Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
GoTo. (Foto: Perseroan)

GoTo. (Foto: Perseroan)

Investasi di GOTO Bukan Cari Cuan Harian atau Mingguan, tapi Prospek ke Depan

Jumat, 20 Mei 2022 | 20:50 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Sejumlah perusahaan tercatat menjadi investor sekaligus pemegang saham di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Dengan bergabungnya perusahaan dalam ekosistem GoTo, diharapkan bisa memperluas kolaborasi dan kerja sama strategis yang semakin meningkatkan value added bagi kedua pihak.

Memang, kinerja harga saham GOTO pasca melantai di bursa masih dinamis naik dan turun di bawah harga IPO. Sehingga untuk sementara waktu, nilai investasi sejumlah perusahaan di GoTo ikut terpengaruh, seperti yang dialami Telkom dan Astra.

Namun, jika melirik pergerakan saham GOTO hingga saat ini, maka GOTO termasuk saham yang sangat atraktif. Tercatat Jumat sore (20/5) ditutup pada level Rp 304 per saham, naik dibanding pembukaan pagi Rp 280. Jika tren ini mampu bertahan dan terus naik, maka prospek gain atau cuan kembali muncul.

Baca juga: Harga Naik, Transaksi Saham GOTO Top Active

Pengamat pasar modal Reza Priyambada menilai, investasi yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan terhadap GOTO kiranya perlu pisahkan antara investasi dalam bentuk penyertaan terhadap bisnis dan investasi dalam bentuk non-bisnis.

Menurut Reza, investasi yang terkait dengan bisnis bisa diilustrasikan seseorang ikut berinvestasi dalam bisnis perusahaan tersebut. Artinya, dia tidak terlalu melihat apakah harga saham di pasar naik atau turun. Hal ini seperti dilakukan Telkom, di mana melihat potensi masa depan dan kolaborasi untuk meningkatkan nilai perusahaan.

"Yang penting, perusahaan yang dipilih untuk investasikan masih berjalan dan terus mengembangkan bisnisnya. Concern-nya pada kelangsungan bisnis dan pengembangan maupun ekspansi bisnis yang dilakukan," ucap Reza, saat dihubungi, baru-baru ini.

Sementara itu, kalau investasi non-bisnis, lebih melihat ke hasil atau return jangka pendek yang bisa diambil. Ada target return yang hendak dicapai. Alhasil, misal sebuah perusahaan atau seseorang yang berinvestasi tidak perlu tahu bagaimana bisnis yang dijalankan atau bagaimana cara mereka untuk mengembangkan maupun ekspansi bisnis.

"Yang diperhatikan adalah apakah saham tersebut naik atau turun karena berpengaruh pada hasil investasinya," ucap Reza.

Perusahaan yang berinvestasi di GOTO bukan melihat kenaikan harga saham dalam jangka pendek, tapi bisnis jangka panjangnya.

Baca juga: Menguat Lebih dari 50% Sepekan, Dua Sekuritas Ini Tetap Rekomendasikan Beli Saham GOTO

Seperti investasi yang dilakukan Telkom di GOTO lebih terkait dengan potensi di masa depan. Di mana mengedepankan sisi kolaborasi yang saling menguntungkan di antara kedua belah pihak. Harapannya sama-sama mengerek kinerja dan memberi manfaat luas kepada masyarakat.

"Dengan melihat gaya investasi yang mereka lakukan, seperti Telkom, saya melihatnya lebih memperhatikan going concern dari bisnis yang dilakukan dan bagaimana ekosistem bisnis mereka bisa bertumbuh. Dan, orientasi mereka tentunya ialah jangka panjang, bukan hitungan harian atau mingguan," tegas Reza.

Karena itu, perusahaan yang berinvetasi di perusahaan lain, biasanya lebih memiliki horison jangka panjang. Seperti terbukanya peluang pengembangan bisnis yang bertujuan untuk menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus juga menaikkan nilai perusahaan di masa depan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN