Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Manajemen Manulife menggelar acara Market Outlook 2022 secara Virtual, Selasa (7/12).

Manajemen Manulife menggelar acara Market Outlook 2022 secara Virtual, Selasa (7/12).

Imbal Hasil Obligasi Bisa Capai 6,25% di 2022

Jumat, 10 Desember 2021 | 16:27 WIB
Parina Theodora

Jakarta-Langkah pemerintah dan Bank Indonesia (BI) yang telah berkomitmen untuk melakukan reformasi perpajakan dan melanjutkan skema burden sharing jilid III bagi pendanaan APBN pada 2022, membawa sentimen positif bagi pasar obligasi Indonesia. Disampaikan Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), kondisi ini menjaga ruang dan berkelanjutan fiskal dalam jangka menengah, terutama dalam menurunkan defisit anggaran menuju di bawah 3% PDB di 2023.

“Di tengah kondisi fiskal yang lebih hati-hati, sinergi fiskal – moneter dinilai sebagai hal yang positif berpotensi mengurangi tekanan terhadap peringkat kredit Indonesia. Diperkirakan, imbal hasil obligasi pemerintah dengan durasi 10 tahun untuk tahun 2022 akan berada di level 6% - 6,25%,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika dibandingkan dengan imbal hasil yang ada di kawasan Asia lainnya, pasar obligasi Indonesia masih memberikan imbal hasil riil yang relatif tinggi. Selain itu, tambahnya lagi, prospek pasokan yang terkendali dan permintaan domestik yang kuat, ditopang oleh laju pertumbuhan kredit yang masih relatif rendah dan imbal hasil obligasi yang menarik, dapat mendukung pergerakan obligasi Indonesia.

“Faktor sentimen dan fundamental yang lebih kokoh berkontribusi pada stabilitas pergerakan pasar obligasi Indonesia, menjadi sarana diversifikasi portofolio yang baik,” paparnya.

Sementara dari sisi nilai tukar, di tengah perubahan kebijakan moneter global dan normalisasi harga komoditas dunia, Rupiah berpotensi sedikit melemah di 2022. Namun ketahanan fundamental yang baik akan menopang stabilitas nilai tukar Rupiah, didukung oleh tiga pilar, yaitu kebijakan moneter dengan prinsip kehati-hatian yang diterapkan BI, ketahanan eksternal yang kuat, dan cadangan devisa yang memadai.

Selain itu, harapan iklim investasi yang lebih kondusif di 2022 dapat mendorong investasi langsung yang dapat memberikan dukungan bagi stabilitas Rupiah. Nilai tukar Rupiah diperkirakan akan berada di kisaran Rp 14.500 – Rp 14.800.

 

Editor : Parina Theodora (theo_olla@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN