Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Emas batangan. Foto ilustrasi: IST

Emas batangan. Foto ilustrasi: IST

Kekhawatian atas Virus Tiongkok Berkurang, Emas Turun Tipis

Gora Kunjana, Kamis, 23 Januari 2020 | 07:53 WIB

CHICAGO, investor.id - Emas turun sedikit pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), karena sentimen risiko pulih dan dolar menguat setelah kekhawatiran atas virus Tiongkok berkurang.

Tetapi ekspektasi kebijakan moneter dovish dari bank sentral global membatasi kerugian emas dan mempertahankan harga di atas US$ 1.550 per ounce.

Harga spot emas turun 0,1% menjadi US$ 1.556,67 per ounce pada pukul 1.41 sore waktu setempat (18.41 GMT). Sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Februari ditutup turun 0,1% atau US$ 1,2 menjadi US$ 1.556,7 per ounce.

"Investor sebenarnya menjual kelebihan posisi, dan itu menjaga harga tetap terbatas," kata Daniel Ghali, ahli strategi komoditas di TD Securities.

"Di sisi lain, kami juga melihat aliran minat (emas) yang stabil, dan pasar saat ini sedang kuat karena modal terlihat melindungi diri dari suku bunga riil negatif di seluruh dunia."

Investor akan mengawasi rapat kebijakan pertama Bank Sentral Eropa (ECB) tahun ini pada Kamis waktu setempat, sementara pertemuan pertama Federal Reserve AS dijadwalkan pada 28-29 Januari.

Kedua bank diperkirakan akan dovish.

Indeks dolar telah naik sekitar 1,2 % sejak awal tahun ini.

Pada 2020, "logam mulia tetap menjadi cerita yang terkait dengan kebijakan moneter yang longgar secara global dan kelemahan dolar AS yang luas," kata analis UBS dalam sebuah catatan.

"Terlepas dari suku bunga riil AS yang rendah dan dolar yang lebih lemah, emas akan mendapat manfaat dari lonjakan tiba-tiba dalam volatilitas pasar karena dinamika siklus akhir dan kebisingan geopolitik yang sedang berlangsung, terutama ketika kita mendekati pemilihan presiden AS 2020," kata UBS, memperkirakan emas akan naik menjadi US$ 1.600 tahun ini.

Suku bunga yang lebih rendah mengurangi potensi kerugian memegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil dan membebani dolar AS.

"Kekhawatiran tumbuh bahwa kita akan melihat kembalinya penghindaran risiko begitu Fed memberi sinyal neraca tidak akan lagi tumbuh pada kecepatan US$ 60 miliar per bulan atau jika kita melihat pembicaraan fase dua (perdagangan AS-Tiongkok) terhenti,” kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA, dalam sebuah catatan.

Tanggapan Tiongkok dan pembaruan cepat tentang virus korona baru telah meningkatkan optimisme bahwa penyebarannya akan terkendali, membantu pasar saham dunia pulih.

Kekhawatiran wabah itu bisa melanda aktivitas ekonomi menjelang perayaan Tahun Baru Imlek di Tiongkok telah membuat ekuitas turun dari rekor tertinggi pada Selasa (21/1/2020).

Di pasar spot perak naik 0,2% menjadi US$ 17,81 per ounce dan platinum naik 1,4% pada US$ 1.013,37 per ounce.

Sementara di pasar berjangka, perak untuk penyerahan Maret naik dua sen atau 0,11%, menjadi ditutup pada US$ 17,828 per ounce. Platinum untuk penyerahan April bertambah US$ 13,8 atau 1,37%, menjadi menetap di US$ 1.021,3 per ounce.

Sumber : ANTARA

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA