Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pompa angguk di sumur minyak mentah. ( Foto ilustrasi: AFP/File / Karen Bleier )

Pompa angguk di sumur minyak mentah. ( Foto ilustrasi: AFP/File / Karen Bleier )

ICDX: Eropa Timur dan Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Bergerak Bullish

Senin, 24 Januari 2022 | 17:02 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) menilai, harga minyak bergerak bullish ditopang oleh adanya sinyal memanasnya tensi di Eropa Timur dan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu sisi pasokan. Selain itu, indikasi kesulitan OPEC+ dalam memenuhi target produksinya juga turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut.

Memanasnya ketegangan geopolitik antara Rusia dengan Ukraina membuat pemerintah Amerika Serikat (AS) memerintahkan duta besar beserta keluarga staf untuk segera meninggalkan Ukraina. Langkah AS tersebut menunjukkan sinyal keadaan darurat sewaktu-waktu di Ukraina. Terlebih lagi Rusia dilaporkan telah mengumpulkan pasukan dekat perbatasan Ukraina, yang sekaligus memicu kekhawatiran akan terjadinya gangguan pasokan di Eropa Timur.

Baca juga: ICDX: Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Mentah Melambung

Selain Eropa Timur, ketegangan geopolitik juga terlihat di Timur Tengah karena Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi melarang operasi penerbangan bagi sebagian besar drone pribadi dan pesawat olahraga pribadi selama sebulan. Keputusan tersebut dibuat menyusul serangan melalui drone yang dilakukan oleh milisi Houthi Yaman pada pekan lalu.

Baca juga: ICDX: Permintaan Pulih, Harga Minyak Mentah Bergerak Bullish

Masih dari Timur Tengah, kepatuhan produksi negara produsen minyak OPEC beserta sekutunya dilaporkan naik menjadi sekitar 122% pada bulan Desember. Data tersebut mengindikasikan bahwa beberapa negara anggota OPEC+ seperti Nigeria dan Angola masih terus berjuang untuk meningkatkan produksinya. Berita itu yang sekaligus menguatkan pernyataan yang dilontarkan sebelumnya dari International Energy Agency (IEA) bahwa produksi yang dicapai OPEC+ pada bulan Desember lebih rendah 790 ribu bph dari kuota yang disepakati.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak akan berada dalam kisaran resistance di Rp 1,24 juta hingga Rp 1,26 juta per barel serta kisaran support di Rp 1,2 juta hingga Rp 1,18 juta per barel. 

Editor : Gita Rossiana (gita.rossiana@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN