Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lelang sukuk negara. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Lelang sukuk negara. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

DITOPANG SENTIMEN GLOBAL,

Harga SUN Diproyeksikan Menguat Pekan ini

Senin, 2 Agustus 2021 | 05:09 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pasar Surat Utang Negara (SUN) pada pekan ini dinilai positif, ditopang oleh spread US Treasury yang lebih besar dan sentimen dovish dari The Fed. Di sisi lain, tingginya jumlah kasus baru masih juga jadi perhatian para investor.

Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C Permana mengatakan, faktor utama yang jadi penopang menguatnya harga SUN yakni data The Fed yang menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang cenderung melandai. Selain itu, pekan lalu data jobless claims juga meningkat.

“Sehingga Tapering yang dikhawatirkan oleh investor diperkirakan terjadi lebih lama,” jelasnya kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Lebih lanjut, kata Fikri, SUN pekan depan juga akan didukung dengan data inflasi yang akan keluar dengan harapan peningkatan inflasi sebanyak 0,03% atau secara tahunan naik 1,45%. Dengan terjaganya tingkat inflasi ini, spread antara SUN dengan US Treasury 10 tahun makin membesar.

“Ditambah juga dengan semua tenor yang lebih rendah jadi harusnya cost of fund global murah. Kondisi mata uang yang terjaga dan juga rating Indonesia saat ini masih bertahan di Triple B. Dengan demikian seharusnya pasar Indonesia lebih cantik saat ini,” ujarnya.

Fikri menambahkan, dari dalam negeri, tingginya jumlah kasus terpapar masih jadi sentimen yang mempengaruhi pergerakan harga SUN. Menurut dia, pemerintah seharusnya memperpanjang periode PPKM hingga jumlah kasus menurun. Namun, harus disesuaikan dengan pemberian stimulus yang lebih besar karena adanya PPKM menekan pendapatan masyarakat.

“Meski nantinya defisit anggaran makin membesar, kebijakan dari Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani dengan realokasi anggaran seharusnya dapat menjadi solusi,” ujarnya.

Adapun sebelumnya, pemerintah Indonesia berencana menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN) dalam mata uang Rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2021.Lelang ini dilakukan untuk membiayai belanja negara dan juga penanganan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Lelang kali ini pemerintah menawarkan sebanyak 7 seri yakni, SPN12211104, SPN12220527, FR0090, FR0091, FR0088, FR0092 dan FR0089 dengan target indikatif sebanyak Rp 33 triliun dan target maksimal yang 49,5 triliun.

“Seri yang diminati oleh para investor saat ini yakni seri menengah yakni dengan tenor 5, 10 dan 15 tahun lantaran harganya yang masih kompetitif. Untuk imbal hasil 10 tahun diproyeksikan bergerak di 6,15% sampai 6,25%,” kata Fikri.

Secara terpisah, Analis PIlarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus berpendapat bahwa pasar obligasi berpotensi mengalami penurunan imbal hasil dengan rentang 5 tahun yakni  5,15% - 5,25%, 10 tahun 6,25% – 6,30%,15 tahun pada kisaran 6,29% – 6,35% dan terakhir yakni tenor 20 tahun dengan proyeksi 7,00% – 7,05%.

“Di tengah situasi dan kondisi yang tengah mengalami perbaikan meskipun PPKM berlanjut, kami melihat pasar obligasi masih akan terus melanjutkan tren penurunan secara imbal hasil,” jelas Nico.

Selain itu, SUN akan didukung dengan suku bunga yang diproyeksikan tidak akan bergerak jauh dari level 1,5% yang disebabkan oleh naiknya tingkat inflasi Indonesia. Menurut Nico, hal itu yang membuat pasar obligasi Indonesia dalam zona nyaman.

Adapun, ketidakpastian akan pemulihan ekonomi juga membuat orang menshifting sebagian portofolionya kepada obligasi untuk berjaga jaga apabila PPKM masih terus dilanjutkan yang dapat mempengaruhi pemulihan ekonomi.

“Pada lelang kali ini pun, penawaran yang masuk diperkirakan mencapai Rp 60 triliun – Rp 70 triliun. Apalagi kehadiran seri baru akan menjadi salah satu pendorong lelang obligasi kian ramai. Tentu saja apabila pelaku pasar dan investor memasang imbal hasil yang rendah, kami yakin tidak menutup kemungkinan pemerintah akan menyerap dengan target maksimal,” pungkas Nico.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN