Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan sedang menggunakan ponsel dengan latar belakang monitor saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Karyawan sedang menggunakan ponsel dengan latar belakang monitor saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Kuartal IV Tren Bullish

IHSG Menuju 6.800

Selasa, 5 Oktober 2021 | 08:30 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com) ,Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA -- Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diprediksi bisa menembus level 6.800 pada akhir 2021. Sejumlah sentimen positif yang bakal mengerek IHSG sepanjang kuartal IV ini di antaranya pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang bedampak meningkatkan mobilitas dan konsumsi rumah tangga, lonjakan harga komoditas terutama batu bara, tingkat bunga acuan yang tetap rendah, antusiasme investor asing terhadap pasar saham Indonesia, serta adanya window dressing.

Pada perdagangan Senin (4/10) kemarin, IHSG menguat signifikan didorong aksi beli investor asing. IHSG ditutup naik 113,84 poin atau 1,83% ke posisi 6.342,69. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 25 poin atau 2,82% ke posisi 911,01. Secara year to date (ytd) hingga kemarin, IHSG menguat 6,08% dan Indeks LQ45 masih minus 2,55% (ytd). Sementara investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp 1,99 triliun dan secara year to date (ytd) sebesar Rp 17,99 triliun.

Analis Henan Putihrai Sekuritas, Liza Camelia mengatakan, performa kuartal IV-2021 diperkirakan membaik dibandingkan kuartal III-2021 karena adanya pelonggaran PPKM, sehingga berdampak meningkatkan mobilitas dan konsumsi rumah tangga.

“Konsumsi rumah tangga menyumbang porsi 54% terhadap produk domestik bruto (PDB), jadi sangat krusial sekali. Demikian pula ekspor dan impor yang sudah tumbuh signifikan pada kuartal dua akan melanjutkan penguatannya karena ekonomi global ikut membaik,” ujar Liza kepada Investor Daily, Senin (4/10).

Liza menambahkan, government spending diharapkan akan tumbuh 3,9-4,6% dengan realokasi dan refocusing APBN 2021 untuk memperkuat anggaran belanja program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di sektor kesehatan dan perlindungan sosial.

Menurut dia, pada kuartal III-2021 pertumbuhan ekonomi akan mengalami perlambatan jika dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini disebabkan kasus Covid-19 varian Delta yang tereskalasi hingga mencapai rekor kasus harian pada Juli mencapai 56.000 kasus, serta penerapan kebijakan PPKM level 4-3, sehingga berdampak pada penurunan konsumsi yang signifikan.

Meskipun performa kuartal IV-2021 akan membaik, namun Liza melihat ada beberapa faktor yang akan menghambat laju tersebut, di antarnya tapering yang akan dilakukan bank sentral Amerika Serikat (the Fed), sehingga menyebabkan risiko naiknya interest rate dan capital outflow. Kemudian, krisis properti Evergrande yang dikhawatirkan menimbulkan contagion effect jika program restructuring atau bail out oleh pemerintah Tiongkok tidak jelas.

Dia juga menyebut krisis energi di Tiongkok, Inggris, dan India juga akan mempengaruhi laju indeks, dimana berdampak pada harga komoditas yang meningkat signifikan, sehingga menyebabkan inflasi yang tidak terkendali, turunnya produktivitas, dan hilangnya lapangan pekerjaan.

“Namun menilik proyeksi perbaikan ekonomi Indonesia di kuartal IV ini, khususnya di sektor komoditas energi karena pasar kita adalah commodity-driven, maka kami rasa cukup feasible untuk menaikkan target IHSG akhir tahun ke level 6.700-6.800, jangka pendek di 6.400,” ujar dia.

Lebih lanjut, menurut Liza, sektor yang perlu diperhatikan hingga akhir tahun adalah pertambangan. Investor bisa melirik saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target harga (target price/TP) Rp 2.900-3.000/Rp 3.500, PT Vale Indonesia Tbk TP Rp 5.500/Rp 7.000, dan PT Timah Tbk (TINS) TP Rp 2.000/Rp 2.450.

Investor juga bisa memperhatikan saham-saham properti yang mulai menunjukkan tren pemulihan dengan sentimen perbaikan daya beli masyarakat. Diharapkan, perpanjangan program insentif PPN ditanggung pemerintah (DTP) sampai akhir tahun depan –dari saat ini berlaku hingga akhir 2021-- setelah perpanjangan diskon PPnBM kendaraan bermotor hingga Desember 2021.

Adapun saham-saham yang dapat dilirik investor adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dengan target harga (target price/TP) Rp 1.300, PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) TP 250, dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) TP Rp 600-610.

“Sektor teknologi dan telekomunikasi juga dinantikan panggungnya di kuartal IV ini atau menjelang 2022 dengan banyaknya IPO perusahaan startup, seperti Mitratel, GoTo, Blibli, Traveloka, Tiket.com, dan J&T Express,” ujar dia.

Senada, Head of Research PT Yuanta Sekuritas Indonesia Chandra Pasaribu mengatakan, IHSG diprediksi akan bergerak di level 6.600-6.700 pada akhir tahun ini. Faktor-faktor yang mendukung pergerakan IHSG adalah bergulirnya kembali perekonomian, meningkatnya harga komoditas terutama batu bara, dan tingkat bunga acuan yang tetap rendah.

"Dengan bergeraknya perekonomian diharapkan sektor konsumer bisa menjadi ujung tombak bergulirnya pertumbuhan," jelas Chandra kepada Investor Daily, Senin (4/10).

Banyaknya sentimen positif ini juga diikuti oleh antusiasme investor asing yang mulai masuk ke pasar saham Indonesia. Namun arus modal yang masuk, menurut Chandra, masih terbatas karena investor asing cenderung merealisasikan keuntungan (profit taking) ketika saham cukup tinggi harganya.

"Terbatasnya arus modal asing yang masuk ini masih akan terjadi karena adanya risiko nilai tukar rupiah yang kemungkinan melemah apabila imbal hasil (yield) US Treasury Bond meningkat," papar dia.

Chandra menilai hampir seluruh sektor saham akan meningkat menjelang akhir tahun ini. Pasalnya, momentum pemulihan ekonomi dan peningkatan IHSG dirasakan oleh hampir seluruh sektor saham.

Di sisi lain, Head of Investment Research PT Infovesta Utama Wawan Hendrayatna menilai, IHSG bisa melejit ke angka 6.500-6.600 apabila kebijakan PPKM dihentikan. Selain sentimen PPKM, hal lain yang mempengaruhi IHSG adalah harga energi yang terus meningkat. "Pergerakan harga energi ini akan terjadi sampai akhir tahun dan akan menguntungkan saham batu bara," kata dia.

Selain sektor batu bara, sektor saham lain yang akan meningkat pada tahun ini adalah sektor keuangan, consumer good dan transportasi. Sektor ini akan meningkat apabila kebijakan PPKM dihentikan.

Pengamat pasar modal Reza Priyambada juga mengatakan, menjelang akhir tahun, masih ada momentum kenaikan IHSG seiring dengan maraknya aksi korporasi yang dilakukan sejumlah emiten. Di sisi lain, Indonesia juga sedang berupaya untuk memulihkan perekonomian sehingga hal ini bisa mendorong peningkatan IHSG ke level 6.450-6.500.

"Window dressing juga bisa mendorong kenaikan IHSG, tapi biasanya terjadi menjelang akhir tahun dan juga harus ada faktor penggerak lain," jelas dia.

Seiring peningkatan IHSG ini, Reza melihat ada peluang pertumbuhan di saham komoditas yang ditopang oleh peningkatan harga komoditas. Namun hal ini tidak mutlak terjadi karena masih ada sisa tiga bulan menjelang akhir tahun dan sangat tergantung sentimen yang menggerakkannya.

"Bisa saja ke depannya sektor media dan ritel yang meningkat atau sektor konstruksi dan properti yang saat ini masih rendah," terang dia.

Kuartal IV Tren Bullish

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengungkapkan, IHSG pada kuartal IV-2021 ini akan berada pada tren bullish. IHSG akan berada pada rentang 6.300-6.500 menuju akhir tahun.

Menurut dia, sentimen yang mempengaruhi IHSG tersebut adalah hasil penanganan Covid-19 di Indonesia yang lebih baik dari negara lain, proses pemulihan ekonomi yang lebih baik, konsistensi aksi beli investor asing menjelang akhir tahun, harga komoditas yang masih solid, dan adanya window dressing menjelang akhir tahun.

"Pasar saham global yang kondusif setelah mulai jelasnya pelaksanaan kebijakan tapering dan kenaikan suku bunga," jelas dia.

Kinerja IHSG saat tutup sesi II Senin sore (4/10/2021). Sumber: BSTV
Kinerja IHSG saat tutup sesi II Senin sore (4/10/2021). Sumber: BSTV

Di tengah penguatan IHSG tersebut, saham-saham yang berpeluang naik menurut Alfred adalah saham berkapitalisasi besar atau blue chip seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Kemudian, saham lapis kedua (second liner) seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA).

Sementara saham lapis ketiga yang direkomendasikan adalah PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP), dan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI).

Senada, Head of Equity Research PT BNI Sekuritas Kim Kwie Sjamsudin mengungkapkan, BNI Sekuritas memprediksi IHSG tahun ini bisa berada di level 6.600. Faktor pendukungnya adalah pembukaan kembali ekonomi yang akan mendorong saham old economy berkapitalisasi besar yang sebelumnya underperform dan juga arus modal asing ke pasar saham.

"Saham yang berpeluang menguat di sektor perbankan, telekomunikasi dan properti," ujar dia.

Semetara itu, Analis PT Panin Sekuritas William Hartato mengungkapkan, IHSG berpeluang menguat ke level 6.400 akhir tahun ini. Window dressing menjadi salah satu pendorong peningkatan IHSG yang sudah dimulai sejak bulan ini dan juga pada Desember mendatang.

"Faktor pendorong lainnya adalah meningkatnya saham blue chip yang sebelumnya underperform karena bobot saham itu lumayan besar terhadap IHSG," terang dia.

Lebih lanjut, Analis NH Korindo Sekuritas Putu Chantika mengatakan, IHSG akhir tahun diproyeksikan mencapai level 6.500 dengan 15,2 kali P/E 2020F. Adapun faktor yang mempengaruhi adalah the Fed yang akan memulai program tapering, pembukaan ekonomi secara perlahan yang terlihat dari pelonggaran PPKM, dan tren penguatan harga komoditas serta window dressing.

“Kami masih cukup optimistis akan tetap ada window dressing yang akan terjadi di kuartal IV-2021, mengingat akhir-akhir ini tren net foreign buy yang masuk ke IHSG,” jelas dia.

Chantika memproyeksikan, investor asing pada akhir tahun ini akan mengalami tren net foreign buy seiring dengan pelaku pasar yang diprediksi tidak akan merespon secara cepat signyal tapering off the Fed.

Adapun investor bisa mencermati sektor perbankan terutama untuk saham-saham big caps. Selain itu, jika tren penguatan harga komoditas masih berlanjut, bisa mencermati saham-saham batu bara (coal), CPO, dan oil.

“Sementara itu, sektor yang sempat mengalami penurunan cukup signifikan seperti konstruksi dan properti mungkin juga sekarang waktu yang tepat untuk dicermati mengingat ekonomi perlahan kembali membuka,” jelas dia.

Hal yang sama juga disampaikan Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma bahwa potensi investor asing untuk net buy pada tahun ini akan terjadi.

“Bulan Desember itu dapat dibilang hampir pasti naik secara month to month (mom). Adapun IHSG pada tahun ini diperkirakan mencapai 6.500,” ujar dia.

Founder dan CEO Finvesol Consulting Fendy Susiyanto juga mengatakan, IHSG hingga akhir tahun ini diperkirakan mencapai 6.600. Adapun faktor yang mempengaruhinya adalah angka positif Covid-19 di Indonesia sudah mulai melandai dan progres vaksinasi juga bagus, serta tumbuhnya angka ekspor.

“Ekonomi regional country saat ini juga sedang menggeliat, seperti Tiongkok, India termasuk kita (Indonesia). Selain itu, harga batu bara saat ini melonjak luar biasa, Indonesia pun menikmati ekspor batu bara ini,” ujar dia.

Terkait dengan window dressing, dia memproyeksikan akan terjadi pada November atau pertengahan Desember. Adapun potensi asing untuk net buy masih akan terjadi pada akhir tahun ini, sebab Indonesia dinilai masih menarik dan yield obligasinya pun masih berada di kisaran 6,3-6,7%.

“Terkait saham rekomendasi LQ45, investor bisa melirik saham perbankan, infrastruktur, dan konsumer,” ujar dia.(jn)


 

 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN