Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor memotret menggunakan telepon genggam pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Selasa (25/8/2020). Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Investor memotret menggunakan telepon genggam pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Selasa (25/8/2020). Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

IHSG Berpotensi Menguat Awal Pekan, Melemah pada Akhir Pekan

Minggu, 27 September 2020 | 11:26 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id - Tarik menarik antara sentimen positif dan negatif masih akan mewarnai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepekan ke depan. IHSG berpotensi menguat awal pekan, kemudian melemah pada akhir pekan.

Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee memperkirakan IHSG akan bergerak dengan level support 4,820 sampai 4,754 dan resistance di level 4,978 sampai 5,187.

Beberapa sentimen yang mempengaruhi pergerakan IHSG pada pekan ke 5 September 2020 adalah:

1. Pasar keuangan dunia mendapatkan sentimen negatif dari perkembangan paket stimulus fiskal untuk mengatasi dampak pandemi Covid 19. Dikabarkan Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat AS sedang menyiapkan rencana paket stimulus virus corona senilai USD 2,2 triliun. Diharapkan paket ini bisa divoting pada pekan depan.

Paket stimulus ini menjadi sangat penting untuk membantu Amerika Serikat di tengah pandemi Covid-19. Pejabat Federal Reserve pekan lalu berbicara tentang pentingnya lebih banyak stimulus fiskal karena kebijakan moneter terbatas efektivitasnya dalam memulihkan perekonomian.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Sumber: Beritasatu TV
Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee.  Sumber: Beritasatu TV

2. Pasar keuangan juga menghadapi ketidakpastian politik Amerika Serikat menjelang pemilu di bulan November. Dikabarkan Presiden Donald Trump menolak berkomitmen untuk transfer kekuasaan secara damai jika dia kalah dalam pilpres. Hal ini membuat sangat mungkin hasil pemilu disengketakan.

Meski kabar itu dibantah oleh Partai Republik, pasar uang bergejolak dengan indeks dollar mengalami penguatan dan memperlemah nilai tukar Rupiah. Selain itu tensi politik yang memanas menjelang pemilu AS membuat sulit ditemukan titik temu dalam pembahasan paket stimulus fiskal yang dinatikan pelaku pasar.

3. Data ekonomi AS cenderung bervariasi tetapi menunjukan tanda-tanda perlambatan pemulihan. Klaim pengangguran yang berakhir 19 September tercatat 870 ribu orang lebih banyak dari perkiraan ekonom di level 840 ribu orang dan lebih tinggi dari pekan sebelumnya 866 ribu orang.

Sementara itu, angka klaim pengangguran melanjutkan penurunan menjadi 12,580 k dari sebelumnya 12,747k tetapi lebih buruk dari konsensus pasar di level 12,300 k. Kedua angka ini di anggap mengecewakan dan mengindikasikan pemulihan ekonomi AS stagnan. Di sisi lain kongres belum mampu menelorkan paket stimulus fiskal baru untuk membantu pemulihan ekonomi akibat pandemik covid 19.

4. Peningkatan kasus Covid 19 terjadi di banyak Negara. Di AS terjadi peningkatan kasus di Midwest. Prancis dan Inggris mencatat rekor kasus baru infeksi Covid-19 secara harian pada hari kamis pekan lalu.

Inggris melaporkan tambahan 1.252 kasus baru dalam sehari menjadi 6.178 kasus. Timbul kekhawatiran gelombang kedua Covid 19 terjadi di beberapa Negara Eropa akan telah mendorong beberapa Negara seperti Inggris, Jerman dan Prancis melakukan pembatasan baru.

Pemerintah Spanyol merekomendasikan penerapan lockdown di kota Madrid setelah kasus melampaui 700.000 dan merupakan tertinggi di Negara kawasan Eropa Barat. Rencana lockdown ditambah dukungan fiskal yang lebih sedikit serta likuditas yang berkurang akan membebani kinerja kuartal ke empat berbagai Negara.

5. Pernyataan Chairman The Fed Chicago, Charles Evans bahwa pelonggaran kuantitatif lebih lanjut mungkin tidak memberikan dorongan tambahan untuk ekonomi AS. Artinya belum ada tambahan stimulus moneter dari bank sentral untuk mendorong ekonomi keluar dari resesi.

Charles juga mengisyaratkan bahwa mungkin saja The Fed menaikkan suku bunga sebelum inflasi mencapai rata-rata 2%. Hal ini membuat arus dana balik ke Amerika Serikat dan membuat Dollar cenderung naik dan membuat Rupiah cenderung melemah.

6. Dana asing terlihat terus keluar dari bursa saham Indonesia. Tercatat sudah 16 pekan asing terus melakukan penjualan, dan pekan ini tercatat net sell asing Rupiah 2,17 triliun.

Selama 3 bulan terakhir asing tercatat melakukan penjualan Rp 28,39 triliun dan secara year to date (YTD) asing tercatat keluar Rp. 58,42 triliun. Hal ini tentu tidak baik karena investor asing tercatat memiliki 49,95 % saham non warkat atau scripless di Bursa Efek Indonesia berdasarkan catatan KSEI.

Terlihat investor lokal cukup kuat mengangkat indeks ditengah tekanan jual asing, tetapi tidak tahu sampai berapa lama. Salah satu faktor yang diperkirakan membuat dana asing keluar adalah penanganan covid 19 yang lemah dan kasus baru yang terus naik.

Pengetesan di Indonesia juga masih rendah hanya 11,560 orang per 1 juta populasi jauh di bawah Filipina 32,672 apalagi Amerika Serikat yang mencapai 309,524.

Ditambah dengan berita revisi UU Bank Indonesia yang berpotensi menghilangkan independen Bank Sentral serta pengalihan pengawasan industri keuangan dari OJK ke BI membuat dana asing deras keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Isu ini telah mengubah fondasi industri keuangan di tengah badai sangat berisiko. Meski sudah dibantah tetapi berkontribusi pada pelemahan nilai tukar Rupiah dan keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia beberapa pekan sebelumnya.

Rupiah yang melemah di tambah keluarnya dana asing membuat IHSG sulit menguat signifikan dan cenderung sideways sampai akhir tahun.

7. Jumat kemarin pasar saham menguat karena ada berita positif tentang perkembangan vaksin Covid 19. Dikabarkan Kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan mengatakan vaksin virus corona (Covid-19) buatan Tiongkok telah terbukti berhasil dalam uji klinis. WHO akan memastikan vaksin tersebut dapat didistribusikan secara merata ke semua penjuru dunia.

Sebenarnya ini merupakan cuplikan pembicaraan Soumya Swaminathan pada media briefing on Covid 19 yang dipublikasikan WHO di Youtube. Pemotongan membuat seakan-akan uji klinis akhir vaksin corona baru dari Tiongkok telah berhasil. Sebenarnya pernyatan Soumya Swaminathan mengacu pada vaksin dari Tiongkok telah memasuki uji tingkat lanjut atau fase 3.

8. Pasar saham Indonesia di akhir pekan menguat di dukung oleh klaim pemerintah provinsi DKI Jakarta bahwa penerapan PSBB total jilid dua berhasil menekan angka kasus baru Covid 19. Selain itu kabar vaksin perusahaan Tiongkok yang berhasil menjadi tambahan sentimen positif.

Kabar vaksin ini ternyata hanya cuplikan pernyataan pejabat WHO sebelumnya ketika vaksin asal Tiongkok memasukai uji tahap lanjutan. Perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB jilid dua sampai Oktober menjadi sentimen negative bagi pasar.

Biarpun PSBB ketat hanya di berlakukan di Ibu kota Jakarta, tetapi Jakarta punya kontribusi besar pada perekonomi Indonesia sehingga berpeluang menekan perekonomian Indonesia.

Tercatat terjadi kenaikan kasus Covid 19 baru yang beberapa kali menciptakan rekor. Kenaikan kasus di kontribusi oleh pegetesan yang semakin banyak dilakukan dan masyarakat Indonesia yang banyak tidak disiplin melakukan protokol kesehatan.
 

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN