Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di depan layar elktronik Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan melintas di depan layar elktronik Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

January Effect Gagal Angkat IHSG, Berikut Penyebabnya

Sabtu, 29 Januari 2022 | 17:23 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – Menjelang pengujung Januari 2022, penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) hanya 64 poin. January Effect yang digadang-gadang bakal mendongkrak indeks nyatanya gagal terwujud.

Senior Technical Analyst Henan Putihrai Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengungkapkan, ada beberapa sentimen negatif baik global maupun domestik yang membuat January Effect tahun ini sulit terwujud.

Sentimen pertama datang dari kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang menghentikan pembelian surat berharga alias tappering off. Kemudian, The Fed baru menyelesaikan FOMC meeting yang memutuskan peningkatan suku bunga sekitar 4 kali tahun ini dengan target paling cepat dimulai Maret 2022.

Menurut Liza, langkah tersebut diambil sekaligus untuk mengurangi pembelian US treasury akibat gelontoran stimulus triliunan USD, sehingga kebijakan tersebut bisa mendongkrak mata uang lainnya termasuk IDR. "Jadi market nerveous," ucap Liza kepada Investor Daily, di Jakarta, Sabtu (29/1).

Sentiment global selanjutnya datang dari geo political tension, seperti isu perang Russia dengan Ukraina. Bahkan, rumornya bisa menjadi world War III, walaupun sebetulnya masih jauh. Isu tersebut berpotensi mempengaruhi harga komoditas, terutama energi.

Baca juga: Sepekan, IHSG Lebih Banyak Ditutup di Zona Hijau

Isu perang tersebut juga yang kemudian memicu The Fed menaikkan suku bunga karena tingkat inflasi mereka yang semakin menggila. Awal-awal ketika inflasi naik, Ketua The Federal Reserve Jerome Powell mengira kenaikan itu sementara, namun ternyata konsisten di 6% akibat tingginya harga komoditas tinggi terutama bahan bakar minyak dan supply chain disruption.

"Jadi, karena banyak pabrik tidak beroperasi akibat pandemi. Apalagi, pabrik yang berhubungan dengan computer, sehingga menyebabkan spare part barang produksi menjadi langka disertai dengan kenaikan harga," imbuh Liza.

Tidak bisa dipungkiri, geopolitical tension juga berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah yang menyebabkan inflasi kian tak terkendali. Solusinya, negara-negara Opec Plus akan menggenjot produksi dan Amerika Serikat bakal menggeontorkan cadangan minyaknya. 

Adapun, peningkatan output minyak dari Libya diharapkan dapat memperbanyak supply minyak di pasar. "Jadi, harga crude oil bisa sedikit menjinak. Tapi, secara teknikal kami melihat, uptrend crude oil masih kencang sekitar 88-89 bahkan 90 area resistance. Tapi belum tentu akan lemah," kata dia.

Sentimen ketiga datang dari berlanjutnya sentimen negatif dari pandemi virus Corona. Terlebih, saat ini, menyebar varian baru Omicron di tingkat global hingga domestik.

Sementara dari level domestik, musim laporan keuangan akhir tahun akan dirilis pada akhir Januari atau awal Februari. Liza menungkapkan, semua market baik di UK, USA, dan Asia Pacific memantau musim laporan keuangan. Jika dibandingkan 2020, hasil kinerja keuangan emiten 2021 pasti bagus lantaran 2020 anjlok. Oleh karena itu, 2021 menjadi momentum tepat untuk bangkit.

Baca juga: Gara-gara The Fed, IHSG Bergerak seperti Roller Coaster

"Sayangnya, pada awal 2022 kembali diselimuti pesimis. Karena berbeda dengan 2021 yang perbandingannya low base effect, awal 2022 variabel negatif sangat banyak.

Jadi, dunia akan melihat 2022 lebih pesimis, dibandingkan optimistis, sehingga January Effect gagal tercapai. Bahkan, 2022 diprediksi bakal lebih sulit dari 2021," tutur dia.

January Barometer
Selain January Effect, lanjut Liza, terdapat istilah January Barometer yang akan memproyeksikan tren pasar ke depan. Pembahasan berlanjut ke January Barometer.

"Apa yang terjadi di Januari ini kurang lebih akan merefleksikan pergerakan pasar, seperti saat ini sideways. Banyak sentimen negatif yang sudah diperhitungkan sejak akhir 2021 dan awal tahun ini yang bakal mencerminkan pergerakan pasar keuangan global," terangnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN