Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pegawai berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta.. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pegawai berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta.. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

OJK DIMINTA TINGKATKAN TRANSPARANSI REKSA DANA

IHSG Masih di Zona Bullish, Investor Waspadai Forced Sell

Farid Firdaus, Senin, 2 Desember 2019 | 14:14 WIB

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) secara historis masih dalam tren bullish sepanjang Desember ini. Namun, laju positif IHSG diperkirakan terhambat oleh aksi penutupan sejumlah reksa dana yang memicu jual paksa (forced sell) saham.

Karena itu, demi melindungi investor dan menjaga kepercayaan pasar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mesti mewajibkan para MI membuka secara detail seluruh produk reksa dana di website, termasuk penjelasan setiap underlying asset-nya. Dengan begitu, para investor akan tahu lebih rinci produk investasi, berikut profil risikonya.

OJK juga harus memberikan jaminan bahwa uang investor akan kembali. Jika tidak, segala upaya yang selama ini dilakukan otoritas dalam meningkatkan pendalaman pasar uang bisa sia-sia. Butuh waktu lebih lama lagi untuk menyakinkan masyarakat bahwa reksa dana adalah instrumen investasi yang aman.

Kinerja IHSG Desember 2009-2018, Net Buy/Sell Asing, dan NAB Reksa Dana
Kinerja IHSG Desember 2009-2018, Net Buy/Sell Asing, dan NAB Reksa Dana

Hal itu diungkapkan ekonom dan analis PT Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee, serta Head of Investment Research Infovesta Wawan Hendrayana kepada Investor Daily secara terpisah di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sementara itu, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, ketegasan OJK terhadap para MI yang salah mengelola produk reksa dana diharapkan mampu meningkatkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) di kalangan MI.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Di sisi lain, Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot meminta para nasabah Narada, Pratama Capital, dan Minna Padi Aset Manajemen yang ingin mencairkan (redemption) produk reksa dana untuk menunggu proses penyelesaian para MI bersangkutan.

Pada perdagangan Jumat (29/11), IHSG ditutup menguat 0,98% ke posisi 6.011,83. Kendati demikian, IHSG terkoreksi 1,45% selama sepekan. Selama tujuh hari berturut-turut, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai total Rp 3,84 triliun.

Alhasil, posisi beli bersih (net buy) asing sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd) tereduksi menjadi Rp 41,20 triliun. Angka itu sudah termasuk pembelian saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk dan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (BNP) oleh Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Financial Group Inc (MUFG).

Pada April lalu, MUFG lewat MUFG Bank Ltd merampungkan pembelian saham Bank Danamon dan BNP lewat transaksi tunai senilai total Rp 49,6 triliun. Dengan demikian, jika tidak memasukkan transaksi crossing MUFG, investor asing sudah mencatatkan net sell Rp 8,4 triliun.

Fundamental Bagus

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV

Ekonomi dan analis PT Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih mengatakan, secara historis, pasar cenderung mengalami bearish selama November. Soalnya, banyak MI asing menata ulang portofolio sahamnya. “Terlebih ekonomi global masih dilanda ketidakpastian,” ujar dia.

Di pasar saham domestik, menurut Lana, tekanan diperparah oleh penutupan reksa dana oleh sejumlah MI yang gagal bayar (default) akibat salah kelola.

Dia menambahkan, kesalahan bukan pada sahamnya, melainkan pada MI-nya yang salah kelola. Hal itu tercermin pada harga saham-saham berkapitalisasi besar (big cap), termasuk sejumlah saham BUMN yang terkoreksi dalam.

“Ketika sebuah reksa dana ditutup, MI selaku pengelola reksa dana harus atau mau tidak mau menjual saham-saham yang menjadi underlying asset reksa dana tersebut, atau menjualnya secara forced sell,” papar dia.

Lana Soelistianingsih menjelaskan, pelaku pasar berharap kasus penutupan reksa dana akibat salah kelola segera berakhir sejalan dengan penanganan kasus tersebut oleh otoritas.

Lana Soelistianingsih. Foto: IST
Lana Soelistianingsih. Foto: IST

Dia menyakini kondisi pasar lebih optimistis selama Desember akibat aksi 'poles saham' (window dressing) oleh para fund manager dan emiten. Dengan demikian, IHSG dapat finis di pengujung tahun pada level 6.524. Lana mengakui, pihaknya telah merevisi hingga dua kali target IHSG. Saat ini, rata-rata price to earning ratio (PER) emiten diperkirakan sulit melampaui angka 9 kali.

“Pada setiap tahun pemilu, IHSG selalu ditutup positif dibanding tahun sebelumnya. Berkaca pada tahun pemilu 2004 dan 2009, selalu ada kecenderungan IHSG ditutup positif pada tahun pemilu,” tegas dia.

Jika mampu menembus level resistance 6.500, menurut Lana Soelistianingsih, IHSG akan mudah mengalami rally menuju level 6.700.

“Periode rally ini biasanya juga muncul pada kuartal I-2020 karena pasar akan memulai tahun dengan sikap optimistis,” tandas dia.

Kasus Reksa Dana

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan hal senada. Dari dalam negeri, kisruh pembubaran reksa dana terbukti menekan kinerja IHSG. Hal ini tercermin pada awal pekan lalu.

Menurut Hans, saat optimisme negosiasi perang dagang antara AS dan Tiongkok melanda pasar global, IHSG justru tertekan. Pada 25, 26, dan 27 November, indeks Dow Jones memecahkan rekor kenaikan baru, tetapi IHSG malah terpuruk.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee

“Terbukti beberapa saham blue chip dalam daftar produk reksa dana yang dibubarkan telah mengalami tekanan jual selama sepekan. Bila aksi jual pembubaran reksa dana berakhir maka tekanan jual akan berkurang,” papar dia.

Hans mengungkapkan, pihaknya terus memantau aksi OJK berikutnya. Pembubaran produk reksa dana akibat janji-janji return yang tinggi akan memberikan tekanan jual di pasar saham.

Hans menambahkan, akibat berita-berita global dan regional yang masih negatif, ditambah beberapa khasus di dalam negeri, termasuk kasus reksa dana, pihaknya menurunkan target IHSG pada akhir tahun ke level 6.220.

IHSG, kata Hans Kwee, masih berpeluang turun menguji test level 5.524 dalam beberapa pekan ke depan. Sedangkan selama pekan ini, IHSG diperkirakan bergerak pada level support 5.939-5.767 dan resistance 6.100-6.200.

Perlu Transparan

Menurut Head of Investment Research Infovesta Wawan Hendrayana, sikap tegas OJK terhadap reksa dana yang salah kelola sudah sesuai dengan fungsinya sebagai lembaga pengawas. Namun, hal ini tidak cukup untuk memberikan efek dalam jangka panjang.

Wawan menekankan perlunya peningkatan transparansi mengenai underlying asset setiap produk reksa dana di pasar. Demi kepentingan investor, OJK bisa membuka detail seluruh produk reksa dana di website mereka, seperti penjabaran 10 besar underlying asset dari sebuah produk.

Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta
Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

“Dulu, sebelum pasar saham crash pada 2008, mereka pernah melakukan ini, tapi sudah lama tidak lagi,” ujar dia.

Wawan Hendrayana mengakui, pemilihan underlying asset merupakan strategi penting dari penjualan reksa dana. Karena itu, banyak MI yang enggan memublikasikan secara terang-terangan ke publik karena khawatir dicontek oleh kompetitornya.

Selain itu, kata dia, transparansi yang dilakukan para MI di industri reksa dana dalam negeri tidak seragam. Soalnya, belum ada format atau aturan baku yang mengharuskan transparansi tersebut.

Wawan mencontohkan, ada MI yang rutin menyampaikan laporan fund fact sheet yang berisi daftar lengkap saham-saham underlying kepada nasabah seminggu sekali. Tapi ada pula yang hanya sebulan sekali dan cuma mencantumkan tak lebih dari lima saham underlying produk mereka.

“Sekarang ada sekitar 1,6 juta investor reksa dana, kira-kira tumbuh delapan kali lipat dibanding pada 2008. Industri ini terus bertumbuh, lebih baik dijaga dan transparan,” tandas dia.

Data OJK per 14 November 2019 menunjukkan, dana kelolan (asset under management/AUM) reksa dana mencapai Rp 551 triliun, dengan total 2.165 produk.

Lana Soelistianingsih menegaskan, OJK harus mampu menjamin atau setidaknya meyakinkan para investor agar tidak panik. Investor perlu mengetahui bahwa dananya dalam reksa dana bisa dicairkan (redemption), meskipun memerlukan waktu.

“Kalau tidak ada jaminan bahwa uang mereka kembali maka segala hal terkait pendalaman pasar yang sudah dilakukan selama ini menjadi sia-sia. Butuh waktu lagi untuk menyakinkan bahwa reksa dana adalah investasi yang aman,” tandas dia.

Tingkatkan GCG

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, ketegasan OJK terhadap para MI yang salah kelola produk reksa dana diharapkan mampu meningkatkan GCG di kalangan MI. “OJK sudah tegas. Seharusnya itu mendorong GCG di pasar modal, khususnya di kalangan MI,” tutur dia.

Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot mengungkapkan, bagi para nasabah Narada, Pratama Capital, dan Minna Padi Aset Manajemen yang ingin melakukan redemption, sebaiknya menunggu penyelesaian dari para MI bersangkutan.

“Cara lainnya adalah melakukan pemindahan investasi ke perusahaan aset manajemen lain,” ujar dia.

Terkena Suspensi

Kisruh pasar reksa dana mencuat setelah OJK menghentikan dua produk reksa dana PT Narada Aset Manajemen pada 15 November 2019, yaitu Narada Saham Indonesia dan Narada Campuran I, yang mengalami penurunan kinerja.

Narada saat ini pun terkena status suspensi atau tak boleh melakukan penjualan produk untuk sementara waktu. Hal ini menyusul Surat OJK tertanggal 13 November 2019 bernomor S-1387/PM 21/2019.

Berdasarkan surat tersebut, OJK memutuskan untuk menghentikan sementara penjualan dua reksa dana milik Narada Aset Manajemen oleh agen penjual efek reksa dana (APERD) karena adanya gagal bayar (default) saham senilai Rp 177,78 miliar.

Tak lama kemudian, Direktur Utama Narada Aset Manajemen Oktaviandondi, dalam surat kepada investornya, menyatakan, pihaknya berkomitmen penuh untuk menyelesaikan kewajibannya kepada sejumlah sekuritas. Evaluasi kinerja juga turut dilakukan perseroan.

“Kami memohon bantuan kepada bapak/ibu untuk sementara waktu tidak melakukan penarikan dana pada saat proses perbaikan kinerja dan penyelesaian kewajiban yang sedang berjalan. Selain akan menyulitkan upaya pemulihan, hal ini akan semakin menurunkan jumlah dana kelolaan kami, yang pada akhirnya menurunkan nilai investasi bapak/ibu,” tulis manajemen.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi: DEFRIZAL
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Setelah Narada, sepekan kemudian, PT Pratama Capital Asset Management dilarang OJK menjual produk reksa dana selama tiga bulan. Larangan itu tertuang dalam Surat OJK bernomor S-1423/PM 21/2019 tentang Perintah untuk Melakukan Tindakan Tertentu kepada PT Pratama Capital Assets Management.

Penyebab terbitnya surat perintah itu adalah porsi kepemilikan saham PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) di dalam reksa dana Pratama Capital yang melebihi batas 10%. Padahal, OJK sebelumnya melakukan pembinaan kepada MI tersebut terkait saham emiten berkode KIJA pada 2017 dan 2018.

Pemegang saham Pratama Capital terdiri atas PT Pratama Capital Indonesia sebanyak 99% dan PT Imakotama Investindo sebesar 0,01%. Imakotama juga tercatat sebagai salah satu pemegang saham KIJA, dengan kepemilikan per Juni 2019 sebesar 6,65%.

Pada pekan yang sama, OJK memerintahkan Minna Padi Aset Manajemen membubarkan dan melikuidasi enam produk reksa dana. Larangan itu tertuang dalam Surat OJK No S-1422/PM.21/2019 yang diterima perseroan pada 21 November 2019. OJK menemukan dua reksa dana yang dikelola perseroan dijual dengan janji keuntungan pasti (fixed return) masing-masing 11% dalam 6-12 bulan.

Padahal, kedua reksa dana tersebut, yaitu RD Minna Padi Pasopati Saham dan RD Minna Padi Pringgondani Saham adalah reksa dana saham yang sifatnya terbuka. Selain dua reksadana ini, empat produk lain yang dibubarkan adalah RD Syariah Minna Padi Amanah Saham, RD Minna Padi Hastinapura Saham, RD Minna Padi Property Plus, dan RD Minna Padi Keraton II.

Berdasarkan penelusuran Investor Daily dalam fund fact sheet enam reksa dana ini per Oktober 2019, banyak saham big cap dan mid cap yang menjadi aset dasarnya.

Saham-saham tersebut di antaranya saham PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WSKT), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA).

Saham lainnya yaitu PT BDP Jawa Timur Tbk (BJTM), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Bank Permata Tbk (BNLI), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WTON), dan PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS).

Ada pula saham-saham lapis dua (second liner), seperti PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Meta Epsi Tbk (MTPS), PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), dan PT Forza Land Indonesia Tbk (FORZ).

Itu belum termasuk saham PT Steadfast Marine Tbk (KPAL), PT Asuransi Jiwa Jasa Mitra Abadi Tbk (JMAS), PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK), dan PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA).

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA