Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
IHSG di Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Beritasatu.com

IHSG di Bursa Efek Indonesia. Foto ilustrasi: Beritasatu.com

IHSG Diprediksi Rebound Terbatas pada Pekan Depan

Mashud Toarik, Sabtu, 25 Januari 2020 | 16:57 WIB

Jakarta, investor.id – Setelah mengalami pelemahan pada perdagangan sepanjang pekan lalu, pada pekan ini pergerakan pasar saham diyakini akan berbalik arah menguat atau rebound. Kendati begitu kenaikan pasar diperkirakan masih relatif terbatas.

Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee menargetkan, pada perdagangan pekan depan, indeks harga saham gabungan (IHSG) akan bergerak pada posisi support level 6.218 sampai 6.200 dan resistance di level 6.256 sampai 6.312.

“Cenderung BOW (buy on weakness) di pasar,” ujar Hans yang dikutip Majalah Investor dari hasil riset mingguannya pada, Sabtu (25/1/2020).

Dalam riset tersebut, Hans mengamati pola pergerakan pasar sepanjang pekan ini, diyakini memiliki korelasi dengan pergerakan pasar pada pekan depan.

Dimana berita utama pekan ini tentu saja virus Corona di China dimana pasar Asia dan global sempat tertekan karena kekawatiran penyebarannya. Tercatat per Jumat kemarin jumlah kasus sudah mencapai 830 orang dengan 25 orang meninggal dunia.

Pasar saham dunia sempat stabil setelah pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa wabah virus Corona belum menjadi keadaan darurat global. Tindakan cepat oleh pihak China untuk menahan penyebaran virus pernafasan ini dengan menghentikan perjalanan masuk dan keluar dari kota Wuhan, tempat virus korona berasal.

Hal ini memberikan keyakinan bahwa wabah yang terjadi tidak mengakibatkan pandemi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global. “Tetapi Tahun baru Imlek dimana banyak warga melakukan perjalanan didalam dan luar negeri menimbulkan kekawatiran di pasar,” katanya.

Sementara laba korporasi masih akan menjadi sentiment pasar pekan depan. Lebih dari 12% dari perusahaan S&P 500 telah melaporkan keuangannya, menurut data FactSet 70 % perusahan-perusahaan membukukan laba lebih baik dari perkiraan.

Diperkirakana ekspektasi keuntungan perusahaan menurun pada periode pelaporan keli ini. FactSet memperkirakan laba S&P 500 berpeluang turun 2% pada kuartal keempat secara year-over-year.

Sedangkan sebagian analis memperkirakan laba emiten pada indeks S&P 500 berpeluang turun 0.8 % pada kuartal keempat, tetapi analis memperkirakan terjadi keniakan laba 5,8 persen pada kuartal pertama 2020.

Melebarnya perang dagang perlu mendapat perhatian pelaku pasar. Setelah pendatangan fase 1 antara China dan US pernyataan presiden AS Donald Trump terasa menekan zona Euro. Trump mengatakan bahwa Uni Eropa "tidak punya pilihan" selain menyetujui kesepakatan perdagangan baru dalam wawancara di Davos.

Dalam pertemuan dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif impor mobil Eropa jika tak ada komitmen perdagangan baru dengan Uni Eropa. Apakah zona Euro akan mudah di tekan atau terjadi sebaliknya.

Presiden Donald Trump dan Wakil Perdana Menteri China Liu He telah menandatangani perjanjian perdagangan "fase pertama", mengurangi ketegangan antara dua ekonomi terbesar di dunia itu. Tetapi optimisme positif kesepakatan perang dangang China dan US mulai memudar di pasar. Apa lagi di tambah pernyataan dari Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, dimana Amerika akan mempertahankan tarif barang-barang China sampai kesepakatan tahap kedua berakhir menjadi sentiment negative pasar.

Sebelumnya pihak AS menyampaikan, bisa mempertahankan tarif lebih dari US$ 300 miliar terhadap barang-barang import dari China sampai November 2020 atau sampai pilpres AS dilakukan.

Dari dalam negeri kisruh pembubaran Reksadana terbukti masih menekan kinerja IHSG, dimana beberapa pekan terkhir ditengah optimism penandatangan fase satu perang dagang AS China IHSG beberapa kali mengalami tekanan turun. Ketika Dow membuat rekor kenaikan baru, IHSG masih tertekan akibat aksi jual Reksadana yang di bubarkan.

Beberapa saham blue chip yang ada didalam list produk yang di buarkan telah mengalami tekanan jual. Lebih dari 35 Reksadana yang NAB nya turun lebih dari 50% ketika melakukan rebalancing untuk mengembalikan dana nasabah juga pasti akan menekan Indeks kedepannya. Belum lagi pembekuan 800 rekening nasabah kami perkirakan akan menimbulkan sentimen negatif di pasar.

 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA