Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mata uang digital bitcoin. ( Foto: Ina Fassbender / AFP via Getty Images )

Mata uang digital bitcoin. ( Foto: Ina Fassbender / AFP via Getty Images )

Ini Dia 8 Pemicu yang Hajar Harga Bitcoin (BTC) di Tahun Ini

Selasa, 11 Januari 2022 | 11:02 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id - Melorotnya harga Bitcoin dan kripto lain dalam perdagangan Selasa (11/1) berhulu dari perkembangan makro ekonomi di Amerika Serikat, salah satunya adalah kepastian rencana The Fed untuk mempercepat menaikkan suku bunga acuan, berdasarkan risalah hasil rapat bank sentral itu pada Desember 2021.

Dalam riset Triv yang dikutip Selasa (11/1), pasar kripto dan Bitcoin akan terus meluruh pada tahun 2022 ini dalam kaitan dengan kebijakan bank sentral, moneter dan makro ekonomi. Hal tersebut setidaknya terjadi karena delapan penyebab ini.

Pertama, harga Bitcoin semakin berkorelasi dengan harga saham sepanjang tahun 2021, mencapai beberapa level tertinggi pada Desember 2021. Menurut data dari Bloomberg, pada 3 Desember 2021, koefisien korelasi 100 hari antara Bitcoin dan S&P 500 adalah 0,33, di mana 1 berarti mereka selalu bergerak bersama dan -1 berarti mereka benar-benar berbeda. Nilai 0,33 memang terbilang kecil, tetapi relatif bergerak bersamaan, walaupun tidak selalu, sehingga patut dijadikan patokan analisis.

“Dengan kata lain, untuk memantau tren pasar kripto, perlu dipantau juga pasar modal yang basis analisisnya berpangkal dari kebijakan ekonomi makro di AS, sebagai pasar modal terbesar di dunia. The Fed punya faktor besar dalam kebijakan ekonomi seperti itu,” tulis riset Triv yang dikutip Selasa (11/1).

Baca juga: Bitcoin (BTC) Ambruk Ke Level Terendah Sejak September, Sejenak Tinggalkan Level US$ 40.000

Kedua, perihal tapering sebagai upaya lain untuk menekan inflasi di AS. Tapering adalah mengurangi secara cepat dan bertahap nilai pembelian aset oleh The Fed. Aset ini berupa obligasi pemerintah dan sejumlah obligasi perusahaan.

Ketiga, tapering akan secara otomatis mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan dan menyusul bank-bank komersial akan menaikkan biaya kredit (pinjam modal), baik kepada individu dan perusahaan.

Keempat, lazimya kebijakan bank sentral akan dapat dirasakan dampaknya, paling cepat selama 1 tahun. Dalam proses itu, secara bertahap laju belanja oleh konsumen juga akan berkurang, karena memutuskan lebih berhemat, karena tingkat likuiditas berkurang.

Kelima, ini akan membentuk penguatan nilai indeks dolar terhadap mata uang besar, seperti euro, yen dan lain sebagainya.

Keenam, bagi pemerintah AS, penguatan dolar dan segala kebijakan moneter The Fed akan mengurangi biaya impor barang dari luar negeri yang bisa meredam harga barang dan jasa di dalam negeri. Di sini, problem inflasi hampir pasti terselesaikan.

Ketujuh, skenario terburuk dari penarikan pasokan dolar ini, demi meredam inflasi tinggi, akan disusul gejolak bearish di pasar saham, termasuk perdagangan aset berisiko tinggi seperti di kripto. Di sisi korporasi, karena biaya modal semakin tinggi justru bisa mengurangi pasokan produk ke konsumen, walaupun agak terbantu dengan biaya impor yang rendah.

Baca juga: Sentimen Suku Bunga The Fed Picu Aksi Jual Bitcoin

Kedelapan, penguatan dolar saat ini sangatlah nyata, setidaknya dari segi teknikal di time frame mingguan. Berdasarkan indikator Moving Average (MA) 50 dan MA 200, MA 50 cenderung akan menembus ke atas MA200 yang menandakan dolar akan semakin menguat. Gerakan seperti ini terjadi sebelumnya antara 6 Mei 2019 hingga 23 Maret 2020.

Menurunnya nilai dolar dalam jangka panjang tidak terbantahkan. Itulah salah satu penyebab Bitcoin dirancang oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2008, sebagai respons terhadap krisis keuangan. Krisis itu sendiri salah satunya disebabkan oleh lalainya The Fed melihat masalah kredit macet di sektor perumahan dan berdampak buruk ke pasar modal.

“Bagi kami, raja uang dolar AS akan mengalami penurunan lebih lanjut, menyusul pelemahan ekonomi di dalam negeri AS dan akan mendorong pembelian kripto termasuk Bitcoin. Kita hanya perlu menantinya,” tulis riset Triv.

 

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN