Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja melintasi layar saham di gedung BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pekerja melintasi layar saham di gedung BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Jumlah Saham Syariah Meningkat Tajam dalam 10 Tahun Terakhir

Kamis, 22 April 2021 | 07:06 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat perkembangan yang signifikan di industri pasar modal syariah. Dalam 10 tahun terakhir, yakni dari 2011 hingga 16 April 2021, jumlah saham syariah meningkat hingga 84% atau lebih tinggi dari jumlah saham di BEI yang mencapai 65%.

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis BEI Ignatius Denny Wicaksono menjelaskan, jumlah saham syariah baru mencapai 237 saham pada 2011, namun pada 16 April 2021 sudah mencapai 435 saham. Sementara total jumlah saham di BEI pada 2011 mencapai 440 saham. Jumlah saham ini hanya meningkat 65% menjadi 728 saham pada 16 April 2021.

Peningkatan ini tidak hanya terjadi pada jumlah saham syariah, tetapi juga dari segi kapitalisasi pasar. Denny mengatakan, dalam 10 tahun terakhir, kapitalisasi pasar saham syariah meningkat sekitar 6,4% per tahun menjadi Rp 3.493 triliun pada 16 April 2021.

"Rata-rata nilai transaksi harian juga meningkat 14,6% per tahun menjadi Rp 8,54 triliun per hari pada 16 April 2021," kata dia dalam acara Edukasi Wartawan Peluncuran Indeks IDX-MES BUMN 17 secara virtual, Rabu (21/4).

Jumlah investor syariah, lanjut Denny juga mencatat peningkatan signifikan dalam 6 tahun terakhir. BEI mencatat, jumlah investor syariah bertambah 1.913% dari 4.908 investor pada 2015 menjadi 93.870 investor hingga Maret 2021.

Melihat perkembangan yang positif ini, BEI berinisiatif meluncurkan indeks saham syariah baru, yakni IDX-MES BUMN 17. Dipilihnya indeks BUMN karena besarnya pengaruh saham BUMN terhadap pasar modal Tanah Air. "Saham BUMN yang tercatat di BEI hampir 24% dari kapitalisasi pasar modal di Indonesia, bahkan ditransaksikan 37% dari total nilai dan 29% frekuensi transaksi saham harian," jelas dia.

Selain itu, performa saham BUMN juga cukup baik dalam 10 tahun terakhir. Denny menyebutkan, jumlah saham BUMN bertambah 13 BUMN dan kapitalisasi pasarnya meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir.

Kehadiran indeks saham syariah BUMN ini juga diharapkan bisa menjadi alternatif basis produk reksa dana dan ETF. Selama ini hanya JII dari tiga indeks saham syariah yang menjadi rujukan produk investasi.

Secara rinci, Kepala Unit Pengembangan Produk I BEI Kautsar Primadi mengatakan, IDX-MES BUMN 17 ini terdiri atas 17 saham syariah yang merupakan Badan Usaha Milik Negara dan anak BUMN dengan kapitalisasi pasar, likuiditas baik dan fundamental perusahaan yang baik. Indeks ini akan dievaluasi secara mayor pada Mei dan November serta evaluasi minor pada Februari dan Agustus.

Adapun 17 saham yang menjadi penghuni konstituen IDX-MES BUMN 17 adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Timah Tbk (TINS), PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Waskita Beton Tbk (WTON), PT Wika Gedung Tbk (WEGE) dan PT Indofarma Tbk (INAF).

Dari sisi kinerja, indeks IDX-MES BUMN 17 ini membukukan kinerja yang cukup baik dari tahun 2016 hingga 2020. Berdasarkan backtesting yang dilakukan BEI, IDX-MES BUMN bahkan membukukan return 7,92% pada 2020 atau paling tinggi dibandingkan indeks saham syariah dan konvensional lainnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN