafia 17,5%, Bing Moniaga 15,1%, dan masyarakat 20%. Sementara, pihak yang memiliki saham di bawah 5% antara lain Marina Budiman 3,9%, Sanjaya 2,1%, Halim Soelistio 1,9%, Agustinus Haryawirasma 0,3%, dan Sudjiwo Husodo 0,3%.

IPO Indonet sekali lagi menjadi pembuktian Toto Sugiri yang merupakan figur senior pada industri teknologi informasi dan telekomunikasi nasional, utamanya data center.  Toto merupakan sosok di balik PT Sigma Cipta Caraka, yang kemudian diakuisisi oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) pada 2008.

Kiprah Toto juga terekam saat meluncurkan layanan data center tier IV pertama di Asia Tenggara pada 2013 melalui PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Toto yang juga menjabat sebagai CEO DCI Indonesia ini berhasil membawa perusahaan tersebut IPO pada awal Januari lalu.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN