Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi. Foto: iStockPhoto.

Ilustrasi. Foto: iStockPhoto.

Kalbe dan Grup Hetero India Siap Pasok 300 Ribu Remdesivir

Kamis, 1 Oktober 2020 | 22:16 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) resmi memasarkan obat Remdesivir dengan merek Covifor seharga Rp 3 juta per vial (dosis). Obat untuk pasien Covid-19 ini diimpor perseroan dari PT Amarox Pharma Global, anak usaha perusahaan farmasi asal India, Hetero Drugs Ltd. Kerja sama ini akan memasok minimal 200-300 ribu dosis Covifor.

Presiden Direktur Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan, pihaknya memastikan Remdesivir didistribusikan langsung ke rumah sakit untuk pasien Covid-19 di seluruh Indonesia. Artinya, penjualan tidak dilakukan secara ritel. Harga awal yang dibanderol sebesar Rp 3 juta per vial kemungkinan bisa turun seiring dengan peningkatan volume penjualan.

“Kami masih mengkalkulasi total volume Covifor yang dibutuhkan pasien Covid-19. Kami bicara puluhan ribu untuk dua bulan pertama. 50 ribu dosis misalnya, itu sudah pasti tersedia,” kata dia dalam konferensi pers virtual, Kamis (1/10).

Vidjongtius menegaskan, proses distribusi Covifor untuk penggunaan darurat pada pasien Covid-19 sudah melewati persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Perseroan tidak menyebutkan nilai investasi. Namun, perseroan tidak membatasi investasi ini, lantaran bentuk pengeluaran adalah modal kerja untuk pengadaan barang.

Pada kesempatan sama, Country Manager Amarox Pharma Global Sandeep Sur mengatakan, pihaknya tidak membatasi jumlah Covifor untuk Kalbe. Pasalnya, pengadaan obat selalu disesuaikan dengan kebutuhan di Indonesia. Di sisi lain, perseroan dapat menjamin ketersediaan minimal 200-300 ribu dosis. “Jumlah sebanyak itu juga bisa terus bertambah, kami pastikan ketersediaan tahap awal pada Oktober hingga Desember tahun ini,” kata dia.

Sandeep menambahkan, Covifor diproduksi pada fasilitas produksi Grup Hetero yang modern dan mutakhir di Hyderabad, India. Produk ini memenuhi standar yang telah disetujui oleh otoritas regulasi global yang ketat seperti USFDA dan EU. Fasilitas produksi ini telah siap untuk ditingkatkan produksinya guna memenuhi persyaratan skala besar.

Sebagai informasi, Hetero merupakan salah satu farmasi di India yang membeli lisensi Covifor dari perusahaan Amerika Serikat (AS), Gilead Sciene Inc. Hetero mulai memasarkan produk tersebut pada pertengahan Juni, terutama pada kota-kota dengan tingkat kasus tinggi di India.

Pada Mei 2020, Gilead Sciences Inc memperluas voluntary non-exclusive license kepada Hetero untuk memproduksi dan mendistribusikan Remdesivir di 127 negara, termasuk Indonesia dalam rangka memperluas akses pengobatan Covid-19. Perseroan memasok Remdesivir ke Asia, Afrika, dan beberapa negara Amerika Latin serta Commonwealth of Independent States (CIS), sebagaimana tercakup dalam perjanjian lisensi dengan Gilead. “Hingga saat ini, Hetero sudah berhasil menjual lebih dari 1 juta dosis. Kami berharap produk ini dapat diterima dengan baik oleh banyak negara,” kata Sandeep.

Sementara itu, Perwakilan Tim Pakar Gugus Tugas Covid-19 Dr Erlina Burhan mengatakan, Remdesivir sebagai obat anti virus sangat berhasil dipakai untuk pasien Ebola dan dibanyak negara diujicobakan untuk pengobatan pasien Covid-19 dan memberikan hasil yang baik. Cara kerja obat ini adalah menghambat replikasi virus, sehingga tidak terjadi keparahan lebih lanjut. Kemudian, sistem imun tubuh akan bisa mengendalikan.

Pemberiannya juga diberikan melalui infus, hari pertama adalah 200 mg, hari berikutnya sebanyak 50-100 mg yang bisa diberikan selama 5-10 hari. Serta diinfuskan dengan NaCl 0,9%.

Erlina menambahkan, pihaknya akan melakukan uji klinis di RS Persahabatan terhadap 25 pasien. Namun, untuk pasien yang memiliki kelainan ginjal, riwayat alergi akan dikecualikan dari penelitian tersebut. “Harapannya ke depan dapat memberikan efektivitas yang baik dan juga aman untuk pasien Covid. Kami berharap ketersediaannya pun bisa merata ke seluruh Indonesia dan harganya yang juga terjangkau,” ujar Erlina.

Bisnis Nutrisi

Sementara itu, Kalbe Farma mengalihkan kepemilikan saham pada dua anak usaha di bisnis nutrisi kepada PT Sanghiang Perkasa. Nilai transaksi yang bersifat afiliasi ini mencapai Rp 309,97 miliar.  

Secara rinci, Kalbe melepas 51% saham PT Kalbe Milko Indonesia senilai Rp 44,88 miliar. Kalbe juga melepas 70% saham PT Kalbe Morinaga Indonesia senilai Rp 265,09 miliar. Penandatanganan akta jual beli saham dilakukan pada 29 September 2020.

Kalbe Milko merupakan perusahaan patungan antara Kalbe dengan PT Milko Baverage Industry, sementara Kalbe Morinaga adalah hasil joint venture dengan Morinaga Milk Industry Co Ltd.

Vidjongtius mengatakan, transaksi ini merupakan langkah perseroan dalam pengelompokan bisnis unit usaha perseroan ke divisi sejenis. Melalui pengalihan saham ini, perseroan berharap proses bisnis bisa lebih fokus dan lebih meningkatkan pengembangan produk dan layanan. “Sedangkan dari sisi internal, koordinasi mengenai supply chain, operasional pabrik, distribui, dan support lainnya dapat lebih lancar,” jelas dia dalam keterengan resmi.

Pada saat yang sama, Kalbe tercatat membeli 99,96% saham PT Karsa Lintas Buwana dari Sanghiang Perkasa. Nilai transaksi ini sebesar Rp 212,91 miliar. Aksi ini juga bagian dari upaya pengelompokkan divisi bisnis.

Sebelumnya, Bloomberg melaporkan, Kalbe mempertimbangkan rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham perdana Sanghiang Perkasa dengan target dana hingga US$ 500 juta. (iin)

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN