Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perang dagang Amerika Serikat (AS) - Tiongkok. ( Foto ilustrasi: AFP / FILE )

Perang dagang Amerika Serikat (AS) - Tiongkok. ( Foto ilustrasi: AFP / FILE )

Kesepakatan AS-Tiongkok Bangkitkan Optimisme Pasar

Gita Rossiana/Iwan Subarkah Nurdiawan, Rabu, 15 Januari 2020 | 18:45 WIB

JAKARTA, investor.id -- Kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang akan ditandatangani Rabu (15/1) ini membangkitkan optimisme pasar. Optimisme itu terlihat dari mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang berakhir di zona hijau pada perdagangan kemarin. Sementara indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 28,84 poin atau 0,46% ke posisi 6.325,41.

Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok akan menggelar seremoni penandatanganan kesepakatan dagang fase pertama pada hari ini. Poin kesepakatan dagang yang akan ditandatangani di antaranya, AS akan memberi diskon terhadap tarif produk Tiongkok. Sebagai imbalannya, Tiongkok dipastikan membeli barang-barang AS hingga sekitar US$ 200 miliar selama dua tahun ke depan.

Analis PT Philip Sekuritas Anugerah Zamzami mengatakan, kenaikan IHSG pada perdagangan Selasa (14/1) lebih banyak disebabkan oleh euforia penandatanganan kesepakatan dagang antara AS dan Tiongkok. Selain itu, kenaikan IHSG juga disebabkan oleh derasnya arus modal asing ke pasar saham, terutama ke saham emiten berkapitalisasi besar (big caps).

"Net foreign buy mencapai Rp 1 triliun, menjadi yang terbeasar secara year to date (ytd)," terang Anugerah Zamzami kepada Investor Daily, Selasa (14/1).

Hal ini terutama terjadi di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Astra International Tbk (ASII). Kenaikan saham di ketiga emiten tersebut menggerakkan IHSG sebesar 29 poin pada perdagangan Selasa (14/1).

Nafan Aji Gusta. Sumber: BSTV
Nafan Aji Gusta. Sumber: BSTV

Di sisi lain, Analis PT Binaartha Sekuritas M Nafan Aji mengatakan, penyebab kenaikan IHSG pada perdagangan Selasa (14/1) adalah karena respons pelaku pasar terhadap terkendalinya kondisi politik dan keamanan di Timur Tengah pasca serangan yang dilakukan oleh AS.

"Serta menyambut kesepakatan perdagangan fase pertama antara AS dan Tiongkok pada 15 Januari 2020," kata dia.

Dengan penyebab tersebut, Nafan optimistis IHSG akan menguat hingga akhir pekan ini. Dia memprediksi IHSG akan berada di level 6.350-6.404 pada akhir pekan ini.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Foto: Beritasatu TV

Senada, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menjelaskan, yang menjadi katalis positif penguatan IHSG pada perdagangan kemarin adalah rencana penandatanganan kesepakatan dagang yang akan dilakukan oleh Amerika Serikat dan Tiongkok pada Rabu (15/1) ini, yang kemudian disusul dengan pernyataan dari Departemen Keuangan AS yang mencabut tuduhan Tiongkok sebagai manipulator mata uang. Keputusan tersebut diumumkan oleh AS menjelang penandatanganan kesepakatan dagang AS dan Tiongkok. "Sentimen ini akan terus menjadi katalis positif pada IHSG hingga penandatangan tersebut telah dilakukan kemungkinan IHSG akan terkoreksi tergantung dari hasil kesepakatan itu sendiri," ujarnya kepada Investor Daily, Selasa (14/01).

Bisa Capai Level 7.000

Sementara itu, Bahana Sekuritas memprediksi pasar saham domestik akan bangkit memasuki tahun 2020 dan IHSG akan mencapai level 7.000, setelah pada 2019 mencatat kinerja kurang memuaskan.

Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa (14/1), mengemukakan, pasar saham akan mendapat sentimen positif dari kinerja emiten yang diperkirakan akan lebih baik pada 2020.

"Bila pada tahun lalu laba bersih emiten tumbuh rata-rata sekitar 2%, pada tahun ini diperkirakan akan naik pada kisaran 9%, yang terjadi di hampir seluruh sektor kecuali sektor batu bara yang masih akan mendapat tekanan dari rendahnya harga batu bara di pasar global," paparnya seperti dilansir Antara.

Bila dibandingkan dengan pasar surat utang dan juga properti, lanjut dia, pasar saham masih menawarkan keuntungan yang lebih baik karena dengan level suku bunga acuan dan inflasi yang terjaga rendah, yield surat utang diperkirakan tidak akan mengalami banyak kenaikan, bahkan cenderung turun.

"Apalagi The Fed telah memberikan indikasi suku bunga yang tidak akan turun lagi pada tahun ini," katanya.

Sejalan dengan suku bunga global, lanjut Lucky Ariesandi, Bank Indonesia juga telah memberikan sinyal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Bank Indonesia, kata dia, telah menurunkan suku bunga BI 7-day reserve rapo rate secara total sebesar 1% sejak Juli hingga Oktober 2019 ke level 5% dan bertahan hingga Desember 2019, dengan tingkat inflasi sepanjang 2019 sebesar 2,72%. Saat ini rata-rata yield surat utang berada pada kisaran 7%.

"Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, masih ada ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini," ujarnya.

Menurut dia, turunnya suku bunga yang diikuti dengan realisasi kebijakan omnibus law akan mampu menggenjot masuknya investasi, yang pada akhirnya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi pada 2020 ini.

Penopang lainnya, Lucky menyampaikan, yang membuat pasar saham akan lebih bergairah pada tahun ini adalah rencana kenaikan pajak reksa dana menjadi 10% dari yang saat ini berlaku sebesar 5%.

Semula, ia memaparkan, kenaikan pajak reksa dana direncanakan pada 2014, namun kenaikan tersebut tertunda. Rencana kenaikan pajak kemungkinan tidak akan mundur lagi karena dana kelolaan reksa dana sudah naik cukup signifikan dalam lima tahun terakhir, dan di sisi lain pemerintah berencana memotong pajak bagi korporasi.

Menurut dia, untuk menjaga pendapatan pajak negara tetap stabil, pendapatan negara yang berkurang akibat potongan pajak korporasi, sebagian akan ditutupi dari kenaikan pajak reksa dana.

"Rencana kenaikan pajak reksa dana ini akan menjadi katalis bagi investor untuk kembali masuk ke pasar saham," katanya.

Di sisi lain, Lucky mengatakan, meski kondisi perekonomian global masih dihantui sejumlah ketidakpastian, investor asing diperkirakan kembali melirik pasar saham negara berkembang, salah satunya Indonesia, setelah pada 2019 lalu investor asing membukukan aksi jual yang cukup besar.

"Berbagai skenario itu membuat kami cukup yakin pasar saham akan kembali bergairah pada 2020 ini, sehingga bisa mendorong IHSG naik hingga ke level 7.000 poin," kata Lucky.

Ia mengemukakan, sektor-sektor yang masih positif sepanjang tahun ini diperkirakan berasal dari emiten perbankan, tembakau, kelapa sawit, dan obat-obatan. Sedangkan beberapa sektor yang harus dicermati diantaranya batubara, konsumer yang terkait ritel sebagai dampak dari kenaikan iuran BPJS.

Terkait konflik Amerika Serikat terhadap Iran di awal tahun ini, dapat menyebabkan naiknya harga minyak dunia.

Menurut Bahana Sekuritas, bila kenaikan harga minyak dunia terjadi, akan memberi sentimen negatif bagi nilai tukar, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja keuangan perusahaan dari sektor semen, obat-obat-obatan, dan konsumer karena banyak menggunakan komponen impor.

Tiongkok Beli US$ 200 M Barang AS

Bendera nasional Tiongkok. ( Foto: Thinkstock )
Bendera nasional Tiongkok. ( Foto: Thinkstock )

Sementara itu, Tiongkok dipastikan membeli barang-barang Amerika Serikat (AS) hingga sekitar US$ 200 miliar selama dua tahun ke depan. Komitmen pembelian tersebut diutarakan sumber-sumber yang dilansir sejumlah media internasional pada Selasa (14/1), jelang penandatanganan perjanjian perdagangan fase pertama antara kedua negara, Rabu (15/1), di Washington, AS.

Seorang sumber yang dikutip Reuters mengatakan, Tiongkok berjanji untuk membeli hampir US$ 80 miliar tambahan barang manufaktur dari AS selama dua tahun ke depan. Tiongkok juga akan membeli lebih dari US$ 50 miliar pasokan energi. Juga membeli produk-produk jasa AS sekitar US$ 35 miliar dalam periode yang sama.

Sumber itu mengatakan, perjanjian fase pertama itu meminta Tiongkok meningkatkan pembelian produk-produk pertanian AS sekitar US$ 32 miliar dalam dua tahun, atau sebesar US$ 16 miliar per tahun.

Jika digabungkan dengan ekspor pertanian AS yang mencapai US$ 24 miliar pada 2017, total penjualan akan mendekati US$ 40 miliar per tahun. Sesuai dengan target yang selama ini digaungkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Sementara South China Morning Post (SCMP) mengutip seorang sumber di pemerintahan Trump dan dua sumber lain yang mengetahui izi perjanjian tersebut melaporkan, Tiongkok akan membeli US$ 200 miliar barang AS di empat industri dalam dua tahun.

Barang-barang manufaktur dengan komitmen pembelian sekitar US$ 75 miliar. Tiongkok juga, kata SCMP, berjanji akan membeli produk energi senilai US$ 50 miliar, produk pertanian sebesar US$ 40 miliar serta produk-produk jasa antara US$ 35 miliar dan US$ 40 miliar.

Angka-angka itu akan diumumkan pada Rabu (15/1) ini, bersamaan dengan upacara penandatanganan perjanjian antara Trump dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He.

Komitmen pembelian barang AS oleh Tiongkok itu sangat besar. Sehingga muncul beberapa keraguan bagaimana itu akan tercapai.

Perwakilan Perdagangan AS atau USTR Robert Lighthizer pada Senin (13/1) waktu setempat menyebut perjanjian itu langkah besar ke depan bagi hubungan kedua negara.

“Kesepakatan yang sangat-sangat bagus bagi AS. Kami akan mencermati terus pemenuhannya. Kami perkirakan mereka akan mematuhi perjanjiannya. Jika tidak, kami akan menuntut dan bertindak,” kata Lighthizer kepada Fox Business Network, seperti dikutip Reuters.

Tatkala perjanjian perdagangan fase pertama ini tercapai pada 13 Desember 2019, para pejabat AS berujar bahwa Tiongkok setuju membeli US$ 200 miliar tambahan produk pertanian, manufaktur, energi, dan jasa AS selama dua tahun.

Produk-produk di keempat sektor tersebut akan diumumkan. Tapi, detail produknya secara spesifik tetap disimpan, supaya tidak terjadi distorsi di pasar.

Kenaikan pembelian produk pertanian AS sebesar US$ 32 miliar dibandingkan 2017 itu dikonfirmasikan oleh Myron Brilliant. Ia adalah kepala urusan internasional Kamar Dagang AS di Tiongkok. Ia berbicara kepada para wartawan di Beijing, Senin (13/1).

Produk-produk pertanian AS yang berpotensi ditingkatkan pembeliannya termasuk gandum, kedelai, sorgum, biji-bijian kering, dan jagung. Tapi, kalangan analis dan pedagang ragu apakah nilainya bisa mencapai sebesar itu. Sebab, jika Tiongkok bergantung terlalu besar kepada produk pertanian AS, dapat terkena masalah harga maupun pasokan.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat pernyataan tentang Iran di  Mar-a-Lago, Palm Beach Florida, pada 3 Januari 2020. ( Foto: AFP / JIM WATSON )
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat pernyataan tentang Iran di Mar-a-Lago, Palm Beach Florida, pada 3 Januari 2020. ( Foto: AFP / JIM WATSON )

Trump selama ini menyebut-nyebut Tiongkok akan meningkatkan besar-besaran pembelian produk pertanian AS. Karena hal ini akan membantu konstituen politiknya, yang terdampak tarif balasan dari Tiongkok, selama perang dagang yang berlangsung 18 bulan.

Sementara para eksekutif perusahaan di AS terus menunggu-nunggu barang-barang AS apa saja yang akan dibeli lebih banyak oleh Tiongkok, selain produk pertanian.

Salah satu sumber mengatakan bahwa kenaikan US$ 80 miliar produk manufaktur AS akan mencakup pembelian produk otomotif, suku cadangnya, pesawat, mesin pertanian, peralatan medis, dan semikonduktor. Tapi, belum diketahui dari siapa saja pemasoknya.

Untuk pesawat kemungkinan buatan Boeing Co. Karena merupakan eksportir terbesar pesawat dari AS dan penjualan barunya ke Tiongkok sudah terhenti selama dua tahun terakhir. Boeing juga sangat membutuhkan dorongan karena pesawat larisnya, 737 MAX, masih belum mendapatkan izin terbang lagi akibat dua kecelakaan pada akhir 2018 dan awal 2019.

Surplus Dagang

Tiongkok pada Selasa (14/1) mengumumkan bahwa surplus perdagangannya dengan AS berkurang tahun lalu. Akibat tarif impor ratusan miliar dolar AS yang menimpa barang-barang dari kedua negara.

Surplus perdagangan Tiongkok dengan AS mencapai US$ 295,8 miliar pada 2019. Turun 8,5% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 323,3 miliar.

Untuk Desember 2019 saja, surplus tersebut mencapai US$ 23,2 miliar. Juga turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 24,6 miliar.

Menyusul kesepakatan perdagangan fase pertama, pemerintahan Trump menunda pengenaan tarif baru atas barang impor asal Tiongkok. Termasuk produk-produk elektronik, yang seharusnya terkena tarif baru tersebut bulan lalu.

Pemerintah AS juga memangkas separuhnya, atas tarif yang dijatuhkan per 1 September 2019 atas US$ 120 miliar barang Tiongkok. Tapi AS mempertahankan 25% tarif atas US$ 250 miliar barang impor Tiongkok.

Sementara membaiknya hubungan kedua negara juga ditandai dengan pencabutan Tiongkok dari daftar manipulator mata uang, pada Senin waktu setempat oleh Departemen Keuangan AS. Pencabutan tersebut berkenaan dengan akan ditandatanganinya perjanjian perdagangan fase pertama tersebut.

“Dalam konteks ini, Depkeu memutuskan bahwa untuk sekarang Tiongkok tidak seharusnya dinyatakan sebagai manipulator mata uang,” kata Depkeu AS.

Kantor pusat JPMorgan Chase & Co. World di New York City, Amerika Serikat (AS). (Foto: AFP / Johannes EISELE)
Kantor pusat JPMorgan Chase & Co. World di New York City, Amerika Serikat (AS). (Foto: AFP / Johannes EISELE)

Chairman dan CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon pada Senin menyambut baik ditandatanganinya perjanjian perdagangan fase pertama AS-Tiongkok. “Saya pikir (perjanjian) ini memiliki substansi dan mendalam. Tiongkok juga masih memiliki ruang untuk tumbuh dan kami siap,” ujar Dimon.

Sumber mengatakan kepada Fox Business bahwa naskah perjanjian perdagangan fase pertama itu akan diunggah di laman USTR, bersamaan dengan penandatanganannya. (fur/jn)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA