Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petugas membersihkan main hall di Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto ilustrasi:  Beritasatu Photo/Uthan AR

Petugas membersihkan main hall di Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Jumlah IPO Saham Indonesia Terbanyak di Asia Tenggara

Senin, 30 November 2020 | 15:55 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id -  Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencatat sebanyak 46 perusahaan yang menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dengan nilai Rp 5,22 triliun hingga 27 November 2020. Dengan jumlah penawaran umum tersebut, Indonesia menjadi negara dengan jumlah IPO tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, pencapaian jumlah IPO saham di Indonesia jauh di atas raihan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Malaysia dan Thailand hanya mencatat 14 perusahaan yang menggelar IPO saham. "Sementara Singapura dan Filipina mencatat jumlah IPO sebanyak 5 dan 2 perusahaan," ujar dia dalam acara Kafegama Webinar Series bertajuk "Percepatan Pengembangan Pasar Modal Syariah" pada Senin, (30/11).

Kendati jumlah perusahaan yang melaksanakan IPO saham mencapai 46 perusahaan, namun nilai emisinya masih relatif kecil. Inarno menjelaskan, dengan 46 perusahaan yang IPO tersebut, nilai emisinya mencapai US$ 360 juta atau sekitar Rp 5,22 triliun.

Sementara itu, Malaysia hanya mengoleksi 14 perusahaan yang IPO, namun nilainya sebesar US$ 480 juta. Bahkan, Thailand mencatat nilai emisi IPO sebesar US$ 4,19 miliar dari 14 perusahaan. Inarno mengungkapkan, bursa berharap ada perusahaan yang IPO dengan nilai yang besar sampai akhir tahun ini, sehingga nilai emisi tersebut bisa meningkatkan total emisi di pasar modal Indonesia. "Mudah-mudahan akhir tahun ini ada perusahaan yang akan IPO dengan nilai yang besar," terang dia.

Berdasarkan pipeline BEI per 27 November 2020, masih terdapat 20 perusahaan yang bakal melantai di bursa. Inarno menjelaskan, 20 perusahaan ini akan mencatatkan saham pada akhir 2020 ini atau pada kuartal I-2021.

Inarno melanjutkan, nilai emisi IPO sebesar Rp 5,22 triliun mengkontribusi nilai penawaran umum pada 27 November 2020 yang sudah mencapai Rp 108,1 triliun. Selain dari IPO, nilai penawaran umum juga berasal dari rights issue dan waran sebesar Rp 28,1 triliun.

Kemudian, penawaran umum lain berasal dari emisi obligasi dan sukuk sebesar Rp 74,47 triliun. Selanjutnya dari efek beragun aset (EBA) sebesar Rp 451,25 miliar dan exchange traded fund (ETF) sebesar Rp 47,51 miliar.

Seiring nilai penawaran umum yang sudah melebihi Rp 100 triliun, aktivitas transaksi di bursa juga terus meningkat. Inarno menyebutkan, transaksi harian di bursa pada November 2020 rata-rata mencapai Rp 11,9 triliun. Nilai transaksi harian ini merupakan nilai transaksi tertinggi sepanjang 2020. Hal ini sekaligus membuat rata-rata transaksi harian pada periode Januari-November 2020 mencapai Rp 8,3 triliun.

Peningkatan transaksi harian pada November 2020 ditopang oleh peningkatan frekuensi transaksi harian investor ritel. Inarno menyebutkan, per 27 November 2020, frekuensi transaksi harian investor ritel mencapai 148 ribu transaksi per hari. "Frekuensi transaksi ini merupakan frekuensi tertinggi sepanjang 2020 atau meningkat 184% dibandingkan Januari 2020," papar dia.

Aktifnya investor ritel bertransaksi diiringi pula oleh jumlah investor pasar modal yang meningkat. Per 27 Oktober 2020, jumlah investor pasar modal mencapai 3,39 juta orang dengan 1,43 juta orang atau 42,1% diantaranya adalah investor saham.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN