Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Segenap karyawan PT Unilever Indonesia Tbk.  melalui penggalangan sejak Maret lalu, berhasil terkumpul dana Rp1,8 miliar untuk dikonversikan menjadi lebih dari 52.000 paket makanan yang secara bertahap disalurkan ke tenaga kesehatan melalui sebuah inisiatif bernama Meals for Meals.

Segenap karyawan PT Unilever Indonesia Tbk. melalui penggalangan sejak Maret lalu, berhasil terkumpul dana Rp1,8 miliar untuk dikonversikan menjadi lebih dari 52.000 paket makanan yang secara bertahap disalurkan ke tenaga kesehatan melalui sebuah inisiatif bernama Meals for Meals.

Kiat Unilever Pacu Pertumbuhan

Jumat, 25 September 2020 | 04:57 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Pandemi Covid-19 yang berimbas pada penjualan di beberapa segmen bisnis PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) berpotensi menekan tingkat pertumbuhan kinerja keuangan perseroan tahun ini.

Sedangkan perubahan gaya hidup masyarakat bisa menjadi katalis positif bagi kinerja Unilever ke depan.  

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin mengungkapkan, meskipun sektor konsumsi diperkirakan paling minim terimbas pandemi Covid-19, beberapa segmen bisnis, seperti usaha yang terkait perhotelan dan wisata, menunjukkan penurunan drastis selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah.

Penurunan sektor tersebut membuat satu dari beberapa bisnis perseroan melalui Unilever Foods Solutions (UFS) menghadapi tantangan berat sepanjang semester I-2020, seiring dengan anjloknya bisnis hotel dan wisata selama masa PSBB. UFS merupakan unit bisnis Unilever Indonesia yang membidik konsumen utama hotel, restoran, dan kafe (horeka).

Selain bisnis tersebut, Unilever Indonesia menghadapi tantangan berat pada segmen bisnis es krim selamamasa PSBB. Perseroan hanya mencatat pertumbuhan 1,5% di bisnis tersebut pada semesterI-2020 dibandingkan perkiraan yang mencapai 4,7% tahun ini.

“Dengan keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperketat PSBB, kami memilih untuk memangkas proyeksi penjualan UnileverIndonesia tahun ini menjadi lebih konservatif,” tulis Mimi dalam riset terbaru.

Logo Unilever terlihat di kantor pusat di Rotterdam, Belanda. ( Foto: Reuters )
Logo Unilever terlihat di kantor pusat di Rotterdam, Belanda. ( Foto: Reuters )

Terkait margin keuntungan kotor (gross margin), Mimi menyebutkan bahwa unit bisnis Food & Refreshments (F&R) perseroan pada kuartal II-2020 turun menjadi 34,8% dibandingkan kuartal II-2019 dan kuartal I-2020 yang di atas 40%. Penurunan tersebut dipicu oleh kenaikan harga bahan baku kelapa dan gula.

Meski demikian, margin keuntungan perseroan diharapkan mulai membaik pada kuartal III tahun ini. Hal itu diharapkan membuat margin keuntungan kotor perseroan akan meningkat pada kuartal III tahun ini, sehingga margin kotor perseroan diharapkan meningkat tipis menjadi 51,4% sepanjang tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu 51,3%. Mengenai belanja iklan, promosi,dan penelitian diperkirakan meningkat pada semester II-2020 dibandingkan realisasi semester I-2020.

Peningkatan tersebut sejalan dengan asumsi perbaikan ekonomi Indonesia pada paruh kedua tahun ini. Peningkatan belanja tersebut juga seiring upaya perseroan untuk meluncurkan produkproduk baru yang berhubungan dengan  keberhasilan menghadapi pandemi.

Peluncuran produk tersebut diharapkan terus berlanjut sampai akhir tahun ini, setidaknya produk yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat atau produk yang dibutuhkan masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Sebanyak 1.300.000 buah produk Unilever seperti Lifebuoy, Wipol, SariWangi dan Buavita senilai total Rp7,2 miliar disalurkan melalui PMI kepada 249.952 kepala keluarga (KK) di 3 provinsi.
Sebanyak 1.300.000 buah produk Unilever seperti Lifebuoy, Wipol, SariWangi dan Buavita senilai total Rp7,2 miliar disalurkan melalui PMI kepada 249.952 kepala keluarga (KK) di 3 provinsi.

Mirae Asset Sekuritas memangkas target laba bersih Unilever tahun ini dari Rp 7,78 triliun menjadi Rp 7,48 triliun dibandingkan realisasi tahunlalu senilai Rp 7,39 triliun.

Begitu juga dengan perkiraan pendapatan tahun 2020 direvisi turun dari Rp 44,93 triliun menjadi Rp 43,9 triliun. Mirae juga merevisi turuntarget kinerja keuangan Unilever tahun 2021 dengan perkiraan laba bersih dipangkas dari Rp 8,36 triliun menjadi Rp 8,02 triliun. Perkiraan pendapatan juga direvisi turun dari Rp 48,67 triliun menjadi Rp 46,94 triliun.

“Meski kinerja keuangan Unilever Indonesia dipangkas lebih konservatif tahun ini, kami masih meyakini bahwa perseroan masih memiliki kekuatan untuk tetap bertahan di tengah pandemi,” jelas Mimi. Pemangkasan target kinerja keuangan Unilever Indonesia tahun ini mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk merevisi turun rekomendasi saham UNVR menjadi trading buy dengan target harga Rp9.300. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan P/E tahun ini sekitar 44,2 kali.

Produk Unilever di pasaran. Foto: dok ID
Produk Unilever di pasaran. Foto: dok ID

Sebelumnya, analis Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto mengungkapkan, Unilever Indonesia merupakan satu dari beberapa perusahaan yang diuntungkan oleh peningkatan gaya hidup kesehatan masyarakat di tengah pandemic Covid-19.

“Peningkatan kesadaran masyarakat atas kesehatan ditambah banyaknya aktivitas bekerja dari rumah akan berdampak positif terhadap permintaan sejumlah produk perseroan,” tulis dia dalam risetnya.

Sejumlah produk yang diperkirakan lanjutkan pertumbuhan akibat kondisi peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat, yaitu perawatan rumah, savory, dan produkproduk jus. Namun, penjualan sejumlah produk konsumsi, seperti es krim dan perawatan tubuh, kemungkinan menghadapi tantangan di tengah belum berakhirnya pandemi Covid-19.

Menurut Natalia, pandemic telah mengubah perilaku konsumsi masyarakat dalam 14-16 pekan terakhir, seperti lonjakan pembelanjaan secara online, peningkatan preferensi masyarakat untuk memasak di rumah atau mengonsumsi masakan sendiri yang berimbas terhadap kenaikan permintaan bahan-bahan memasak dan pertumbuhan gaya hidup sehat masyarakat.

Kondisi tersebut mendorong perseroan mulai ikut ambil bagian dari perubahan gaya hidup masyarakat tersebut melalui memasarkan produk baru sesuai dengan tren permintaan masyarakat. Di antaranya, memasarkan pembersih tangan dalam bentuk gel maupun krim, selain memperkuat penjualan sabun antiseptik.

Drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc. selaku Head of Sustainable Living Unilever Indonesia Foundation bersama Dr. drg. R. M. Sri Hananto Seno, Sp.BM (K)., MM selaku Ketua Pengurus Besar PDGI mengkampanyekan pentingnya sikat gigi malam di online conference peringatan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia 2020.
Drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc. selaku Head of Sustainable Living Unilever Indonesia Foundation bersama Dr. drg. R. M. Sri Hananto Seno, Sp.BM (K)., MM selaku Ketua Pengurus Besar PDGI mengkampanyekan pentingnya sikat gigi malam di online conference peringatan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia 2020.

Perseroan juga mulai memasarkan produk bahan-bahan memasak, seperti bumbu, kecap, dan saus, dengan ukuran tertentu. Meskipun terjadi perubahangaya hidup masyarakat yang berdampak terhadap kenaikan permintaan sejumlahproduk, pertumbuhan kinerja keuangan Unilever Indonesia diperkirakan lebih rendah tahun ini. Hal ini dipengaruhi oleh pelemahan pertumbuhan ekonomi nasional. Penjualan perseroan diproyeksikan hanya tumbuh mencapai 1,4% menjadi Rp 43,5 triliun.

Sedangkan berlanjutnya efisiensi biaya di tengah kenaikan pertumbuhan penjualan diharapkan berimbas terhadap laba bersih tahun ini.

Diproyeksikan margin kotor (gross margin) perseroan mencapai 51,4% tahun ini dibandingkan raihan tahun lalu sebesar 51,3%. Laba bersih perseroan juga akan terbantu oleh kebijakan pemerintah memangkas pajak perusahaan sebesar 3%. Hal ini diharapkan berdampak terhadap kenaikan laba bersih sebesar 5,3% menjadi Rp 7,79 triliun.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham UNVR dengan target harga Rp 9.100. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan P/E tahun ini sekitar 40 kali atau di bawah rata-rata dalam tiga tahun terakhir sekitar 41,6 kali. Target harga tersebut juga mempertimbangkan kuatnya tata kelola perusahaan.

Selain itu, target harga tersebut telah mempertimbangkan keputusan tim riset Danareksa Sekuritas untuk merevisi turun target kinerja keuangan Unilever Indonesia tahun 2020 dan 2021. Target pendapatan perseroan tahun ini direvisi turun dari Rp 45,3 triliun menjadi Rp 48,37 triliun, dibandingkan perolehan tahun lalu Rp 43,54 triliun.

Proyeksi laba bersih juga direvisi turun dari Rp 7,83 triliun menjadi Rp 7,78 triliun, dibandingkan pencapaian tahun 2019 senilai Rp 7,39 triliun.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN