Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat perkembangan saham melalui monitor, di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Investor melihat perkembangan saham melalui monitor, di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Ini yang Membuat BRIS Bergerak Liar

Minggu, 25 Oktober 2020 | 09:55 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Dalam sepekan ini, saham PT Bank Rakyat Indonesia Syariah Tbk (BRIS) menjadi trending pembicaraan pelaku pasar. Saham BRIS yang bergerak liar seperti roller coaster, membuat pelaku pasar sport jantung.

Ketua LP3M Investa Hari Prabowo mengatakan, harga BRIS bergerak liar karena investor menyikapi secara berbeda dalam merespons aksi merger bank BUMN syariah.

1. Ada investor yang percaya bahwa harga BRIS akan kembali turun ke tingkat harga appraisal sebesar Rp 781,29 per saham. Invetor kelompok ini cenderung menjual sahamnya secara masif sebelum harganya jatuh lebih dalam.

Dalam prospektusnya, BRI Syariah memberikan opsi kepada pemegang saham minoritas yang tidak setuju dengan keputusan merger ini untuk menjual sahamnya kepada BRI paling lambat 19 November 2020. BRI akan membeli saham tersebut dengan harga Rp 781,29 per saham sesuai nilai wajar.

2. Investor yang mempercayai bahwa harga wajar BRIS tidak sekecil itu. Kelompok ini cenderung wait and see dan memanfaatkan peluang dari pergerakan liar saham BRIS untuk mendapatkan capital gain dalam jangka pendek. Di pasar modal, dikenal dengan istilah "copet"

3. Investor yang percaya dengan prospek merger bank syariah yang akan meningkatkan valuasi BRIS hingga lebih dari Rp 2.000. Kelompok ini cenderung mengakumulasi barang ketika harga saham BRIS turun.

Kekuatan ketiga kelompok ini tarik menarik cukup kuat sehingga saham BRIS bergerak liar. Pada perdagangan hari Jumat, harga saham BRIS kembali dimainkan sempat naik lebih dari 6%, kemudian dibanting dan "pingsan" kembali terkena ARB turun hampir 7% ke level Rp 1.210.

"Psikologi pasar sangat mempengaruhi pergerakan saham BRIS," ujarnya.

Pergerakan saham BRIS dalam sepekan.
Pergerakan saham BRIS dalam sepekan.

Permainan Psikologi

Bandar BRIS dinilai pandai memanfaatkan psikologi pasar. Investor ritel dibangun mindsetnya bahwa prospek merger bank syariah akan membawa harga saham melambung di atas Rp 2.000. Tetapi kemudian dibuat down dengan membuat harga BRIS tiga kali mengalami ARB.

Setelah rilis prospektus bahwa harga wajar BRIS Rp 781,29, BRIS terus mengalami tekanan jual. Yang menarik, pada Jumat investor asing tercatat mengakumulasi BRIS dengan nilai Rp 8,34 miliar di pasar reguler. Namun, setelah asing berhenti, saham BRIS "pingsan" lagi.

Founder dan Creative Director dari Creative Trading System dalam potcast nya, Sabtu malam mengatakan agar investor berhati-hati menyikapi pergerakan saham BRIS. "Hati-hati bandar BRIS kejam, sopirnya kasar" katanya.

Alasannya, setelah dua kali mengalami auto reject bawah (ARB) pada perdagangan Rabu dan Kamis, pada Jumat harga saham BRIS kembali dimainkan dan sempat naik lebih dari 6% sehingga investor ritel banyak yang kembali masuk dengan harapan harga akan kembali dilambungkan.

Namun, kenyataannya berbeda. Harga BRIS pada akhir pekan kembali terkena ARB pada level Rp 1.210. "Kejadian seperti BRIS bukan yang pertama kali terjadi di pasar modal. Aksi korporasi kemudian digoreng bandar, terus semua investor ritel dibuat optimis padahal bandar pingin jualan," katanya.

Di jagad twitter, pergerakan saham BRIS juga menjadi perbincangan hangat. "Benar-benar menguji adrenalin," kata investor.

"Cuma di Indonesia saham syariah jadi arena judi," kata akun VVIP ilmuqadrun saham. Yang kemudian ditanggapi akun lainnya. "Iyes,,,nyopet atau kecopet kita..wkwkw."

Floating Saham

Rencana merger ini ditargetkan efektif pada 1 Februari 2021 masih menyisakan pekerjaan rumah bagi investor yang akan menjadi sentimen naik turunnya BRIS. Sebab, dengan merger saham publik terdilusi hingga menjadi 4,4%, padahal Bursa Efek Indonesia menetapkan ketentuan minimal floating saham 7,5%.

Menurut mantan Dirut Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud, minimum floating 7,5% itu bisa dilakukan dengan BMRI, BBNI, dan BBRI melepas saham BRIS di pasar masing-masing 1,1%. BMRI masih tetap pengendali dan memiliki 50% lebih.

Konsekuensi dari langkah ini tentu akan menambah pasokan saham BRIS di pasar. "Prospek jangka panjang saya optimis," katanya.

Alasannya:

1. bank syariah sejak tiga tahun lalu mencatat pertumbuhan yang lebih baik dari bank konvensional, di hampir semua variabel.

2. Di tengah pandemi saat ini, bank syariah justru menunjukkan pertumbuhan yang mencengangkan.

3. Gelombang migrasi dari bank konvensional ke bank syariah adalah bola salju yang baru menggelinding.

4. Di sektor keuangan, skala ekonomis nyaris segala galanya.

5. Kemampuan memanfaatkan jaringan induk membuat bank hasil gabungan itu punya network yang lebih besar dari induknya secara individual

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Edwin Sebayang mengatakan, dalam jangka panjang, harga BRIS bisa meningkat tajam.

“Menurut perhitungan harga wajar dari BRIS setelah merger sekitar Rp 1900-an._ Ke depan, saya optimistis harga BRIS bisa mencapai minimal Rp 2800-an,” katanya.

Dia menjelaskan, perhitungan harga tersebut dilakukan dengan melihat perkembangan harga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang dahulu juga merupakan merger empat bank. Setelah Bank Mandiri melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/ IPO) saham pada 2003, harga saham BMRI di level Rp 675.Namun, saat ini sudah mencapai Rp 5.525.

Menurut Edwin, hal yang terjadi saat ini bisa dilihat secara teknikal. Kenaikan harga BRIS yang sangat cepat beberapa waktu lalu memunculkan beberapa gap pada harga Rp 1.125-1200. “Kenaikan yang demikian cepat juga membuat BRIS menjadi jenuh beli (overbought), sehingga perlu cooling down. Tidak heran terjadi profit taking,” papar dia.

Pada awal pengumuman rencana merger, harga BRIS sempat mengalami auto rejection batas atas (ARA) selama dua hari berturut-turut pada 13-14 Oktober 2020. Sebelum perdagangan dihentikan sementara karena auto reject, harga BRIS melonjak 25% ke level Rp 1.405. Bahkan, pada penutupan perdagangan 20 Oktober 2020, harga BRIS melesat ke level di atas Rp 1.500. Harga saham ini sudah naik 175,22% dibandingkan harga pada awal perseroan menjadi perusahaan terbuka, yakni Rp 545.

Merger Bank Syariah BUMN
Merger Bank Syariah BUMN

Pilih Cara Simpel

Analis Ichimoku, Dwi Tjahjo Purnomo mengatakan, saat ini investor ritel banyak membahas topik BRIS yang dalam proses merger. "Sudah banyak yang membahas mengenai BRIS baik dari sisi fundamental maupun teknikal. Dalam teori memang idealnya harga akan bergerak mendekati nilai fundamentalnya. Namun sering yang terjadi tidak demikian. Pasar ternyata mempunyai caranya sendiri," katanya.

Tjahjo tidak ingin membahas mengenai kedua aspek tersebut, tetapi ia memilih cara seperti permainan catur. Ia mencoba menganalisis permainan lawan secara simpel dengan dua pertanyaan.

1. Jika mempunyai BRIS dalam jumlah besar di rata rata harga 400 yang sudah saya kumpulkan selama satu tahun, dengan harga saat ini yang sempat hampir 1600 dan investor (ritel) bersedia membeli. Apakah saya akan tetap hold atau jual? Kemungkinan saya akan jual.

2. Pertanyaan kedua. jika penjualan besar, dan ditampung oleh investor retail yang mana investor ritel tersebut hanya merupakan investor jangka pendek, apakah harga BRIS mampu bertahan diharga sekarang dan tidak terkoreksi lebih dalam?

"Trading sebenarnya mudah, namum kita sendiri yang kadang membuat trading menjadi rumit. Kita sering kali menggunakan berbagai macam alat analisis sekaligus yang sering kali malah membuat kita kesulitan sendiri dalam melaksanakan keputusan investasi," katanya.

Berdasarkan pengamatannya, fase mania dimana smart investor mengakumulasi BRIS sudah terjadi pada 18 Mei ketika harga Rp 272. Namun investor baru mulai ramai dan mengkhayal harga menuju Rp 2.700 setelah pengumuman merger.

Saat investor ritel ramai mengkhayal harga BRIS, saat itulah smart investor mulai keluar karena dengan harga Rp 1.600, mereka sudah untung lebih dari 400%.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN