Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teknisi merawat BTS XL Axiata. (IST)

Teknisi merawat BTS XL Axiata. (IST)

Investasi dan Pemangkasan Utang XL Usai Penjualan Menara

Parluhutan Situmorang, Sabtu, 15 Februari 2020 | 09:45 WIB

JAKARTA, investor.id - Divestasi sebanyak 2.782 menara telekomunikasi bakal berimbas positif terhadap struktur permodalan PT XL Axiata Tbk (EXCL). Sebab, dana hasil penjualan menara tersebut akan memperbesar ruang perseroan untuk berinvestasi penguatan jaringan dan memangkas utangnya ke depan.

XL sebelumnya telah menetapkan PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) dan PT Centratama Menara Indonesia (CMI) sebagai pemenang tender penjualan sebanyak 2.782 menara telekomunikasi senilai Rp 4,05 triliun. Aksi korporasi ini ditargetkan tuntas paling lambat akhir kuartal I tahun ini.

Protelindo merupakan anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), perusahaan yang dimiliki oleh Grup Djarum. Sedangkan Centratama Menara Indonesia adalah anak usaha PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT).

Protelindo memenangi tender untuk membeli sebanyak 1.728 unit menara dan CMI sebanyak 1.054 unit menara. Selain perjanjian jual beli, XL Axiata telah menandatangani perjanjian induk sewa menyewa menara dengan kedua perusahaan pemenang tender. XL Axiata akan menyewa kembali 2.763 unit menara yang dijual tersebut untuk jangka waktu 10 tahun.

Perseroan menjadi penyewa utama (anchor tenant) dengan harga relatif kompetitif, terhitung sejak tanggal penyelesaian transaksi yang dijadwalkan pada atau sebelum tanggal 30 Juni 2020.

Analis Danareksa Sekuritas Niko Margaronis mengungkapkan, perolehan dana hasil divestasi menara tersebut memperbesar peluang XL untuk memangkas utang. “Kami melihat XL memiliki ruang untuk memangkas utang,” tulis dia dalam risetnya, baru-baru ini.

Dana tersebut, ungkap dia, membantu XL untuk mengatur likuiditas di tengah besarnya utang yang harus dilunasi pada 2020 berkisar Rp 4,9 triliun.

Selain itu, perseroan mendapatkan harga sewa relatif murah untuk menara telekomunikasi yang telah dijual tersebut dalam jangka waktu 10 tahun. XL juga akan dijadikan sebagai penyewa utama (tenant anchor) menara tersebut.

Sementara itu, analis CGS CIMB Sekuritas Foong Choong Chen mengungkapkan bahwa manajemen XL menyebutkan bahwa divestasi menara telekomunikasi ditargetkan tuntas pada kuartal I tahun ini.

Sedangkan dana hasil perolehan dimanfaatkan untuk memangkas total utang. Perseroan juga mendapatkan harga sewa yang murah untuk seluruh menara tersebut berkisar Rp 10 juta per bulan per menara dibandingkan pasaran senilai Rp 12 juta per menara.

Dengan manfaat yang diperoleh, harga penjualan menara sebesar EV/EBITDA 10,2 kali sudah tergolong bagus. Harga jual menara tersebut memang lebih rendah 6-14% dari harga jual menara telekomunikasi PT Indosat Tbk (ISAT) kepada Mitratel dan Protelindo, beberapa waktu lalu.

“Harga jual menara tersebut memang lebih rendah, tetapi perseroan mendapatkan manfaat dengan harga sewa yang relatif murah untuk jangka waktu 10 tahun mendatang. Hal tersebut tentu menguntungkan perseroan ke depan,” jelas Choong Chen dalam risetnya.

Di lain pihak, Sinarmas Sekuritas juga menyebutkan bahwa penjualan menara telekomunikasi tersebut akan berimbas positif terhadap terhadap keuangan XL. Masuknya dana segar diharapkan mendukung belanja modal perseroan ke depan, memangkas utang, dan menaikkan tingkat keuntungan dari penjualan menara tersebut.

Persaingan Sengit

Jaringan XL Axiata (Foto: XL Axiata/IST)
Jaringan XL Axiata (Foto: XL Axiata/IST)

Terkait prospek bisnis telekomunikasi tahun ini, Niko menjelaskan bahwa masih diselimuti persaingan sengit. Hal ini berpotensi membuat tingkat pertumbuhan pendapatan XL satu digit, yaitu berkisar 5% tahun ini.

Pertumbuhan diharapkan datang dari pelanggan di luar pulau Jawa. Sedangkan belanja modal, ungkap dia, diperkirakan mencapai Rp 7,5 triliun. Sebesar 50% dana tersebut kemungkinan dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur XL di luar Pulau Jawa. Penguatan jaringan tersebut diharapkan berimbas terhadap pertumbuhan pangsa pasar perseroan di luar Pulau Jawa.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham EXCL dengan target harga Rp 3.800. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan EV/ EBITDA sebesar 5,8 kali tahun ini.

Target harga tersebut juga mempertimbangkan perkiraan kenaikan laba bersih XL menjadi Rp 725 miliar tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar Rp 713 miliar. Sedangkan pendapatan diharapkan naik tipis dari Rp 25,13 triliun menjadi Rp 26,4 triliun.

Sedangkan Choong Chen menye butkan bahwa pendapatan layanan seluler XL terus tergerus akibat sengitnya persaingan usaha. Persaingan tersebut diperkirakan terus berlanjut hingga tahun ini, sehingga memaksa perseroan untuk menetapkan harga jual layanan bisa berkompetisi dengan operator lainnya.

“Meski demikian, kami memperkirakan kinerja keuangan XL tetap tumbuh tahun ini diidorong tingginya pendapatan data, pesatnya pertumbuhan perseroan di luar Jawa, dan berjalannya efisiensi biaya,” ungkapnya.

Berbagai kondisi tersebut mendorong CGS CIMB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi add saham EXCL dengan arget harga Rp 3.600. Target harga tersebut dipangkas dari sebelumnya Rp 3.750. Pemangkasan target harga sebagi imbas masih sengitnya persaingan industri telekomunikasi di dalam negeri.

Sinarmas Sekuritas juga memberikan pandangan positif terhadap investasi besar-besaran XL di luar Pulau Jawa sejak 2016. Perseroan telah menganggarkan belanja modal sebear Rp 7,5 triliun tahun lalu yang sebagian besar untuk investasi jaringan 4G dan fiber di sejumlah lokasi di luar Jawa.

Teknisi bekerja di menara XL Axiata. (Foto; XL Axiata/IST)
Teknisi bekerja di menara XL Axiata. (Foto; XL Axiata/IST)

Sinarmas Sekuritas juga menyebutkan bahwa XL diperkirakan mampu untuk mempertahankan pertumbuhan kinerja keuangan hingga tahun ini. “Perseroan tetap bertumbuh, namun kami mewaspadai risiko penigkatan kompetisi yang berimbas terhadap penurunan pangsa pasar perseroan,” terangnya. Sinarmas

Sekuritas merevisi naik rekomendasi saham EXCL dari netral menjadi add dengan target harga Rp 3.650. Target harga tersebut juga mempertimbangkan perkiraan berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan.

Adapun laba bersih XL diproyeksikan meningkat menjadi Rp 1,24 triliun dan pendapatan menjadi Rp 27,70 triliun tahun ini. Sedangkan perkiraan pendapatan dan laba bersih tahun 2021 masing-masing Rp 29,67 triliun dan Rp 1,27 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN