Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi. Foto: David Schwarzenberg (Pixabay)

Ilustrasi investasi. Foto: David Schwarzenberg (Pixabay)

Harga Surat Utang di Pasar Domestik Masih Tertekan

Senin, 5 April 2021 | 07:02 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) pekan ini diprediksi masih melemah seiring kenaikan imbal hasil (yield). Pelemahan dipengaruhi oleh berlanjutnya volatilitas surat utang Pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury.

Head of Economic Research Pefindo Fikri C Permana mengatakan, pelamahan harga obligasi negara masih dipengaruhi kenaikan imbal hasil US Treasury setelah Presiden AS Joe Biden mengeluarkan anggaran infrastruktur sebesar US$ 2 triliun. Kebijakan ini menjadi salah satu indikator peningkatan imbal hasil US Treasury.

“Imbal hasil US Treasury diperkirakan naik hingga menyentuh level 1,8% dari sebelumnya yakni 1,76%. Sentimen ini dapat mendorong imbal hasil SUN 10 tahun naik hingga 7%,” jelasnya kepada Investor Daily.

Selain imbal hasil US Treasury, Fikri menambahkan, proyeksi berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah turut menambah tekanan pada harga SUN. Begitu juga dengan data inflasi jika berada di bawah 2%, imbal hasil surat utang negara berpotensi turun.

Hal yang senada juga diungkapkan Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, imbal hasil US Treasury yang mengalami kenaikan hingga 1,8% menyebabkan yield surat utang emerging market melemah. Hal ini meningkatkan kehati-hatian para investor domestik dan juga memicu volume transaksi obligasi di primary dan secondary market sempat menurun pekan lalu.

“Prediksi saya, minggu ini pasar memantau pergerakan US treasury tersebut akan seperti apa, kalau memang sudah mencapai titik 1,7-1,8% atau lebih tekanannya akan lebih tinggi terhadap yield SUN kita,” kata dia.

Menurut dia, imbal hasil SUN 10 tahun kedepan diproyeksikan bergerak pada 6,7% sampai 6,8%. Pergerakan harga SUN pekan ini akan sempit, karena pelaku pasar masih hati-hati untuk masuk. “Meski demikian, apabila titik tersebut sudah terlewati potensi penguatan SUN akan lebih besar dengan investor domestik yang lebih percaya diri masuk dan investor asing yang akhirnya melirik pasar domestik sejalan dengan stabilnya pasar,” terang dia.

Pergerakan harga SUN juga akan dipengaruhi oleh keputusan Pemerintah Indonesia untuk melelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara dengan target indikatif mencapai Rp 10 triliun pada Selasa (6/4). Sebanyak lima seri akan dilelang dalam kesempatan ini, yakni seri SPN-S 07102021 dengan tanggal jatuh tempo 7 Oktober 2021, PBS027 pada 15 Mei 2023, PBS017 pada 15 Oktober 2025, PBS029 pada 15 Maret 2034, PBS004 pada 15 Februari 2037, dan terakhir PBS028 pada 15 Oktober 2046.

Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memaparkan, total penawaran yang masuk diperkirakan berkisar Rp 25-35 triliun. Kendari demikian, tingginya volatilitas US treasury akan membuat pelaku pasar dan investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi yang membuat pemerintah enggan untuk menyerapnya.

Di sisi lain, kegagalan margin call di Amerika masih menjadi berita hangat yang membuat pergerakan volatilitas US Treasury sewaktu-waktu berpotensi untuk mengalami kenaikkan. Sedangkan seri obligasi dengan durasi pendek yang dibawah 10 tahun diperkirakan akan lebih diminati untuk meredam volatilitas imbal hasil yang tengah terjadi.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN