Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pergerakan harga saham terlihat di layar elektronik di Main Hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pergerakan harga saham terlihat di layar elektronik di Main Hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Jumlah Investor Pasar Modal Segera Tembus 3 Juta

Farid Firdaus, Senin, 29 Juni 2020 | 09:39 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis jumlah investor pasar modal segera menembus 3 juta investor dalam waktu dekat. Hal ini sejalan dengan berbagai stimulus yang telah dikucurkan demi menarik minat berinvestasi.

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan, investor ritel diperkirakan mengalami pertumbuhan rata-rata 100.000 per bulan. Sebanyak 22.000 per bulan dari jumlah tersebut merupakan investor saham.

Hingga Mei 2020, jumlah single investor identification (SID) mencapai 2,8 juta, atau telah bertumbuh 13% dari akhir 2019. Sebanyak 1,19 juta SID dari total investor merupakan investor saham yang telah meningkat 8% sejak akhir 2019.

“Jumlah SID tersebut hampir seluruhnya investor ritel. Karena hanya di bawah 20.000 yang tercatat sebagai investor institusi. Kita upayakan jumlah investor retail terus ditingkatkan dari waktu ke waktu,” jelas dia saat konferensi virtual di Jakarta, akhir pekan lalu.

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), terjadi peningkatan kumulatif tertinggi untuk jumlah investor muda atau milenial sejak 2016-Mei 2020. Selama periode tersebut, pertumbuhan investor baru paling agresif terjadi pada usia 18-30 tahun.

Secara rinci, investor usia 18-25 tahun jumlahnya telah meningkat 338,61%, sementara pada rentang usia 26-30 tahun, pertumbuhan kumulatifnya mencapai 204,97%. Sedangkan, investor berusia 31-40 tahun mengalami pertumbuhan kumulatif 113,85%, dan investor berusia 41-100 tahun bertumbuh 52,06% sejak 2016.

Peningkatan yang signifikan pada jumlah investor ritel ternyata membawah berkah tersendiri pada frekuensi perdagangan harian di BEI, yang bahkan terjadi di tengah pandemi Covid-19.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI Laksono Widodo mengatakan, terjadi kenaikan jumlah investor SID selama 2-19 Juni 2020 sebesar 84% dibandingkan dengan Juni 2019. Sementara frekuensi harian mengalami pertumbuhan 60% pada periode yang sama.

BEI mencetak rekor frekuensi perdagangan tertinggi pada 8 Juni dengan total frekuensi mencapai 742.000 kali dari investor ritel, dan 184.000 kali dari investor non-ritel.

Ketika itu, nilai transaksi yang dibukukan oleh investor ritel sebanyak Rp 7,19 triliun, dan transaksi investor non-ritel sebanyak Rp 4,33 triliun. Sementara volume transaksi harian untuk investor ritel mencapai rekor 10,53 miliar saham dibandingkan dengan volume transaksi harian investor non-ritel yang hanya 3,31 miliar saham.

“Adanya peningkatan transaksi didukung oleh sentimen pembukaan kembali ekonomi. Lalu fenomena baru dan menjadi fenomena di pasar luar negeri selama pandemi, yakni disposable income yang dipakai untuk berinvestasi,” jelas Laksono.

Biaya pencatatan

Dari sisi emiten, BEI berharap stimulus diskon 50% untuk mencatatkan saham perdana maupun baru mampu menarik berbagai perusahaan menggalang dana di pasar modal. Seperti diketahui, stimulus ini telah disetujui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berlaku sejak 18 Juni hingga 12 Desember 2020.

Direktur Penilaian Perusahaan I Gede Nyoman Yetna mengatakan, diskon biaya pencatatan saham perdana berlaku untuk emiten di papan utama, pengembangan, dan akselerasi. Ketiga papan pencatatan saham tersebut memiliki variasi biaya. Hal ini tergantung dari kisaran kapitalisasi pasar dan jumlah saham perdana yang dicatatkan.  

Secara rinci, papan utama normalnya memasang biaya Rp 25-250 juta, setelah terdiskon maka biayanya menjadi Rp 12,5-125 juta. Sementara papan pengembangan biasanya mematok biaya Rp 25-150 juta, setelah terdiskon maka biayanya minimum tetap Rp 25 juta, namun maksimumnya menjadi Rp 75 juta. Sedangkan biaya pencatatan pada saham akselerasi menjadi Rp 12,5 juta dari semula Rp 25 juta.

Lebih lanjut, aksi pencatatan saham baru melalui rights issue ataupun private placement turut mengalami pemangkasan biaya. Biaya pencatatan normalnya Rp10-150 juta, setelah terdiskon menjadi Rp5-75 juta. Kisaran biaya tergantung dari kelompok papan setiap emiten.

Hingga saat ini, terdapat 21 perusahaan yang berniat menggelar penawaran umum (initial public offering/IPO) saham di BEI. Sebanyak 11 calon emiten merupakan perusahaan dengan aset besar atau lebih dari Rp 250 miliar, 8 calon emiten kategori aset menengah atau setara Rp 50-250 miliar, dan dua calon emiten dari kelompok beraset kecil atau sekitar Rp 50 miliar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN