Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anggota MNC Group, PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA) menjajaki bisnis batu bara.

Anggota MNC Group, PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA) menjajaki bisnis batu bara.

IATA Ubah Fokus Bisnis ke Bidang Investasi dan Perusahaan Induk

Rabu, 15 Desember 2021 | 12:26 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA), emiten yang bergerak dalam bidang usaha pengangkutan udara niaga dan jasa, akan melakukan perubahan kegiatan usaha utama perseroan dengan memfokuskan kegiatan pada bidang investasi dan perusahaan induk.

Latar belakang, pertimbangan dan alasan dari rencana perubahan kegiatan usaha tersebut sejalan dengan strategi dan upaya perseroan untuk meningkatkan kinerja, serta mendorong pertumbuhan kinerja secara berkelanjutan dan meningkatkan nilai bagi para pemegang saham di masa mendatang.

“Maka perseroan memandang perlu melakukan diversifikasi dan pengembangan usaha dengan mengubah kegiatan usaha utama perseroan, dari perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha pengangkutan udara niaga menjadi perusahaan yang bergerak di bidang investasi serta menjadi perusahaan induk,” tulis manajemen dalam keterangan resmi, Rabu (15/12).

Perubahan kegiatan usaha utama ini juga sejalan dengan rencana perseroan untuk mengakuisisi 99,33% saham PT Bhakti Coal Resources (BCR), perusahaan induk dari sembilan perusahaan batu bara yang berlokasi di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan dari PT MNC Investama Tbk (MNCI). Dengan ketersediaan cadangan batu bara yang dimiliki BCR, perseroan berpendapat perlu mengambil langkah strategis untuk memanfaatkan momentum sehubungan dengan potensi permintaan kebutuhan dan kenaikan harga batu bara.

Perseroan juga bermaksud untuk mengalihkan aset perseroan ke PT Indonesia Air Transport (IAT), anak perusahaan yang dibentuk oleh perseroan dan 99.99% dimiliki oleh perseroan di mana transaksi pengalihan aset yang dimaksud termasuk dalam transaksi yang dikecualikan berdasarkan POJK 17/2020 dan POJK 42/2020.

Selain itu, Indonesia Transport & Infrastructure juga berencana menerbitkan Surat Sanggup kepada MNCI berkaitan dengan pengambilalihan 99,33% saham BCR. Rencana Transaksi itu dapat dilakukan setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham independen melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan diselenggarakan pada 20 Januari 2022.

“Setelah Rencana Transaksi mendapatkan persetujuan dari pemegang saham independen melalui RUPSLB, perseroan berpotensi membukukan pendapatan BCR pada masa yang akan datang dan perseroan mengharapkan kinerja keuangan konsolidasian BCR yang didorong prospek usaha batu bara dengan potensi kenaikan harga batu bara, dapat mendukung peningkatan kinerja keuangan konsolidasian perseroan dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham perseroan pada masa yang akan datang,” tulis manajemen.

Seperti diketahui, popularitas industri batu bara nasional diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan lonjakan harga batu bara, yang didorong oleh pemulihan ekonomi dunia termasuk Tiongkok, India, Korea Selatan, serta Eropa yang mengarah pada peningkatan produksi industri sehingga meningkatkan permintaan energi. Di sisi lain, penolakan Tiongkok terhadap batu bara Australia juga turut memberikan sentimen positif terhadap permintaan ekspor batu bara Indonesia.

Dengan cadangan batu bara yang masih bertahan hingga 65 tahun, Indonesia merupakan salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia. Pada saat yang sama, Indonesia merupakan negara berkembang yang masih membutuhkan energi murah untuk pembangunan dan konsumsi. Kontribusi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara terus mendominasi, mencapai 50,4% atau 31.827 megawatt (MW) dari total produksi listrik nasional.

Secara terpisah, BCR menunjuk PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dan PT MNC Infrastruktur Utama (MIU) sebagai dua kontraktor baru untuk menambang dan meningkatkan produksi batu bara pada Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik BCR. Sebelum DEWA dan MIU, tiga kontraktor sudah dipekerjakan di bawah IUP milik BCR, yakni PT Bara Permata Mining, PT Cipta Bersama Sukses, dan PT Universal Support.

Penambahan penunjukkan tersebut untuk memenuhi target produksi PT Putra Muba Coal (PMC), PT Bhumi Sriwijaya Perdana Coal (BSPC), PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE), dan PT Arthaco Prima Energi (APE) dari 2,5 juta MT pada 2021 menjadi 8 juta MT pada 2022. Hingga akhir 2021, pendapatan BCR diperkirakan mencapai US$ 74,8 juta dengan EBITDA US$ 33 juta.

Sebelumnya, pada awal Desember, IATA telah menandatangani Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) dengan PT MNC Investama Tbk (BHIT) untuk mengakuisisi 99,33% saham BCR. Nilai transaksi sebesar US$ 140 juta ini lebih rendah 23% dari valuasi BSPC dan PMC yang mencapai US$ 181,9 juta.

Berdasarkan kinerja, Indonesia Transport & Infrastructure membukukan pendapatan bersih mencapai US$ 7,23 juta atau sekitar Rp 103 miliar hingga kuartal III-2021. Capaian ini meningkat 15,01% dibandingkan periode sama tahun lalu senilai US$ 6,28 juta atau Rp 90,05 miliar.

Secara rinci, pendapatan IATA dihasilkan dari jasa penyewaan pesawat, fee port management, dan jasa servis pesawat. Adapun dua pelanggan utama yang memiliki kontribusi pendapatan perseroan di atas 10%, yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Nuansacipta Coal Investment.

Setelah perhitungan beban keuangan, selisih kurs, administrasi, pajak, dan lainnya, maka perseroan membukukan rugi bersih periode berjalan senilai US$ 4,67 juta, bertambah dari periode sama tahun sebelumnya senilai US$ 2,14 juta. Adapun rugi yang diatribusikan ke entitas induk mencapai US$ 4,68 juta.

Editor : Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN