Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang karyawan berfoto di galeri BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daiy/DAVID GITA ROZA

Seorang karyawan berfoto di galeri BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daiy/DAVID GITA ROZA

IHSG Pekan Depan Berpotensi Kembali Menguat

Minggu, 20 September 2020 | 14:00 WIB
Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id — Indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan depan diproyeksikan bergerak menguat terbatas. Beberapa sentimen global turut mempengaruhi laju indeks, seperti Tiongkok dan Amerika Seritkat (AS).

Equity Analyst PT Philip Sekuritas Indonesia Anugerah Zamzami Nasr mengatakan, beberapa sentiman global yang mempengaruhi laju indeks di pekan depan adalah pengumuman suku bunga loan prime rate dari Negeri Tirai Bambu dan data inventory minyak Energy Information Administration (EIA).

“Sedangkan dari Amerika Serikat, sentimen yang akan mempengaruhi pergerakan indeks adalah diskusi stimulus fiskal dan tunjangan pengangguran. Dari dalam negeri sendiri tidak ada sentimen yang mempengaruhi,” ujar Zamzami kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (20/9).

Analis PT Philip Sekuritas Anugerah Zamzami. Sumber: youtube
Analis PT Philip Sekuritas Anugerah Zamzami. Sumber: youtube

IHSG untuk pekan depan diproyeksikan bergerak menguat terbatas dengan level support 5.002 dan level resistance di 5.109. Sebagai informasi, pada penutupan pekan ini, IHSG ditutup menghijau 20,82 poin (0,41%) ke level 5.059,22. Level tertinggi indeks mencapai 5.072,68, sedangkan terendah 5.023,44.

Sementara itu, investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) di semua pasar sebesar Rp 999,09 miliar. Menurut Zamzami, perolehan net sell asing pekan ini didominasi oleh saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), sehingga para investor dapat melakukan antisipasi rotasi sektor di pekan depan.

Adapun sektor yang dapat diperhatikan oleh para investor adalah telekomunikasi, seperti saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan target harga di 2.950 dan sektor agrikultur yang didorong oleh kenaikan harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), seperti PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dengan target harga 1.050 dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) target harga di 10.500.

“Para investor juga dapat memperhatikan saham di sektor properti, seperti PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) dengan target harga 400, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) target harga di 710 dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) target harga di 800,” ujar dia.

Hal yang sama diutarakan oleh Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas, dia menyampaikan bahwa aksi net sell yang terjadi di pekan ini didominasi oleh saham Bank Central Asia. Asing sudah melakukan net sell di saham ini hampir 100% dari total asing net sell selama seminggu, baik dinego atau reguler.

“Secara valuasi, saham Bank Central Asia sudah tergolong mahal dengan PBV 4 kali jika dibandingkan dengan bank lainnya yang di kisaran 0,8-2 kali. Jadi wajar asing keluar dulu mencari peluang ke saham bluechips lainnya yang tergolong murah,” ujarnya.

Sukarno menambahkan bahwa sentimen yang mempengaruhi net sell pada akhir pekan ini datang dari eksternal, yakni The Fed yang menahan tingkat suku bunga dan aksi tersebut menjadi respon negatif untuk pelaku pasar yang memerlukan adanya stimulus tambahan.

Adapun saham yang dapat diperhatikan untuk menghadapi pergerakan perdagangan saham di pekan depan adalah saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Tower Bersama Infrastrucutre Tbk (TBIG), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

IHSG di pekan depan berpotensi mengalami penguatan apabila skenario indeks mampu bertahan di atas level 5.013 dan bisa kembali menguji di 5.099. Namun, investor perlu berhati-hati jika skenario tersebut gagal, sebab IHSG bisa lanjut turun untuk menguji level suppor di 4.975. “Jika terjadi breakdown bisa ke level 4.878-4.925,” ujar dia.

Adapun sentimen yang akan mempengaruhi laju indeks adalah pernyataan dari ketua The Fed Jerome Powell mengenai arah kebijakan yang akan diambil untuk stimulus ke depan. Kemudian, adanya data AS yang akan rilis minggu depan, para investor perlu memperhatikan karan bisa menjadi penekan ataupun penguat untuk bursa wallstreet.

Sedangkan dari domestik, terdapat rilis data motorbike car sales yang sempat tertunda dan ada local election yang akan terjadi pada tanggal 23. Menurut sukarno, pilkada ini bisa menjadi sentimen negatif karena memperburuknya kondisi kasus Covid-19.

Pada kesempatan berbeda, Analis Jasa Utama Kapital Chris Aprilliony menyampaikan bahwa sentimen yang akan mempengaruhi laju indeks adalah pertimbangan untuk menurunkan pajak properti dan penjualan mobil. Menurut dia, sentimen ini mempunyai potensi untuk meningkatkan perekonomian.

“Sedangkan sentimen lokal lainnya adalah adanya update mengenai pandemi-Covid 19 di Indonesia. Begitupun juga dengan sentimen global, IHSG akan dipengaruhi perkembangan virus corona,” ujarnya.

Sementara itu, sektor yang dapat diperhatikan oleh para investor adalah properti. Menurut Chris, sektor ini masih mendapatkan stimulus positif dengan harapan masih akan menguat. Saham yang dirokemendasikan adalah PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE).

Hendriko Gani
Hendriko Gani

Sedangkan Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani memandang bahwa IHSG pekan depan berpotensi untuk kembali menguat dengan rentang level support di 5.000-5.017 dan level resistance di 5.180-5.200.

Hendriko melihat bahwa pergerakan IHSG di pekan depan cenderung minim sentimen, hanya ada rilis data ekonomi berupa motorbike sales bulan Agustus. Dia juga memproyeksikan bahwa asing akan melakukan net buy kembali.

“Untuk investor asing, memang sudah lama melakukan net sell, kemungkinan net buy tetap ada, namun kemungkinannya kecil melihat ketidakpastian global, serta penanganan Covid-19 di Indonesia yang cenderung kurang responsif,” ujar dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN