Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pabrik Indocement. Foto: DEFRIZAL

Pabrik Indocement. Foto: DEFRIZAL

Indocement Targetkan Volume Penjualan Naik Melampaui Pertumbuhan Industri

Kamis, 21 Januari 2021 | 23:17 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) menargetkan pertumbuhan volume penjualan sebesar 4% tahun ini dibandingkan pencapaian tahun lalu. Hal ini sejalan dengan berbagai faktor positif yang menopang industri semen nasional, mulai dari suku bunga rendah hingga pembentukan sovereign wealth fund (SWF).

Sekretaris Perusahaan Indocement Tunggal Prakarsa Antonius Marcos menjelaskan, tahun ini, perseroan memperkirakan peningkatan daya beli masyarakat terhadap produk properti, seiring suku bunga yang rendah. Kondisi itu bakal mendorong permintaan semen. “Ditambah dengan SWF, ini menjadi kabar baik bagi industri,” kata dia kepada Investor Daily, Kamis (21/1).

Dia menegaskan, faktor positif tersebut menjadi alasan bagi perseroan untuk menargetkan peningkatan volume penjualan di atas perkiraan pertumbuhan industri semen pada 2021 yang berkisar 1-2%.

Untuk mengejar target tersebut, perseroan berencana melakukan perluasan pasar dengan menyasar negara-negara tujuan ekspor yang potensial, antara lain Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia dan beberapa negara tetangga lainnya. “Di dalam negeri, kami tetap fokus pada pasar utama, yaitu wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek),” tuturnya.

Dari segi anggaran, menurut Antonius, perseroan masih melakukan finalisasi. Meski demikian, belanja modal (capital expenditure/capex) 2021 akan dibiayai dari kas internal yang saat ini mencapai Rp 7 triliun. “Kami tidak memiliki utang atau zero debt. Itu menjadi salah satu keunggulan kami,” jelas dia.

Sementara itu, kalangan analis menyebutkan bahwa pulihnya permintaan semen nasional, intensifikasi pemasaran, dan peluncuran merek baru untuk segmen pasar menengah bawah bakal menopang penguatan kinerja keuangan Indocement.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin mengungkapkan, volume penjualan semen nasional diperkirakan pulih tahun 2021 setelah terkoreksi sepanjang 2020. Volume penjualan semen nasional tahun 2020 diperkirakan turun 11,3% menjadi 62,1 juta ton. Penurunan akibat pandemi Covid-19, musim hujan pada kuartal IV, libur panjang akhir tahun, dan pilkada.

“Kami memperkirakan konsumsi semen nasional mulai pulih tahun 2021. Kami mengestimasi permintan semen domestik akan tumbuh 4% yang didukung oleh peningkatan anggaran infrastruktur dan aktivitas ekonomi yang bakal pulih,” tulis Mimi dalam risetnya.

Terkait kenaikan harga jual, kemungkinannya kecil terjadi pada 2021. Kenaikan harga jual semen oleh sejumlah produsen tampaknya bakal dilakukan di daerah tertentu, yang pangsa pasarnya besar. Kenaikan harga jual semen tidak bisa dilakukan secara nasional karena permintaan nasional belum pulih total.

Menurut Mimi, emiten semen juga menunjukkan kecenderungan peningkatan margin keuntungan. Hal ini ditopang oleh mulai normalnya volume produksi dan penjualan semen. Selain itu, harga pembelian batu bara diperkirakan relatif stabil pada 2021. “Dengan peluang permintaan bertumbuh dan harga pembelian batu bara yang cenderung stagnan, emiten semen memiliki ruang untuk menaikkan margin keuntungan tahun 2021,” jelas dia.

Meski industri semen mendapatkan angin segar oleh pemulihan ekonomi, kelebihan pasokan tetap menjadi tantangan dalam beberapa tahun mendatang. Kelebihan kapasitas produksi semen nasional diperkirakan mencapai 50 juta ton. Namun, kompetisi penjualan semen diperkirakan tidak berdampak terlalu besar bagi dua produsen terbesar di Indonesia.

Terkait prospek Indocement, dia meyakini bahwa penjualan semen perseroan segera pulih. “Kami memperkirakan pertumbuhan volume penjualan semen perseroan mencapai 4% pada 2021, yang didukung oleh peningkatan anggaran infrastruktur dan menggeliatnya kembali aktivitas ekonomi,” sebut dia.

Mimi juga memperkirakan harga jual batu bara relatif stabil tahun 2021 dan volume produksi kembali normal, yang diharapkan berdampak pada peningkatan margin keuntungan perseroan. Sebab itu, pertumbuhan laba bersih Indocement tahun 2021 bakal pesat dibandingkan pencapaian tahun 2020.

Dia juga memperkirakan bahwa Indocement bakal menganggarkan belanja modal yang relatif rendah tahun 2021, karena tidak adanya akuisisi seiring masih oversupply pabrik semen nasional. Hal itu membuat kas internal perseroan besar, sehingga rasio dividen perseroan tetap tinggi tahun 2021. Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham INTP dengan target harga Rp 16.050.

Revisi Target Laba

Di lain pihak, BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya merevisi naik target laba bersih Indocement tahun 2020-2021. Peningkatan target tersebut menggambarkan kuatnya margin operasional dan keuntungan perseroan hingga kuartal III-2020. Sedangkan realisasi volume penjualan semen perseroan sebanyak 14,7 juta ton untuk Januari-November 2020 telah merefleksikan 92% dari target tahun 2020.

Adapun target laba bersih Indocement tahun 2020 direvisi naik dari Rp 1,31 triliun menjadi Rp 1,48 triliun. Sedangkan pendapatan diperkirakan mencapai Rp 14,19 triliun dengan estimasi volume penjualan semen mencapai 16 juta ton.

Begitu juga dengan perkiraan laba bersih perseroan tahun 2021 direvisi naik dari Rp 1,53 triliun menjadi Rp 1,48 triliun. Perkiraan pendapatan dipertahankan sebesar Rp 15,03 triliun dengan asumsi volume semen yang terjual mencapai 16,6 juta ton.

BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan bahwa outlook Indocement juga didukung oleh upaya manajemen untuk mengintensifkan pemasaran dengan mulai menerapkan sales force automatization (SFA). Sistem ini diharapkan mencakup penjualan seluruh semen perseroan di Pulau Jawa tahun 2020 dan luar Jawa tahun 2021.

Perseroan juga berniat memperkuat brand untuk membidik pasar lapis kedua guna bersaing dengan merek semen baru, seperti Singa Merah di Jawa Timur dan Semen Grobogan di Jawa Tengah. Indocement tidak akan mengorbankan merek Tiga Roda untuk melawan persaingan pasar di lapis kedua.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham INTP dengan target harga direvisi naik menjadi Rp 18.100.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN