Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kimia Farma. Foto: IST

Kimia Farma. Foto: IST

Kembangkan Fasilitas Bahan Baku Obat, Kimia Farma Gandeng Perusahaan Farmasi Asal Korsel

Selasa, 16 Februari 2021 | 21:51 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id - PT Kimia Farma Tbk (KAEF) menjalin kerja sama dengan perusahaan farmasi asal Korea Selatan yakni Sung Wun Pharmacopia Co. Ltd dalam percepatan pengembangan fasilitas Bahan Baku Obat (BBO).

Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo menjelaskan, kerja sama ini dilakukan lantaran Sung Wun Pharmacopia Co. Ltd dinilai memiliki kapabilitas riset kemampuan yang baik dalam pengembangan BBO.

“Selain itu, kerjasama tersebut juga berpeluang memberikan kesempatan transfer knowledge dan transfer technology pada Sumber Daya Manusia (SDM) yang kami miliki,” jelasnya dalam keterangan resmi, Selasa (16/2).

Seperti yang diketahui, Kimia Farma sudah membangun fasilitas produksi Bahan Baku Obat (BBO) yang berlokasi di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat  yang telah bersertifikasi Cara Pembuatan Bahan Baku Obat yang Baik dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) RI.

Selain sertifikasi dari Badan POM RI, perseroan juga melakukan sertifikasi Halal atas produk BBO dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengantisipasi implementasi UU 33 / 2014 Tahun 2019 tentang Jaminan Produk Halal. Sepanjang tahun 2020, Kimia Farma telah berhasil memproduksi 9 item BBO di tahun 2020 sesuai dengan prioritas kebutuhan nasional.

“Dengan demikian, kita harapkan dapat menurunkan impor BBO hingga sekitar 23% di tahun 2024 dengan terus melakukan pengembangan BBO lainnya,” ujarnya.

Kerjasama ini juga sejalan dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 tahun 2016 yang telah ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Diantara lain berfokus pada pengembangan ke arah Biopharmaceutical, Vaksin, Natural dan Active Pharmaceutical Ingredients (API) Kimia.

Percepatan ini bertujuan untuk  mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing industri farmasi dan alat kesehatan dalam negeri.

Menanggapi hal tersebut, Verdi mengatakan, beberapa tantangan yang harus dihadapi industri BBO di Indonesia antara lain dari aspek economic of scale, teknologi, SDM dan juga dari sisi regulasi. Mengingat, industri yang mengembangkan BBO masih terbilang baru.

“Sebagai startup industri tentunya diperlukan dukungan dari seluruh pihak untuk menyelesaikan tantangan itu, sehingga kedepannya industri BBO dapat mandiri dan mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat  industri farmasi dalam negeri,“pungkasnya.

Imbauan kepada investor

Sebelumnya, perseroan menghimbau para investor untuk berhati-hati dalam melakukan transaksi saham perseroan dan diminta untuk tetap mematuhi ketentuan pasar modal yang ada. Hal ini sebagai respons atas adanya aksi investor yang menawarkan saham KAEF di salah satu platform e-commerce (OLX).

Direktur Keuangan Kimia Farma Pardiman mengatakan, pihaknya mengapresiasi kepercayaan investor yang telah berinvestasi saham perseroan di pasar modal. Namun, para investor perlu untuk berhati-hati dalam melakukan perdagangan saham.

“Investor juga perlu untuk memperhatikan dan mematuhi ketentuan peraturan pasar modal yang berlaku,” jelas dia.

Pardiman menambahkan, Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan tempat bagi para pelaku saham untuk memperdagangkan setiap saham yang dimiliki dan ingin dibeli oleh para investor. Perdagangan efek di BEI hanya dapat dilakukan oleh anggota bursa (AB) yang juga menjadi anggota kliring penjamin efek Indonesia (KPEI).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN