Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Foto: Perseroan.

PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Foto: Perseroan.

JV Grup Emtek Dekati Distributor Film Internasional dan Layanan Streaming

Farid Firdaus, Jumat, 20 September 2019 | 10:04 WIB

JAKARTA, investor.id – Kongsi antara Grup PT Elang Mahkota Teknlogi Tbk (EMTK) dan Grup Bakrie, yakni PT Screenplay Bumilangit Produksi, tengah bernegosiasi dengan sejumlah distributor film internasional serta penyedia layanan streaming termasuk Netflix. Pendekatan ini terkait hak tayang film-film dalam Jagat Sinema Bumilangit.

Screenplay Bumilangit merupakan perusahaan patungan (join venture/JV) antara PT Screenplay Sinema Film yang dikendalikan Grup Emtek dengan Bumilangit Entertainment yang dikuasai Grup Bakrie. Keduanya masing-masing memiliki 50% saham dalam JV tersebut.

Perusahaan ini telah berhasil meluncurkan Gundala yang disutradarai Joko Anwar sebagai film pembuka dari konsep Jagat Sinema Bumilangit (JSB) jilid pertama.

Produser Screenplay Sinema Film Wicky V Olindo mengatakan, sejak penayangan perdana hingga pekan ini, film Gundala diperkirakan telah menembus 1,7 juta penonton. Gundala juga telah melewati penayangan di salah satu festival film internasional bergengsi, yakni Festival Film Toronto 2019.

“Sambutannya luar biasa. Apresiasi yang kami terima terhadap film ini tidak hanya dari story telling, tapi juga dari sisi teknis. Kita ada tiga screening di Toronto dan semua tiket sold out,” jelas dia kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (19/9).

Setelah dari Toronto Film Festival, kata Wicky, pihaknya kian berusaha supaya Gundala bisa tayang di kancah internasional. Paling tidak di bioskop-bioskop negara Asia. Untuk itu, pihaknya masih melakukan pembicaraan dengan distributor-distributor asing.

Dia mengakui, sistem distribusi film di luar negeri berbeda dengan Indonesia. Pasalnya, di Indonesia, pihak produser bisa sekaligus bertindak sebagai distributor. Namun, tidak begitu dengan sistem distribusi di luar negeri. Adapun, dalam waktu dekat, Gundala bersiap tayang di Malaysia.

“Untuk penayangan global, ada perusahaan distribusi besar yang sedang kita ajak kerja sama. Masih confidential. Kita juga negosiasi dengan hampir semua penyedia layanan streaming,” jelas dia.

Wicky mengakui, pendapatan dari penayangan film secara global bisa sangat menjanjikan. Sebab itu, hal ini menjadi strategi perseroan ke depan. Pihaknya enggan secara terang-terangan menyebut anggaran yang dihabiskan dalam produksi film Gundala. Namun, dalam waktu dekat, Gundala diperkirakan segera menghasilkan laba atas investasi atau return on investment.

Dari sisi visualisasi, lanjut Wicky, pihaknya tidak menampik banyak penonton yang mengkritik soal teknologi computer-generated imagery (CGI) dalam film Gundala. Namun, dirinya berani bertaruh, visualisasi Gundala masih lebih baik ketimbang film-film luar negeri dengan anggaran yang hampir sama. Tercatat, Gundala setidaknya menghabiskan waktu syuting selama 50 hari di 70 lokasi berbeda.

“Jika dibandingkan secara apple to apple, film-film di Hollywood dengan budget di bawah US$ 5 juta diadu secara kualitas dan teknik CGI, Gundala masih bisa lebih unggul,” jelas dia.

Menurut Wicky, tidak adil jika Gundala dikomparasi dengan film-film pahlawan super besutan Marvel. Kemungkinan anggaran produksi Gundala hanya menjadi anggaran katering Marvel Cinematic Universe. Bahkan, sewa alat produksi Marvel dipastikan jauh lebih besar ketimbang anggaran Gundala.

Jangka Panjang

Pada kesempatan sama, Founder & CEO Bumilangit Entertainment R Bismarka Kurniawan mengatakan, secara umum pihaknya memang merujuk kepada model bisnis Marvel Entertainment.

Ini artinya, pendapatan tidak hanya bertumpu pada penjualan tiket dan hak tayang film, tapi juga berasal dari penjualan merchandise, seperti action figure. Salah satu vendor yang memproduksi action figure Gundala membandrol harga sebesar Rp 3,8 juta per unit.

Dari sini, kata Bismarka, tujuan Screenplay Bumilangit tidak hanya keuntungan komersial secara bisnis. Pihaknya cenderung melihat potensi keberlangsungan secara jangka panjang.

Bercermin pada model bisnis Marvel, juga tak lepas dari strategi raksasa animasi The Walt Disney Co. Sebagaimana diketahui, Disney resmi mengakuisisi 21st Century Fox pada Maret 2019. Hal ini membuat Disney memiliki kendali atau hak terhadap film-film karya Marvel Comics.

“Kita bisa lihat kenapa Disney masuk ke superhero dewasa. Ini supaya mereka bisa memperluar pasar. Nah, kami juga ingin Gundala meraih pendapatan dari sumber lain, termasuk bisnis publishing,” jelas dia.

Sebagai informasi, Bumilangit Entertainment yang berdiri sejak 2003 ini memiliki hak atas kekayaaan intelektual (intellectual property/IP) terhadap 1.100 karakter patriot Bumilangit.  Hal ini membuat Bumilangit menjadi pemilik IP animasi terbesar di Asia.

Setelah Gundala, dalam periode 2019-2023, akan ada tujuh film dalam Jagat Sinema Bumilangit Jilid I yang diproduksi Screenplay. Menurut Bismarka, sebenarnya pihaknya tidak spesifik memasang target selama lima tahun. Kerja sama ini diyakini bisa lebih panjang dari periode tersebut.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA