Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) sepanjang Maret 2020 mengekspor berbagai produk pertanian dan perikanan ke berbagai negara seperti Amerika, Jepang, Taiwan, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), Singapura, Filipina, Myanmar, Vietnam, dan Malaysia.

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) sepanjang Maret 2020 mengekspor berbagai produk pertanian dan perikanan ke berbagai negara seperti Amerika, Jepang, Taiwan, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), Singapura, Filipina, Myanmar, Vietnam, dan Malaysia.

Japfa Menikmati Hasil Investasi dan Penjualan Pakan Ternak

Selasa, 7 Juli 2020 | 04:31 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Terkendalinya tingkat profitabilitas penjualan pakan ternak menjadi faktor utama penopang kinerja keuangan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) sepanjang tahun ini. Sedangkan besarnya investasi dalam tiga tahun terakhir mulai membuahkan hasil terhadap pertumbuhan pendapatan perseroan.

Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan kenaikan pendapatan Japfa menjadi Rp 38,84 triliun pada 2020 dibandingkan realisasi 2019 yang sebesar Rp 36,74 triliun. Namun, laba bersih diperkirakan turun menjadi Rp 1,36 triliun dari Rp 1,75 triliun.

Analis Mirae Asset Sekuritas Emma Fauni mengungkapkan, Japfa adalah satu-satunya perusahaan perunggasan dengan tingkat keuntungan segmen pakan ternak terbaik dibandingkan emiten sejenis.

“Kami memperkirakan margin keuntungan penjualan pakan ternak perseroan tetap stabil, meski industri sedang menghadapi tantangan berat,” tulis dia dalam risetnya, baru-baru ini.

Emma menegaskan, stabilnya margin keuntungan tersebut tidak lepas dari keputusan manajemen Japfa untuk berinvestasi lebih besar dalam tiga tahun terakhir dibandingkan emiten sejenis.

Dana tersebut dimanfaatkan untuk membiayai pengembangan silo untuk penyimpanan bahan baku pakan ternak. Peningkatan kapasitas silo juga memungkinkan perseroan melakukan manajemen bahan baku lebih baik.

“Kami memperkirakan Japfa akan tetap mempertahankan investasi yang agresif guna mendukung pertumbuhan ke depan, sama seperti yang telah dilakukan perseroan dalam beberapa tahun terakhir,” jelasnya.

japfa
japfa

Terkait persetujuan penerbitan saham baru sebanyak 3,5 miliar saham dan pembelian kembali saham maksimum Rp 350 miliar, itu kemungkinan dilaksanakan dalam 12 bulan setelah persetujuan diperoleh pada bulan lalu.

Dana hasil penerbitan saham baru akan dimanfaatkan untuk memangkas utang. Aksi tersebut bisa berimbas terhadap dilusi kepemilikan saham.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham JPFA dengan target harga Rp 1.370.

Target harga tersebut telah mempertimbangkan ekspektasi membaiknya kinerja keuangan perseoran tahun depan. Target tersebut juga dihitung berdasarkan harga saham JPFA saat ini masih belum mencerminkan harganya dibandingkan perusahaan sejenis.

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Victor Stefano mengungkapkan, ketidakpastian terhadap harga jual ayam pedaging masih bisa berlanjut. Sedangkan margin keuntungan penjualan pakan ternak Japfa diperkirakan sulit berlanjut tahun ini.

“Hal ini mendorong kami untuk mempertahankan penjualan perseroan cenderung mendatar tahun ini dan laba bersih diperkirakan turun,” jelas dia dalam risetnya.

Victor memperkirakan penurunan pendapatan Japfa menjadi Rp 33,26 triliun tahun ini dibandingkan perolehan tahun lalu Rp 36,74 triliun. Laba bersih juga diperkirakan turun dari Rp 1,76 triliun menjadi Rp 404 miliar.

Ternak ayam. Foto ilustrasi: Defrizal
Ternak ayam. Foto ilustrasi: Defrizal

Dia memperkirakan program culling atau pemusnahan induk ayam yang tidak produktif diharapkan terus berlanjut hingga akhir tahun ini. Namun, implementasi program tersebut tampaknya mulai kurang diawasi selama pandemic Covid-19.

Sedangkan produksi jagung diperkirakan melonjak tahun ini, namun penyerapan diperkirakan turun. Hal ini akan membuat petani menjual murah harga jagungnya yang bisa berimbas terhadap kekurangan dana petani untuk melakukan penanaman jagung kembali. Kondisi tersebut bisa berimbas terhadap produksi jagung nasional pada musim panen berikutnya.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi hold saham JPFA dengan target harga direvisi naik menjadi Rp 1.150.

Harga Melonjak

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas menyebutkan bahwa harga ayam pedaging kembali melonjak sejak Juni 2020 dibandingkan Januari-Mei 2020 yang mencatatkan penurunan harga terdalam. Kenaikan harga jual dipengaruhi oleh penurunan pasokan akibat sejumlah peternakan masyarakat menghentikan produksi setelah harga jual daging ayam sempat jatuh ke level terendah sepanjang

Januari-Mei 2020.

“Kami melihat bahwa re- bound harga ayam pedaging tersebut dipengaruhi oleh penurunan pasokan dibandingkan dengan penngkatan permintaan masyarakat. Penurunan pasokan terjadi setelah pemerintah melanjutkan program culling dan penghentian operasi peternak independen dengan kapasitas produksi mencapai 20-40 ribu,” jelas analis Mirae Asset Sekuritas Emma Fauni dalam risetnya.

Lonjakan harga jual ayam pedaging tersebut, ungkap Emma, akan berimbas terhadap dua faktor. Di antaranya, mendorong sejumlah peternak independen kembali mengoperasikan peternakannya yang disinyalir bisa berimbas terhadap peningkatan drastis pasokan di kala kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat masih rendah.

Di sisi lain, menurut dia, lonjakan harga tersebut akan berefek negatif terhadap ekonomi, karena bisa memicu kenaikan inflasi. Kenaikan harga jual tersebut akan kontraproduktif dengan keinginan pemerintah dalam mengendalikan inflasi sepanjang kondisi ekonomi yang tengah bergejolak.

Emma juga mencatat bahwa harga pembelian bahan baku pakan ternak, buntil kedelai, telah turun dalam beberapa kuartal ini setelah Tiongkok menurunkan permintaan selama pandemi flu babi Afrika dan berlanjutnya perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok. Sebagaimana diketahui bahwa 25% bahan baku pakan ternak menggunakan buntil kedelai yang seluruhnya diimpor.

“Kami memperkirakan harga impor buntil kedelai akan tetap terkendali dipengaruhi atas masih rendahnya permintaan di Tiongkok dan berkurangnya tekanan terhadap rupiah.  Begitu juga dengan harga jagung diperkirakan tidak akan bergejolak besar,” jelas dia.

Meski demikian, Mirae mempertahankan kinerja keuangan emiten peternakan. Pihaknya memperkirakan industri peternakan ayam diperkirakan tetap lebih baik pada semester II tahun ini dibandingkan realisasi pada semester I-2020. Namun, kinerjanya tetap lebih rendah dibandingkan pencapaian tahun lalu.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN