Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi teknisi Indosat Ooredoo merawat jaringan telekomunikasi. (IST)

Ilustrasi teknisi Indosat Ooredoo merawat jaringan telekomunikasi. (IST)

Investor Publik Perlu Dilindungi, Peluang 'Backdoor' Listing Indosat oleh Tri

Selasa, 16 Februari 2021 | 15:36 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id -  Rencana konsolidasi PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT) dengan PT Hutchison 3 Indonesia (Tri) kemungkinan bermuara pada aksi backdoor listing oleh Tri. Oleh karena itu, aksi tersebut diharapkan tetap memperhatikan kepentingan pemegang saham publik.

Backdoor listing merupakan mekanisme perusahaan tertutup masuk bursa dengan cara mengakuisisi saham perusahaan yang sudah terlebih dahulu mencatkan saham di bursa efek. Praktek itu merupakan cara paling mudah dan cepat bagi korporasi untuk masuk ke bursa, tanpa perlu melewati berbagai persyaratan yang rumit untuk bisa mencatatkan sahamnya di bursa.

Pengamat pasar modal Reza Priyambada mengatakan, backdoor listing umumnya dilakukan oleh suatu perusahaan yang tidak memenuhi persyaratan go public atau tidak mau perusahaannya dicampuri oleh masyarakat, namun ingin mendapatkan akses pendanaan melalui pasar modal. Aksi tersebut legal, meskipun belum ada aturan yang khusus terkait aksi korporasi tersebut.

"Ketiadaan adanya aturan yang jelas mengenai praktik backdoor listing di Indonesia menimbulkan ketidakpastian apakah backdoor listing, khususnya yang dilakukan melalui akuisisi perusahaan publik, diperbolehkan menurut undang-undang di Indonesia,” dalam acara webinar “Mencermati Backdoor Listing di Bursa : Ada Resiko Bagi Investor” di Jakarta, Selasa (16/2).

Meski aksi korporasi tersebut legal, dia mengatakan, backdoor listing kadang menjadi alat pemegang saham tertentu untuk meraup keuntungan. Melalui backdoor listing, perusahaan tersebut berniat untuk menaikkan nilai perusahaan dan kapitalisasi pasar. Namun hal tersebut tidak akan bertahan cukup lama karena biasanya akan kembali turun, sehingga merugikan investor publik.

Memang tidak seluruh saham yang menggunakan mekanisme backdoor listing berujung buntung bagi investornya. Bisa saja emiten itu menjadi korporasi yang maju setelah mengubah bisnis utama akibat dari backdoor listing menjadi lebih baik secara fundamental, sehingga menguntungkan semua pihak.

Perlindungan Investor

Sementara itu, Pengamat ekonomi dan keuangan Yanuar Rizky mengatakan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diminta untuk lebih teliti dalam mengawasi setiap aksi emiten yang mengarah pada backdoor listing, karena kadang bisa menimbulkan kerugian kepada investor publik. Apalagi setelah tidak adanya lagi kewajiban tender offer pemegang saham pengendali terhadap saham publik setelah terjadi perubahan pengendali saham sebuah perusahaan terbuka, seperti melalui backdoor listing.

Menurut dia, kewajiban tender offer sebenarnya merupakan mekanisme yang bagus untuk melindungi kepentingan investor yang tidak setuju dengan rencana aksi korporasi, seperti backdoor listing. "Namun sejak tahun 2008, peraturan mandatory tender offer dicabut dengan alasan untuk mempercepat corporate restructuring perushaan yang terkena krisi,” ujar Yanuar.

Penawaran Tender Wajib (tender offer) yang diatur dalam Peraturan OJK tersebut adalah penawaran untuk membeli sisa saham perusahaan terbuka yang wajib dilakukan oleh pemegang saham pengendali baru. Namun pada Pasal 23 POJK tersebut menyebutkan bahwa perubahan pengendali yang diakibatkan karena penggabungan usaha (merger) dikecualikan dari kewajiban tender offer.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN