Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor mengamati pergerakan saham di Mandiri Sekuritas di Jakarta, baru-baru ini. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Investor mengamati pergerakan saham di Mandiri Sekuritas di Jakarta, baru-baru ini. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Juli Puncak Dividen, Pemegang Saham Diguyur Rp 33 Triliun

Farid Firdaus, Selasa, 30 Juni 2020 | 10:46 WIB

JAKARTA, investor.id – Sebanyak 42 emiten bersiap menebar dividen tunai Rp 33,05 triliun kepada para pemegang saham pada Juli 2020. Hal itu sekaligus menandakan periode puncak pembagian dividen emiten, yang telah diawali dengan musim rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) selama Juni 2020.

Agenda RUPST emiten masih terus bergulir selama Juli nanti. Pelaku pasar menanti RUPST berserta jadwal dividen emiten berkapitalisasi pasar besar seperti PT Unilever Tbk (UNVR), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Namun, selama Juni ini, hampir seluruh emiten LQ45 termasuk kelompok Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah menggelar RUPST dan mengumumkan jadwal pembagian dividen. Salah satu emiten yang loyal membagi dividen dengan nilai jumbo adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yakni Rp 15,26 triliun. Adapun cum dividen Telkom di pasar reguler dan negosiasi adalah 29 Juni, dan ex dividen 30 Juni. Sementara, recording date 1 Juli dan pembayaran dividen pada 23 Juli 2020.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan, hal yang wajar apabila ada pelemahan pada saham-saham setelah periode cum dan ex dividen. Sebab, bagi para trader saham jangka pendek periode setelah cum-date menjadi periode melepas sejumlah saham dan menarik keuntungan dari aksi tersebut. “Yang namanya trader mereka akan memutar investasi mereka setelah untung pada sebuah saham dan kemudian berinvestasi kembali di saham lainnya,” jelas dia kepada Investor Daily, Senin (29/6).

Para investor, lanjut Alfred, yang telah membidik dividen emiten sebenarnya telah mengoleksi saham tersebut jauh-jauh hari sebelum RUPS emiten digelar. Pelemahan saham setelah cum date atau dikenal dengan istilah dividend trap terbukti terjadi pada saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Dividen Juli 2020 ok
Dividen Juli 2020 lanjutan
Sumber: KSEI, diolah

Saat pembukaan perdagangan 19 Juni, saham PTBA langsung terkoreksi 6,94% dan tertahan auto rejection bawah. Ketika itu juga bertepatan dengan tanggal ex-dividen perseroan. Adapun, pada perdagangan Senin (29/06) saham PTBA berakhir pada level Rp 2.030 atau ditutup melemah 1,46%.

Bukit Asam bakal menyetor dividen senilai total Rp 3,56 triliun pada 10 Juli. Nilai tersebut setara 90% dari total laba bersih perseroan tahun lalu Rp 4,1 triliun, dan menjadi payout ratio tertinggi sepanjang sejarah perseroan.

Alfred menilai, prospek bisnis pada sektor batubara dan telekomunikasi masih cukup solid. Hal tersebut terlihat dari tren penguatan harga batubara belakangan ini, serta ketahanan industri telekomunikasi yang kuat dalam menghadapi pandemi Covid-19. Oleh sebab itu, investor tetap disarankan mempertahanan portfolio investasi sahamnya pada dua sektor tersebut. “Pemulihan ekonomi juga menjadi tema di Juli nanti. Dan apabila ada katalis yang kuat maka kesempatan indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus posisi 5.000 semakin terbuka,” jelas dia.

Emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diperbolehkan oleh otoritas untuk mengundur jadwal RUPST karena Covid-19 dinilai membuat periode puncak pembagian dividen sedikit bergeser. Pada tahun-tahun sebelumnya, Mei-Juni adalah periode puncaknya.

Lebih lanjut, potensi perlambatan ekonomi akibat pandemi turut membuat payout ratio sejumlah emiten mengecil. Hal ini bertujuan menjaga likuiditas perusahaan dalam menghadapi potensi tersebut. Semisal, payout ratio PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang tahun ini menjadi 10%, dari tahun lalu sebesar 40%. Selain itu, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) memiliki payout ratio dividen sekitar 5%, dibanding tahun lalu 15%.

Sementara itu, emiten barang konsumsi seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR) menaikan sedikit nilai dividen tahun buku 2019 menjadi Rp 30 per saham dari tahun sebelumnya Rp 29 per saham. Menghadapi risiko yang harus dihadapi pada 2020, manajemen Mayora menyampaikan akan terus melakukan inovasi dalam berbagai lini bisnis yang dimilikinya. Alhasil, produk-produk yang dihasilkan perseroan akan selalu relevan bagi konsumen.

“Upaya-upaya ini kami yakini akan mampu terus menunjang kinerja keuangan jangka panjang perseroan secara positif. Terlebih karena hasil produksi perseroan merupakan makanan dan minuman yang sudah menjadi kebutuhan dalam konsumsi masyarakat sehari hari,” jelas manajemen Mayora.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN