Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Foto: Perseroan.

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Foto: Perseroan.

Japfa Comfeed Bukukan Laba Naik 10,65%

Ghafur Fadillah, Senin, 18 Mei 2020 | 09:15 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) berhasil menunjukan kinerja positif dengan meraih laba berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 343 miliar atau naik 10,65% dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp 310 miliar. Kenaikan ini ditopang oleh penjualan dan pendapatan usaha yang naik 6,07% menjadi Rp 9,08 triliun, dari sebelumnya Rp 8,56 triliun.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, manajemen Japfa mengungkapkan, pertumbuhan pendapatan dikontribusi oleh meningkatnya penjualan neto dari peternakan dan hasil olah peternakan yang dimiliki perseroan sebanyak 17,92% menjadi Rp 3,75 triliun dari periode 2019 senilai Rp 3,18 triliun. “Segmen peternakan sapi berkontribusi sejumlah Rp 315 miliar atau naik 3,96% dari tahun lalu menyumbang Rp 303 miliar,” ungkap manajemen dalam publikasinya, akhir pekan lalu.

Selain itu, pertumbuhan yang signifikan terlihat pada segmen perdagangan lain yang mencapai 109,89% yakni Rp 382 miliar dari kuartal I-2019 yang mencetak Rp 182 miliar.

Kemudian dengan pertumbuhan pendapatan tersebut berimbas pada naiknya  beban pokok penjualan perseroan sejumlah Rp 7,48 triliun, terangkat sebanyak 4,76% apabila dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yakni Rp 7,14 triliun. Adapun dengan meningkatnya beban tersebut memicu laba bruto perseroan naik menjadi Rp 1,59 triliun.

Lebih lanjut pada pos beban peningkatan juga terjadi pada beban penjualan dan pemasaran sebanyak 23,25% menjadi Rp 281 miliar dari tahun sebelumnya yaitu Rp 228 miliar. Ini diikuti oleh beban umum dan administrasi sejumlah Rp 734 atau setara dengan 8,74% dari kuartal I-2019 sebesar Rp 675 miliar. “Kendati demikian perseroan dapat mencetak pertumbuhan laba usaha sebanyak 19,13% menjadi 654 miliar dari periode yang sama yakni Rp 549 miliar,” jelas manajemen.

Di sisi lain, total aset perseroan per Maret 2020, tercatat sebanyak Rp 27, 64 triliun meningkat 9,77% dari tahun sebelumnya yaitu Rp 25,18 triliun, dengan rincian aset lancar sebanyak Rp 13,95 triliun dan aset tidak lancar sebesar Rp 13.69 triliun. Meski laba bertumbuh, segmen liabilitas perseroan juga menunjukan peningkatan sebanyak Rp 16,08 triliun atau terangkat 17.12% setelah pada tahun sebelumnya membukukan liabilitas Rp 13.73 triliun, yang terdiri atas liabilitas jangka panjang sebesar Rp 7,57 triliun dan liabilitas jangka panjang sejumlah Rp 8,51 triliun.

Dampak Pandemi

Sebelumnya, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Emma A Fauni mengungkapkan, harga daging ayam turun sejak Maret lalu. Rata-rata harga beli turun ke Rp 17 ribu per kilogram (kg). Penurunan harga kemungkinan dipengaruhi oleh kebijakan pembatasan sosial (social distancing) dan karantina mandiri akibat pandemic Covid-19 yang mengubah preferensi konsumsi masyarakat. 

Pandemi tersebut telah mengakibatkan perubahan pola konsumsi masyarakat, yaitu konsumen lebih memilih untuk menimbun bahan makanan tahan lama. Konsumen menghindari berbelanja ke pasar basah. “Memburuknya kondisi ekonomi juga dapat memperlemah daya beli masyarakat ke depan. Kebijakan fiskal pemerintah untuk menopang daya beli masyarakat tampaknya belum cukup untuk kalangan pekerja yang terdampak,” tulis Emma dalam risetnya. 

Menurut Emma, pemerintah memang telah meluncurkan sejumlah kebijakan, seperti pemusnahan induk ayam untuk menahan kejatuhan harga unggas dalam tiga bulan terakhir. Kebijakan tersebut seharusnya dapat mengangkat harga jual unggas pada kuartal I-2020,namun itu nampaknya belum bisa mengangkat harga jual daging ayam, apalagi ada wabah Covid-19. Begitu juga dengan harga jual anak ayam usia sehari (DOC). 

Emma memperkirakan harga DOC melemah akibat penurunan permintaan pasar. Penjualan DOC menjadi penyumbang terbesar pendapatan hampir semua emiten peternakan ayam di dalam negeri. Penurunan permintaan DOC sejalan dengan belum pulihnya harga jual daging ayam di pasaran. 

Terkait Ramadan pada kuartal II-2020, dia berharap momen itu seharusnya mampu mendongrak harga jual DOC dan ayam pedaging. Setelah itu, pada kuartal III-2020, harga bisa kembali melemah. Namun, sejak pandemi Covid-19 belum terlihat tanda-tanda pemulihan, harga jual daging ayam sudah turun bulan ini.

“Kami malah memperkirakan emiten peternakan dan pakan ternak akan kehilangan momentum pertumbuhan permintaan pada kuartal II tahun ini. Konsensus analis kemungkinan memangkas proyeksi kinerja keuangan emiten sektor ini,” jelas Emma.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN