Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pesawat Lion Air di bandara. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Pesawat Lion Air di bandara. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

IPO Bernilai Jumbo, Lion Air Segera Roadshow

Farid Firdaus, Senin, 27 Januari 2020 | 07:29 WIB

JAKARTA, investor.id  – PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) dikabarkan bersiap melangsungkan pre-deal roadshow untuk rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. IPO yang diperkirakan memiliki target dana hingga US$ 1 miliar ini bakal menjadi yang terbesar pada 2020.

Laporan Reuters menyebutkan bahwa roadshow kepada investor akan dilakukan pada pekan keempat Januari dan berakhir 7 Februari 2020. Hal ini berdasarkan term sheet dari salah satu bank yang terlibat dalam penawaran tersebut.

Lion Air sebelumnya dikabarkan siap melepas saham ke publik pada kuartal I-2020, setelah perseroan melewati lebih dari setahun tragedi pesawat Boeing 737 Max 8 pada 29 Oktober 2018. Perseroan akan menggunakan dana hasil IPO untuk mengakuisisi armada pesawat yang saat ini beroperasi di bawah operating leases.

Ketika dikonfirmasi, manajemen Lion Air belum bersedia berkomentar lebih jauh. “Lion Air tidak mengomentari terkait spekulasi pasar. Perusahaan akan memberikan update kepada stakeholders, jika ada perkembangan informasi material terkait dengan perusahaan,” jelas manajemen Lion Air kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Hingga saat ini, Lion Air mengoperasikan 66 Boeing 737-900ER berkapasitas 215 kelas ekonomi, 38 Boeing 737-800NG dengan 189 kelas ekonomi, tiga Airbus 330-300CEO untuk 440 kelas ekonomi dan dua Airbus 330-900NEO untuk 436 kelas ekonomi.

Sementara itu, anak usaha perseroan, yakni Wings Air, memiliki armada yang terdiri atas 45 ATR 72-600 dan 19 ATR 72-500 yang berkapasitas 72 penumpang kelas ekonomi.

Kemudian, Batik Air mengandalkan 44 Airbus 320-200CEO untuk 12 kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi, enam Boeing 737-900ER dengan 12 kelas bisnis dan 168 kelas ekonomi, delapan Boeing 737- 800NG berkapasitas 12 kelas bisnis dan 150 kelas ekonomi serta satu Airbus 330-300CEO untuk 18 kelas bisnis dan 437 kelas ekonomi.

Selain Lion Air, ada sejumlah calon emiten yang menargetkan dana IPO bernilai jumbo. Salah satunya adalah perusahaan minyak dan gas milik keluarga Tampi, PT Sele Raya, yang membidik dana IPO sekitar US$ 100 juta. Berdasarkan laporan Bloomberg, dana hasil IPO akan digunakan untuk mengembangkan cadangan gas alam yang ditemukan oleh Sele Raya. Rencana bisnis ini disusul oleh berbagai proyek yang didorong oleh permintaan dari pasar domestik.

Sele Raya berencana membangun fasilitas produksi tambahan selama periode tiga tahun ke depan dengan nilai investasi US$ 150 juta. Selain dari dana IPO, perseroan turut mengambil sumber pendanaan dari kas internal.

Direktur Sele Raya Juchiro Tampi mengatakan, biaya produksi gas perseroan saat ini sebesar US$ 1,6 per MMBtu. Namun, menurutnya, calon pembeli gas perseroan bersedia membayar US$ 5,9 per MMBtu dan telah menandatangani kontrak pembelian hingga 2031.

Dengan demikian, perseroan tidak khawatir meskipun saat ini pemerintah tengah berusaha untuk menurunkan harga gas industri menjadi US$ 6 per MMBtu dari saat ini US$ 9 per MMBtu.

Berdasarkan website resmi, perseroan semula bernama CV Sele yang didirikan oleh Eddy Tampi dan beroperasi pertama kali di Sorong, Papua, pada 1972. Empat tahun kemudian, perseroan yang ketika itu bergerak di bisnis kontraktor migas berganti nama menjadi PT Sele Raya.

Seiring waktu berjalan, perseroan melebarkan ekspansinya pada proyek-proyek di Kalimantan, Laut Jawa, Sumatera, dan Jawa Timur untuk kontraktor perusahaan minyak besar seperti BP, Caltex, Chevron, Conocophilips, Pertamina, Shell, dan sebagainya.

Pada 1988, perseroan mulai menyediakan jasa kontraktor di Asia Tenggara, dengan ekspansi awal di Thailand. Dari bisnis kontraktor, perseroan akhirnya bertransformasi ke bisnis produksi migas pada 1980an.

Lebih lanjut, Bloomberg sebelumnya juga melaporkan bahwa Softex Indonesia merancang IPO saham dengan target dana hingga US$ 500 juta. Manajemen dikabarkan sudah bertemu dengan direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun lalu dalam rangka mematangkan aksi IPO. Perusahaan yang terkenal dengan produk pembalut wanita ini didukung oleh perusahaan investasi terkemuka, CVC Global Partners.

Adapun anak-anak usaha BUMN turut didorong untuk menawarkan sahamnya ke publik pada 2020. BNI Sekuritas menyatakan akan menangani lebih dari tiga IPO dengan nilai emisi diperkirakan mencapai Rp 4 triliun tahun ini. Salah satu perusahaan tersebut adalah anak usaha BUMN.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA