Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
ilustrasi harga minyak
Sumber: Antara

ilustrasi harga minyak Sumber: Antara

Kekhawatiran Pasokan, Minyak Ditutup Beragam

Jumat, 13 Mei 2022 | 05:40 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

NEW YORK, investor.id - Harga minyak ditutup beragam pada penutupan perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Hal ini dipicu atas kekhawatiran pasokan dan ketegangan geopolitik di Eropa menguasai kecemasan ekonomi yang mengganggu pasar keuangan ketika inflasi melonjak.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli turun 6 sen, menjadi menetap di US$ 107,45 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni terangkat 42 sen atau 0,4%, menjadi ditutup di US$ 106,13 per barel.

"Perdagangan tipis dan tidak ada yang tahu apa yang akan menggerakkan jarum," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York dikutip dari Antara, Jumat (13/5/2022).

Baca juga: Presiden Jokowi: Indonesia Siap Jadi Hub Produksi dan Distribusi Vaksin

Larangan Uni Eropa yang tertunda atas minyak dari Rusia, pemasok utama minyak mentah dan bahan bakar ke blok tersebut, diperkirakan akan semakin memperketat pasokan global.

Uni Eropa masih tawar-menawar rincian embargo Rusia, yang membutuhkan dukungan bulat. Namun, pemungutan suara telah ditunda karena Hongaria menentang larangan tersebut yang akan terlalu mengganggu perekonomiannya.

Secara lebih luas, harga minyak dan pasar keuangan telah berada di bawah tekanan minggu ini di tengah kegelisahan atas kenaikan suku bunga, dolar AS terkuat dalam dua dekade, kekhawatiran atas inflasi dan kemungkinan resesi.

Baca juga:  Usai Aktif Kembali, Rifan Financindo Berjangka Lakukan Pembenahan Internal

Lockdown Covid-19 yang berkepanjangan di importir minyak mentah utama dunia, Tiongkok, juga berdampak pada pasar.

"Kemerosotan pertumbuhan permintaan tidak bisa datang pada waktu yang lebih baik, dengan Tiongkok tampaknya di ambang mengunci ibu kota Beijing pada saat tertentu," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho.

IHK utama AS untuk 12 bulan hingga April melonjak 8,3%, memicu kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga yang lebih besar, dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Melonjaknya harga di SPBU dan melambatnya pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan secara signifikan mengekang pemulihan permintaan sepanjang sisa tahun ini dan hingga 2023," kata Badan Energi Internasional (IEA) pada Kamis (12/5/2022) dalam laporan bulanannya.

Baca juga: Peringkat Obligasi MTF Naik Jadi idAAA/Stabil

"Lockdown yang diperpanjang di seluruh Tiongkok...mendorong perlambatan signifikan di konsumen minyak terbesar kedua di dunia," tambah badan tersebut.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2022 untuk bulan kedua berturut-turut, mengutip dampak invasi Rusia ke Ukraina, meningkatnya inflasi, dan kebangkitan varian virus corona Omicron di Tiongkok.

Pada Rabu (11/5/2022), harga minyak melonjak 5% setelah Rusia memberikan sanksi kepada 31 perusahaan yang berbasis di negara-negara yang memberlakukan sanksi terhadap Moskow setelah invasi Ukraina.

Itu menciptakan kegelisahan di pasar pada saat yang sama aliran gas alam Rusia ke Eropa melalui Ukraina turun seperempat. Ini adalah pertama kalinya ekspor melalui Ukraina terganggu sejak invasi.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : ANTARA

BAGIKAN