Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu kegiatan di pabrik Kalbe Farma. Foto: IST

Salah satu kegiatan di pabrik Kalbe Farma. Foto: IST

Harga Vaksin Kalbe Farma Diperkirakan Tak Lebih US$ 10 per Dosis

Selasa, 11 Agustus 2020 | 20:37 WIB
Thereis Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Kalbe Farma Tbk mengharapkan produk vaksin hasil kerja sama dengan Genexine Inc harganya tidak melewati US$ 10 per dosis. Namun, hal tersebut masih dapat berubah seiring dengan kapasitas produksi dan perhitungan lainnya yang kini masih dalam tahap pengembangan. 

“Target harga masih bervariasi. Kita berharap, terus terang berharap tidak melewati US$ 10 per dosis, itu harapan kita. Namun semua masih dapat berubah karena sangat subjektif tergantung kapasitas,” ujar Presiden Direktur Kalbe Farma Vidjongtius, dalam webminar Samuel Sekuritas, Selasa (11/8)

Vidjongtius menjelaskan, saat ini uji klinis vaksin tengah masuk pada fase satu dan diharapkan selesai pada September mendatang. Setelah itu, uji klinis fase dua akan dilakukan di Indonesia dan akan memakan waktu selama enam bulan. Apabila proses uji klinis berhasil, hasil fase dua bisa didapatkan pada kuartal I-2020.

Menurutnya, jika berhasil, hasil dari uji klinis fase kedua bisa dimanfaatkan secara terbatas, namun dalam artian emergency. “Secara medis diperbolehkan, harus melewati masa safety dan quality. Kalau sesuai rencana, pertengahan 2021 sebagian vaksin sudah bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.

Dirut Kalbe Farma Vidjongtius
Dirut Kalbe Farma Vidjongtius

Lebih lanjut, Vidjongtius mengungkapkan, pihaknya terus berkomunikasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan untuk menyusun protokol uji klinis yang benar.

Di sisi lain, dia menuturkan, perseroan telah memiliki kapasitas produksi untuk produk akhir sebesar 50 sampai 60 juta unit dosis. Kini, yang menjadi tantangan perseroan adalah tingkat kapasitas bahan baku yang masih berasal dari impor. jadi rebutan di seluruh dunia.

“Sekarang yang perlu mengadakan dari sisi kapasitas bahan baku, sangat bervariasi, karena seluruh dunia rebutan bahan bakunya,” katanya.

Sejak pandemi Covid-19 melanda, lanjut Vidjongtius, supply chain menjadi hal pertama yang menjadi perhatian perseroan. Pasalnya, bahan baku farmasi hampir 90% masih dari impor, sehingga untuk mengantisipasinya, perseroan melakukan peningkatan ketersediaan stok bahan baku.

“Kami memilih lebih banyak inventory pada waktu itu. Tindakan kami ini ternyata benar karena kami tidak terlalu banyak isu mengenai stock out, termasuk untuk kebutuhan vitamin dan suplemen bisa di kontrol dengan baik,” ujarnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN