Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi perdagangan efek. Foto: Lorenzo Cafaro (Pixabay)

Ilustrasi perdagangan efek. Foto: Lorenzo Cafaro (Pixabay)

Harga SUN Masih Berpeluang Lanjutkan Kenaikan

Senin, 26 Juli 2021 | 06:31 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) berpotensi naik pekan ini, seiring kian melebarnya spread antara SUN dan US Treasury 10 tahun. Sedangkan penanganan pandemi Covid-19 masih menjadi tantangan terbesar terhadap pergerakan harga obligasi negara.

“Jika berpatokan pada US Treasury yang masih rendah, misalnya spread US Treasury dengan SUN 10 tahun sudah di atas 500, sehingga investor asing melihatnya sebagai peluang. Apalagi PPKM harapannya dikurangi, sehingga obligasi negara relatif lebih menarik lagi,” kata Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C Permana kepada Investor Daily, Minggu (25/7).

Namun, PPKM yang diperpanjang hingga Agustus, menurut dia, bisa menjadi sentimen negatif terhadap pasar obligasi. Sedangkan imbal hasil (yield) SUN berpotensi turun pekan ini. SUN dengan tenor 10 tahun akan berada di rentang 6,1-6,2%.

Sementara itu, Head of Fixed Income Analyst Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, pasar obligasi sudah naik signifikan dalam tiga pekan terakhir. Hal tersebut terutama dipicu oleh likuiditas yang masih memadai dan bersamaan dengan penurunan penerbitan SBN.

Sedangkan pergerakan harga SUN pekan ini, ungkap dia, didukung katalis baru, terutama soal tren perkembangan pandemi Covid-19. Jika ada perbaikan positif, pasar SUN akan terus bergairah berupa penurunan yield atau kenaikan harga.

Selain itu, dia mengatakan, pergerakan harga SUN akan dipengaruhi hasil lelang sukuk dan outlook inflasi Juli. Sedangkan dari global pergerakan yield US Treasury dan US Dollar Index atau yang disingkat dengan kode USDX akan menjadi sentimen terhadap pasar surat utang.

“Berbagai sentimen tersebut, harga obligasi diperkirakan bergerak sideways pekan ini dengan yield berada dalam kisaran 6,25-6,3%. Hal ini juga dipicu atas kenaikan harga SUN yang signifikan dalam tiga minggu terakhir, sambil menunggu katalis positif baru lagi,” ujar Handy.

Sementara, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus mengatakan, transaksi obligasi oleh pelaku pasar dan investor akan tertuju terhadap pertemuan Bank Sentral Amerika (The Fed) sepanjang pekan ini.

“Karena ini akan menjadi tolok ukur terkait arah pergerakan pasar obligasi selanjutnya. Ditengah situasi dan kondisi seperti sekarang ini, imbal hasil obligasi terus mengalami penurunan didukung oleh keyakinan akan penundaan pengurangan pembelian obligasi oleh The Fed. Namun pelaku pasar dan investor membutuhkan kepastian, oleh sebab itu fokus utamanya adalah pertemuan The Fed tersebut,” jelasnya.

Terkait lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk yang akan digelar pekan ini, Nico menilai, kemungkinan mengalami penurunan minat. Namun, diperkirakan total penawaran yang masuk akan berkisar Rp 40-50 triliun. Animo optimisme pun akan tetap terjaga dimana booster bagi pasar obligasi diperkirakan akan datang juga dari PPKM level yang diharapkan tetap akan berubah menjadi level 3 dari level 4. Karena hal tersebut mendorong aktivitas perekonomian untuk tetap berjalan dan mendorong pemulihan ekonomi kembali ke jalan yang benar.

“Di atas kertas, kami meyakini bahwa pelaku pasar dan investor masih akan menaruh hati terhadap pasar obligasi, apalagi kami melihat bahwa ketidakpastian pemulihan ekonomi masih besar. Oleh sebab itu, kehati-hatian akan menjadi poin penting saat ini,” kata Nico.

Dia pun mengimbau agar investor bisa memilih obligasi berdurasi jangka pendek. Hal itu penting untuk meredam volatilitas. ”Namun tetap sisakan obligasi jangka panjang untuk memaksimalkan keuntungan,” ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN