Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Reksa Dana

Reksa Dana

Imbal Hasil Reksa Dana Juga Cenderung Menurun

Selasa, 22 September 2020 | 13:52 WIB
Thereis Kalla dan Gita Rossiana

JAKARTA, investor.id – Kebijakan moneter super longgar dan injeksi likuiditas yang berlimpah di Negara maju membanjiri likuiditas di emerging markets untuk berburu instrumen keuangan dengan imbal hasil menarik. Likuiditas yang berlimpah telah mendorong penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN).

Tren imbal hasil yang cenderung menurun juga menimpa instrumen reksa dana.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana
Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana

Menurut Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana, potensi keuntungan reksa dana akan bergerak variatif tergantung dari jenisnya.

Dia menyatakan, return reksa dana saham secara industri tidak akan positif hingga akhir tahun ini. Wawan mengungkapkan, kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) pada akhir tahun ini secara moderat akan berada di level 5.500, sehingga secara year to date akan mengalami -15% dibanding kinerja IHSG tahun lalu.

Dengan kondisi tersebut, secara rata-rata reksa dana saham juga akan terimbas, sehingga return reksa dana saham diperkirakan akan minus -15% hingga -20%.

Kendati demikian, masih ada katalis positif yang dapat mendongkrak kinerja reksa dana saham. Rencana pendistribusian vaksin di akhir tahun dan masih ada beberapa sektor, seperti sektor telekomunikasi dan pertambangan yang menguntungkan di tengah pandemi juga menjadi sentimen positif bagi reksa dana saham.

Perbandingan yield obligasi, suku buga acuan, dan yield obligasi pemerintah
Perbandingan yield obligasi, suku buga acuan, dan yield obligasi pemerintah

Sementara itu, reksa dana campuran diprediksi potensi keuntungannya akan berada di kisaran -3 hingga -8%.

“Bergerak variatif, tergantung komposisinya lebih banyak mana, di obligasi atau saham. Kalau lebih besar di obligasi tentu akan bisa lebih baik,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wawan memperkirakan, proyeksi keuntungan dari reksa dana pasar uang akan menuju ke level 4% hingga 4,5%. Sedangkan, return reksa dana pendapatan tetap diproyeksikan akan berada di level 7% sampai 8%.

Kinerja indeks utama beberapa negara
Kinerja indeks utama beberapa negara

Menurut Wawan reksa dana pendapatan tetap, akan menjadi jawaranya di tahun ini dan tahun depan. Potensi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang diprediksi dapat turun lagi akan membuat investor cenderung ke reksa dana pendapatan tetap, terutama yang komposisi portofolionya berisi SBN.

“Kalau pada masa resesi, disarankan alokasi aset yang bersifat surat utang terutama SBN. Karena satu, cashflow yang pasti dan kedua, aman karena risk free asset,” ujarnya.

Director & CIO Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazulla
Director & CIO Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazulla

Senada, Director & CIO Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazulla memproyeksikan prospek reksa dana pendapatan tetap menarik sampai akhir tahun mengingat kondisi global yang ditopang oleh bank sentral yang terus menjalankan quantitative easing di tengah penerapan suku bunga rendah. Hal tersebut menyebabkan inflow masuk ke pasar emerging market, sehingga nilai tukar rupiah bakal stabil.

“Tentunya Indonesia dengan imbal hasil yang relatif tinggi di 6,8% dapat menjadi incaran dan investor asing dapat kembali masuk ke pasar SUN. BI yang juga mengikuti langkah bank sentral lain masih dalam siklus penurunan suku bunga dan ini dapat menjadi sentimen positif menopang pasar obligasi,” ujarnya.

Ezra menambahkan, kebijakan sharing burden antara BI dan pemerintah dapat membantu mengurangi tekanan supply penerbitan obligasi. Dengan harapan independensi BI tetap dipertahankan, sehingga likuiditas dalam negeri yang berlimpah akan menopang pasar obligasi.

Kinerja reksa dana Indonesia
Kinerja reksa dana Indonesia

“Kami proyeksikan yield 10 tahun dapat berada di kisaran 6,5% di akhir tahun dan tidak menutup kemungkinan bisa lebih rendah ke level 6%. Jika terjadi inflow yang masif akan menyebabkan yield 10 tahun turun ke level 6%,” jelasnya.

Sementara itu, kalangan analis saham yang dihubungi Investor Daily memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) akhir tahun ini berpotensi menembus kisaran 5.300-5.550. Dengan asumsi tersebut, IHSG tahun ini berpotensi terpangkas 12- 16% dibanding 2019. Masuknya dana-dana asing bakal turun mendongkrak indeks pada kuartal IV.

Saham-saham yang cukup prospektif hingga akhir tahun meliputi sektor barang konsumsi, perbankan, pertambangan logam, dan berbasis minyak sawit.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN