Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu pabrik milik PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Foto: Perseroan.

Salah satu pabrik milik PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Foto: Perseroan.

Jaga Pertumbuhan, Barito Pacific Siapkan 'Capex' US$ 185 Juta

Jumat, 12 Juni 2020 | 09:06 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menyesuaikan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2020 menjadi US$ 185 juta dari rencana semula US$ 525 juta. Meski demikian, perseroan tetap optimistis menghasilkan kinerja yang baik di tengah pandemi Covid-19.

Direktur Keuangan Barito Pacific David Kosasih mengatakan, penyesuaian capex paling banyak terjadi pada anak usaha perseroan, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), seiring penyesuaian jadwal ekspansi pabrik CAP II. Sedangkan anak usaha perseroan lainnya, yakni Star Energy Group Holdings Pte Ltd, menunda jadwal sejumlah program menjadi tahun depan lantaran pandemi Covid 1-9.

“Semula, capex Star Energy sebesar US$ 80 juta, lalu disesuaikan menjadi sekitar US$ 40 juta-an. Hal ini karena ada jadwal drilling yang bergeser ke tahun depan. Tahun ini, Star Energy fokus memaksimalkan operasionalnya,” kata David di Jakarta, Kamis (11/6).

Dia mengakui, pandemi membuat perseroan harus melihat kembali target pertumbuhan kinerja keuangan tahun ini. Sedangkan secara operasional, perseroan menerapkan standar protokol yang ketat sesuai dengan anjuran pemerintah selama pandemi.

Adapun kegiatan panas bumi Star Energy dinilai memberikan tingkat pendapatan dan EBITDA yang stabil, serta tren peningkatan laba bersih yang disebabkan oleh tren penurunan biaya bunga. Star Energy berhasil melaksanakan pemadaman terkait wabah Covid-19 atas tiga aset operasionalnya, yaitu Wayang Windu, Salak, dan Darajat, dengan tetap mempertahankan tingkat kapasitas sebesar lebih dari 95%.

Sementara itu, Chandra Asri tetap menjalankan proyek perluasan pabrik MTBE dan Butene-1 sebagaimana mestinya dengan target penyelesaian pada kuartal III-2020. Chandra Asri juga siap menuntaskan proyek Enclosed Ground Flare pada kuartal IV-2020.

Hingga kuartal I-2020, Barito Pacific mengalami penurunan pendapatan bersih sebesar 10% menjadi US$ 661 juta dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar US$ 679 juta. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh penurunan harga rata-rata penjualan produk petrokimia khususnya olefins dan polyfelins, dengan volume penjualan yang relatif stabil.

Biaya pendapatan perseroan sedikit meningkat sebesar 0,8% dari US$ 515 juta pada kuartal I-2019 menjadi US$ 519 juta pada kuartal I-2020. Kenaikan disebabkan oleh peningkatan konsumsi bahan baku pada industri petrokimia, dimbangi harga naphta yang lebih rendah, yakni rata-rata menjadi sebesar US$ 521 per metrik ton dari US$ 533 per metrik ton pada kuartal I-2019.

Seiring dengan itu, EBITDA perseroan menurun sebesar 40,4% dari US$ 161 juta pada kuartal I-2019 menjadi US$ 96 juta pada kaurtal I-2020. Penurunan disebabkan oleh menipisnya keuntungan dari kegiatan petrokimia akibat penurunan permintaan global terhadap produk petrokimia. Laba kotor perseroan juga turun menjadi US$ 72 juta atau 43,9% dari kuartal I-2019.

Beban keuangan perseroan tecatat turun sebesar 11,8% dari US$ 51 juta pada kuartal I-2019 menjadi US$ 45 juta pada kuartal I-2020. Penurunan terutama disebabkan oleh menurunnya pokok pinjaman Star Energy, pembayaran sebagian pokok pinjaman Chandra Asri, dan dampak dari pembiayaan kembali pinjaman yang dilakukan perseroan pada Desember 2019. Faktor-faktor ini turut diimbangi dengan penerbitan obligasi Chandra Asri sebesar Rp 750 miliar.

Alhasil, Barito Pacific membukukan laba bersih setelah pajak sebesar US$ 14 juta pada kuartal I-2020 dibandingkan kuartal I-2019 yang sebesar US$ 36 juta. Perolehan laba bersih sebagian besar dipengaruhi oleh laba kotor yang lebih rendah dari bisnis petrokimia.

Per 31 Maret 2020, total aset dan total liabilitas perseroan masing-masing sebesar US$ 7,13 miliar dan US$ 4,39 miliar. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan per akhir 2019 yang masing-masing sebesar US$ 7,18 miliar dan US$ 4,42 miliar.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN