Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor memperhatikan pergerakan saham di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan A Rachim

Investor memperhatikan pergerakan saham di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan A Rachim

CAPITAL INFLOW RP195,5 TRILIUN (YTD)

Investor Lokal Penyelamat IHSG

Triyan Pangastuti, Sabtu, 12 Oktober 2019 | 12:19 WIB

JAKARTA, investor.id – Meskipun investor asing melakukan aksi jual dan mencatat net selling sebesar Rp 477,8 miliar pada perdagangan Jumat (11/10), indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia (BEI) mampu melonjak 82 poin (1,36%) ke level 6.105.

Kali ini investor lokal menjadi aktor utama dalam kenaikan indeks saham. Sementara itu, Bank Indonesia mencatat aliran investasi asing pada instrumen portofolio secara year to date (ytd) hingga 10 Oktober mencapai Rp 195,5 triliun.

Analis Binaar tha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta menilai, menguatnya indeks harga saham gabungan (IHSG) didorong oleh sentimen positif dari pernyataan salah satu pejabat Amerika Serikat yang menyatakan hasil pertemuan antara Tiongkok-Amerika Serikat membuahkan kesepakatan yang positif.

Nafan Aji Gusta. Sumber: BCTV
Nafan Aji Gusta. Sumber: BSTV

“Kita belum tahu dari pihak Tiongkok komentarnya seperti apa, tetapi statement dari pejabat di Washington memberikan optimisme bagi para pelaku pasar global untuk masuk ke dalam pasar modal, itu sentimen yang paling utama,” ungkapnya kepada Investor Daily, Jumat (11/10).

Nafan menambahkan, peluang The Fed yang akan kembali menurunkan tingkat suku acuan bunga sebesar 25 basis poin (bps) di akhir Oktober juga ikut menjadi sentimen positif bagi pergerakan indeks hari ini.

Indeks saham regional
Indeks saham regional

Sementara dari dalam negeri, pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto berhasil menjadi katalis positif bagi IHSG kemarin. “Hal tersebut menunjukkan situasi politik yang mulai kondusif. Pertemuan itu juga menunjukkan agar masyarakat bisa bersatu paska pemilu,” imbuh Nafan Aji.

Selain itu, kepastian mengenai pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih juga dinanti oleh para pelaku pasar. Sebab, setelah pelantikan tersebut, Presiden akan menentukan jajaran kabinet untuk pemerintahan baru.

Presiden Joko Widodo bersama Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (11/10/2019). Sumber: Joko Widodo
Presiden Joko Widodo bersama Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (11/10/2019). Sumber: Joko Widodo

“Kedua hal tersebut juga menjadi sentimen bagi para pelaku pasar, sebab nantinya menteri-menteri yang akan mengisi kabinet, juga menentukan iklim investasi di Indonesia,” ungkap Nafan Aji

Menurut Nafan, secara teknikal pergerakan IHSG pada pekan depan akan cenderung menguat namun masih belum signifikan. Namun, jika hasil pertemuan antara Amerika Serikat dan Tiongkok menghasilkan kesepakatan yang komprehensif maka pergerakan IHSG bisa berpotensi lebih menguat.

“Jika terjadi kesepakatan itu akan menjadi booster bagi indeks di pekan depan, soalnya akan lebih diapresiasi oleh para pelaku pasar,” ujar Nafan.

Pada perdagangan Jumat (11/10), IHSG ditutup naik 82,15 poin (1,36%) ke level 6.105,8. Level tertinggi indeks pada level 6.109,1 dan terendah 6.033,3. Menghijaunya IHSG disebabkan oleh optimisnya market terhadap perang dagang. Hal tersebut menyusul pernyataan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengatkan dirinya telah bertemu dengan perwakilan Tiongkok.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, bertemunya kedua negara tersebut menimbulkan optimisme besar terutama market. “Pertemuan tersebut untuk meningkatkan perundingan di antata kedua negara,” ujarnya saat dihubungi Investor Daily, Jumat (11/10).

Tiongkok menyambut pertemuan kedua negara tersebut, bahkan mereka datang dengan niat negosiasi yang tulus dan baik. Kemudian, AS dikabarkan telah menunda pengenaan tarif terhadap produk Tiongkok. Berlabuh ke sisi Uni Eropa,

Hans mengatakan, pertemuan perdana menteri (PM) Inggris dan perdana menteri Irlandia membawa angin segar ke market. Dalam pertemuan tersebut, PM Irlandia mengatakan, hingga Oktober mendatang Inggris dapat meninggalkan Uni Eropa. “Ini positif buat market, karena keluarnya Inggris karena kesepakatan, jadi market tidak akan cemas,” ujar Hans.

Namun demikian, penguatan IHSG tidak bisa dipastikan hingga akhir tahun. Pasalnya, hubungan AS dan Tiongkok terkadang optimis dan bisa berubah menjadi negatif. “Minimal ini optimisme untuk jangka pendek untuk pasar. Kami berharap bisa rebound nanti, sehingga pada bulan Desember market dapat bergerak naik,” ujarnya.

Hans menambahkan, untuk menghadapi IHSG saat ini dan yang akan datang, investor disarankan untuk membeli saham di saat indeks melemah, karena itu waktu yang cukup bagus untuk melakukan akumulasi beli.

“Kita melihat indeks setiap kali mantul naik, jadi itu sebaiknya dipakai investor untuk melakukan akumulasi saham ketika terkoreksi,” tutup Hans.

Capital Inflow

Perry Warjiyo. Foto: IST
Perry Warjiyo. Foto: IST

Bank Indonesia (BI) menilai kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia masih baik, hal ini sejalan dengan aliran modal asing masuk atau inflow yang masih deras masuk ke Indonesia, khususnya untuk inflow ke portofolio khususnya surat berharga negara (SBN).

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, aliran investasi asing pada instrumen portofolio secara year to date hingga 10 Oktober mencapai Rp 195,5 triliun.

Adapun secara week to date, telah masuk Rp 3,04 triliun ke SBN. Meski begitu, telah terjadi outflow Rp 360 miliar dari pasar saham. Sehingga secara keseluruhan terjadi nett inflow Rp 2,54 triliun.

Perry mengatakan, untuk inflow yang deras masuk ke SBN disebabkan imbal hasil yang menarik. Sementara itu, untuk inflow yang berada di saham masih cenderung volatile dikarenakan kondisi global.

Imbal hasil yang ditawarkan pemerintah masih menarik, di tengah langkah BI yang telah menurunkan suku bunga acuannya atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (7 DRR) sebanyak tiga kali di tahun ini menjadi 5,25%.

Net Buy/Sell Asing bulanan 2019.
Net Buy/Sell Asing bulanan 2019.

“Itu menujukkan confident terhadap ekonomi Indonesia maupun imbal hasil investasi dalam negeri untuk asset instrument keuangan SBN yang masih cukup kuat dan terbukti dari berlanjut arus inflow por tofolio ke SBN. Untuk arus portofolio ke saham lebih volatile, bergerak naik turun, keluar masuk ke Indonesia. Terutama saat ini ada kondisi global pengaruhi inflow ke dalam negeri,” ujar Perry, di Gedung BI, Jakarta, Jumat (11/10).

Di samping itu, untuk posisi defisit transaksi berjalan (CAD), Perr y memperkirakan pada triwulan III -2019 masih akan bergerak sesuai perkiraan yakni 2,5% hingga 3% terhadap PDB. “Bulan lalu surplus neraca dagang, kami masih menunggu perhitungan akhir dari BPS. Kita tunggu tapi secara keseluruhan itu masih menunjukkan triwulan III akan di rentang 2,5 hingga 3 persen” jelas dia.

Dia mengatakan, CAD masih terkendali, sejalan dengan kondisi stabilitas eksternal yang terjaga dengan indikator pendanaan CAD masih memadai dengan dukungan dari penanaman modal asing (PMA) dan arus modal asing masuk dari portofolio.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, prospek inflow hingga akhir tahun masih akan bagus karena imbal hasil yang diberikan pemerintah Indonesia masih menarik dan atraktif dibandingkan negara berkembang lainnya.

Josua Pardede, ekonomi Bank Permata. Foto: metrotv
Josua Pardede, ekonomi Bank Permata. Foto: metrotv

“Kalau saham tidak terbatas buat JCI, tapi stok market di global dan emerging market terkena dampak negatif. Sebab, ada tren perlambatan global, berarti kinerja emiten cenderung menurun, jadi investor agak shifting ke bond market,” tuturnya, kepada Investor Daily, Jumat (11/10).

Apabila risiko asset portfolio lebih rendah dibandingkan saham, hal ini menyebabkan secara ytd masih terjadi inflow di portofolio, di tengah penurunan suku bunga acuan dan perlambatan ekonomi global.

“Hal ini akan memicu perpindahan asset ke bond market, sebab kinerja emiten cenderung menurun dari tren global” tuturnya.

Meskipun posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia per September 2019 menurun, tidak akan mempengaruhi aliran inflow hingga akhir tahun. Sebab, penurunan cadev lebih disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri.

Posisi kepemilikan SBN oleh Asing
Posisi kepemilikan SBN oleh Asing

Selain itu, volatilitas rupiah juga paling kecil jika dibandingkan negara lain, sehingga mendorong aliran inflow ke portofolio.

“Investor masih melihat stabilitas rupiah, portfolio investment pertimbangkan. Jika return menarik dan nilai tukar tidak stabil maka return yang cukup menarik akan tergerus. Jadi, kombinasi dua itu masih mendukung. Kemudian, didukung oleh ekspektasi dan prospek ekonomi masih cenderung membaik dengan kebijakan investasi didorong dalam kurun waktu lima tahun dan baru akan terlihat kurun waktu 5-10 tahun ke depan.

Dengan demikian, Josua menekankan pemerintah pelu menjaga kepercayaan investor khususnya portofolio agar tidak menurun bahkan terus meningkat dengan berbagai kebijakan dan prospek yang baik. (c03/c05)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA