Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di depan layar perdagangan saham di Bursa efek Indonesia (BEI), di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan melintas di depan layar perdagangan saham di Bursa efek Indonesia (BEI), di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Kapitalisasi Pasar Saham Syariah Tembus Rp 3.061 Triliun

Selasa, 17 November 2020 | 12:29 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com) ,Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pasar saham syariah Indonesia menunjukkan kontinuitas pertumbuhan hingga 2020. Hal itu tampak pada lonjakan nilai kapitalisasi pasar saham syariah menjadi Rp 3.061,6 triliun atau 51,4% dari total kapitalisasi pasar saham Indonesia yang mencapai Rp 5.956,7 triliun.

Pertumbuhan pasar saham syariah tersebut didukung oleh peningkatan pemahaman masyarakat Indonesia terhadap investasi berbasis syariah. Pertumbuhan jumlah saham syariah juga memicu ketertarikan pemodal berinvestasi.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengatakan, jumlah saham syariah hingga 27 Oktober 2020 naik 90,3% menjadi 451 saham dibandingkan tahun 2011 yang sebanyak 237 saham. “Volume transaksi saham syariah mencapai 56,9% dan frekuensi transaksi tercatat 61,9% dari total frekuensi transaksi saham di BEI,” kata dia di sela Sharia Investment Week 2020, Senin (16/11).

Inarno menegaskan, pertumbuhan pasar saham syariah tersebut menunjukkan bahwa investasi syariah telah populer di masyarakat Indonesia. “Kami yakin ke depannya bakal semakin maju,” ujar dia.

Pada kesempatan yang sama, anggota Dewan Komisioner dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen mengatakan bahwa pasar modal syariah Indonesia merupakan pertama di dunia yang memiliki produk investasi lengkap dengan filantropi Islam, antara lain zakat saham, wakaf saham, dan wakaf tunai yang dikaitkan dengan Cash Wakaf Link Sukuk (CWLS).

“Data per September 2020 menunjukan bahwa jumlah wakif atau orang yang berwakaf saham telah mencapai 132 wakif dengan nilai wakaf lebih dari Rp 230 juta dan dilakukan melalui 5 AB,” tutur dia.

Menurut Hoesen, sukuk wakaf saat ini baru diterbitkan oleh pemerintah, namun pasa masa mendatang sukuk wakaf diharapkan dapat diterbitkan oleh pengelola aset wakaf (nazir) yang memenuhi syarat atau pihak korporasi yang bekerjasama dengan nazir.

Sebagai informasi, jumlah outstanding efek syariah di pasar modal saat ini adalah 467 saham syariah, 163 sukuk korporasi, 284 reksa dana syariah, serta 65 sukuk mudarabah.

Hingga September 2020, jumlah investor pasar modal meningkat 26,27% secara year to date (ytd) menjadi 3,13 juta. Adapun sampai 6 November 2020, jumlah penghimpunan dana melalui pasar modal mencapai Rp 97,74 triliun dari 144 penawaran umum, dimana 44 di antaranya merupakan emiten baru.

Pangsa Pasar

OJK mencatat bahwa pangsa pasar (market share) pasar modal syariah terus meningkat setiap tahunnya. Peningkatan ini terjadi pada hampir semua produk investasi, kecuali produk saham syariah.

Direktur Pasar Modal Syariah OJK Fadilah Kartikasasi mengatakan, per 6 November 2020, market share pasar modal syariah meningkat signifikan untuk produk sukuk negara. Tercatat, market share untuk sukuk negara mencapai 18,8% per 6 November 2020, meningkat dibandingkan akhir 2019 yang mencapai 18,45%.

Pangsa pasar atau market share ini juga meningkat pada produk reksa dana syariah. Fadilah menyebutkan, per 6 November 2020, pangsa pasar reksa dana syariah mencapai 13,36% atau meningkat dibandingkan akhir 2019 yang mencapai 9,91%.

Kemudian, peningkatan pangsa pasar modal syariah juga terjadi pada sukuk korporasi. Per 6 November 2020, pangsa pasar sukuk korporasi mencapai 7,12% atau meningkat dibandingkan akhir 2019 yang mencapai 6,53%. "Sedangkan untuk pangsa pasar saham syariah mengalami penurunan dari 51,55% pada akhir 2019 menjadi 51,25% pada 6 November 2020," ungkap Fadilah.

Untuk meningkatkan pangsa pasar ini, OJK berencana mengembangkan sukuk berbasis wakaf melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Menurut Fadilah, sukuk berbasis wakaf yang akan dikembangkan berbeda dengan sukuk wakaf yang dikembangkan Kementerian Keuangan. "Sukuk yang akan dikembangkan dengan memanfaatkan wakaf tanah," jelas dia.

Menurut Fadilah, dari data Badan Wakaf Indonesia (BWI), banyak tanah-tanah wakaf yang menganggur dan tidak dimanfaatkan dengan baik. Padahal, tanah wakaf ini bisa digunakan untuk dijadikan bangunan dan menghasilkan manfaat yang lebih besar lagi.

Selain itu, OJK juga akan mengembangkan inovasi lain terkait pengembangan produk di pasar modal syariah. Bentuk inovasi itu adalah dengan mengintegrasikan nilai-nilai environmental, social, and governance (ESG) dalam saham yang masuk dalam daftar efek syariah. "Kemudian, kami juga akan mengembangkan produk investasi berwawasan lingkungan," terang dia.

Fadilah menambahkan, pihaknya juga ingin menggunakan teknologi dalam menciptakan inovasi di pasar modal syariah. Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi blockchain yang bisa digunakan untuk pengembangan produk mikro sukuk.

Pemanfaatan teknologi lainnya adalah melalui pengembangan equity crowd funding (ECF) yang saat ini sudah ada di pasar modal konvensional. Dengan adanya platform ECF, pelaku UMKM yang ingin mendapatkan dana di pasar modal syariah bisa lebih mudah.

Dari sisi layanan, OJK akan meningkatkan bisnis kelembagaan di pasar modal syariah. Menurut Fadilah, jumlah layanan di pasar modal syariah sejauh ini sehingga perlu adanya penambahan layanan seperti bank kustodian dan layanan lainnya. Sejauh ini, baru ada 15 bank kustodian dan 1 manajer investasi syariah di pasar modal syariah. Sementara unit pengelola investasi syariah berjumlah 15 entitas.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN