Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kimia Farma. Foto: IST

Kimia Farma. Foto: IST

Kimia Farma Bagi Dividen 40%

Rabu, 28 April 2021 | 18:58 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akhirnya mulai kembali membagikan dividen sebesar 40% atau Rp 7,05 miliar untuk tahun buku 2020. Dengan jumlah saham yang beredar sebanyak 5.554.000.000, maka setiap pemegang saham berhak menerima dividen Rp 1,27 per lembar saham.

Pasalnya, tahun lalu manajemen memutuskan tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2019, sebab adanya rugi bersih pada 2019 sebesar Rp12,72 miliar.

“Kemampuan untuk pembayaran dividen ini tentunya melalui dari sumber kas internal, jumlahnya di angka Rp 7 miliar dari laba 2020,” kata Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo usai RUPST perseroan, Rabu (28/4).

Terkait jadwal dan tata cara pembagian dividen, perseroan memberikan wewenang dan kuasa kepada para direksi. Sedangkan, 60% dari sisa laba bersih 2020 atau Rp 10,58 miliar akan ditetapkan sebagai cadangan.

Tahun lalu, emiten BUMN Farmasi tersebut meraup laba Rp 17,64 miliar, atau berbanding terbalik dengan perolehan 2019 yang mencatatkan rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 12,72 miliar. Sementara, Kimia Farma membukukan pendapatan sebesar Rp 10 triliun pada 2020, naik 6,4% dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar Rp 9,4 triliun.

Soal kinerja keuangan, Kimia Farma tahun 2021 ini menargetkan pendapatan sebesar Rp 11,27 triliun, atau bertumbuh 12,7% dibandingkan perolehan tahun lalu yang sebesar Rp 10 triliun.

“Sektor potensialnya dari jasa layanan klinik diagnostika terutama dari jasa Covid dan program vaksinasi, dan segmen ritel dan distribusi, serta bisnis Kimia Farma di sisi manufaktur,” kata Direktur Pengembangan Bisnis Kimia Farma Imam Fathorrahman.

Untuk menjaga kinerja tahun ini, Kimia Farma memang sudah menyiapkan strategi mulai dari manufaktur yaitu dengan pengembangan produk Bahan Baku Obat (BBO) yang saat ini sudah mulai melakukan komersialisasi BBO ke industri farmasi untuk mendukung program Pemerintah yaitu terkait dengan peningkatan penggunaan produk dalam negeri atau Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Selain pengembangan BBO, juga dilakukan mapping fasilitas produksi dilanjutkan dengan penataan portofolio fasilitas produksi milik perseroan yang ditargetkan dapat meningkatkan efisiensi dari sisi proses produksi.

Perseroan, tambah Imam juga akan menambah fokus pada pengembangan ekspansi bisnisnya di wilayah Afrika dan Asia Tengah. Di mana, dua zona wilayah ini diakuinya akan menjadi driver penjualan perseroan.

Di sektor hilir, perseroan juga terus meningkatkan pelayanan kesehatan melalui jaringan ritel outlet Apotek dan Klinik serta Laboratorium Klinik Kimia Farma dengan optimalisasi integrasi digital healthcare.

“Dalam pengembangan bisnis kita kaji risk dan benefit-nya apakah akan tambah offline dan online. 2021 Kimia Farma akan rebranding Kimia Farma ritel outlet untuk tingkatkan pengalaman pelanggan dan penjualan,” ujar Imam.

Untuk memuluskan target bisnisnya di tahun ini, Kimia Farma mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 500 miliar. Dana tersebut, digelontorkan salah satunya untuk melakukan pengembangan terhadap layanan kesehatan digital Kimia Farma, yakni Kimia Farma Mobile.

Adapun, hingga kuartal I-2021, Kimia Farma telah membukukan penjualan sekitar Rp 2,3 triliun. Di mana, Rp 1,5 miliar diantaranya berasal dari bisnis offline tepatnya dari Kimia Farma Official Store, diluar Kimia Farma Mobile. “Opportunity super apps Kimia Farma diatas Rp 570 juta,” sebutnya.

Rights Issue

Kimia Farma. Foto ilustrasi: Defrizal
Kimia Farma. Foto ilustrasi: Defrizal

Di sisi lain, Verdi mengatakan, perseroan saat ini sedang melakukan kajian bersama PT BRI Danareksa Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas terkait dengan rencana untuk menambah modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue pada tahun ini. Rights issue ini untuk meningkatkan likuiditas saham KAEF di pasar.

Sebelumnya, dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 September 2019, Kimia Farma berencana menambah modal melalui HMETD atau rights issue. Jumlah saham yang ditawarkan perseroan sebanyak 1,57 miliar lembar saham. Namun, aksi korporasi tersebut urung dilaksanakan tahun lalu karena kondisi pasar yang sedang tidak bagus akibat pandemi.

Dana dari hasil aksi korporasi ini rencananya akan dipakai untuk modal kerja, pengembangan usaha perseroan dan entitas anak. Dampak dari rights issue ini bagi pemegang saham yang tidak menggunakan HMETD akan terkena dilusi atas persentase porsi kepemilikannya di Kimia Farma dari jumlah maksimum sebesar 22,14% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh.

Perseroan juga, ditambahkan Verdi, tidak menutup kemungkinan termasuk adanya peningkatan nilai aset (unlock value) terhadap anak usahanya.

“Yang memiliki potensial cukup bagus adalah Kimia Farma ritel dan khususnya klinik kesehatan dan laboratorium. Kita harapkan dalam waktu dekat setelah kajian itu terbentuk, kita akan menyampaikan k pemegang saham seri B dan seri A,” ujar dia.

Kemudian dalam RUPST tersebut juga diputuskan perubahan susunan pengurus Kimia Farma dimana RUPS menyetujui dan mengangkat Abdul Kadir sebagai komisaris utama serta Kamelia Faisal sebagai komisaris independen, Dwi Ary Purnomo sebagai komisaris, dan Lina Sari sebagai direktur keuangan dan manajemen risiko.

RUPST juga memberhentikan dengan hormat Alexander K Ginting sebagai komisaris utama, Nurrachman sebagai komisaris independen, Chrisma Aryani Albandjar sebagai komisaris dan Pardiman sebagai direktur keuangan terhitung sejak ditutupnya RUPST ini.

RUPST juga memutuskan mengubah nomenklatur direksi PT Kimia Farma Tbk yaitu direktur keuangan menjadi direktur keuangan dan manajemen risiko.

Sehingga susunan dan jabatan dewan komisaris dan direksi perseroan terbaru sebagai berikut komisaris utama Abdul Kadir, komisaris Dwi Ary Purnomo dan Subandi Sardjoko, komisaris independen Musthofa Fauzi dan Kamelia Faisal.

Lalu Direktur Utama Verdi Budidarmo, Direktur Keuangan & Manajemen Risiko Lina Sari, Direktur Pengembangan Bisnis Imam Fathorrahman, Direktur Produksi & Supply Chain Andi Prazos, dan Direktur Umum & Human Capital Dharma Syahputra.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN